PEMIKIRAN PENDIDIKAN HUMANISTIK DALAM ISLAM

18 Nov

Artikel ini sudah dimuat dalam Jurnal KAJIAN ISALAM, Vol. 3, Nomor 2, Agustus 2011, ISSN 2085-5710, hlm. 161-178

PEMIKIRAN PENDIDIKAN HUMANISTIK

DALAM ISLAM

 

Musthofa

Fakultas Tarbiyah IAIN Waliongo Semarang

Abstrak:

Pendidikan sebagai proses pemanusiawian manusia bersumber dari ajaran Islam dikenal dengan pendidikan humanistik-Islami. Hal ini sejalan dengan makna dasar humanisme sebagai pendidikan manusia. Sistem pendidikan dalam Islam yang dibangun atas dasar nilai-nilai humanistik sejak awal kemunculannya sesuai dengan esensinya sebagai agama kemanusiaan. Pendidikan humanistik-Islami adalah pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai humanisme Islam, yaitu liberasi, humanisasi, dan transendensi. Pemikiran ini menekankan pengembangan potensi manusia supaya mampu memerankan diri sebagai ‘abd Alla>h dan khali>fah Alla>h. Pendidikan ini ditujukan untuk membantu peserta didik dalam mengaktualisasikan potensinya supaya menjadi manusia mandiri dan kreatif yang sadar akan kehadiran Allah dalam dirinya.

 

Kata Kunci: transendensi,humanisasi, liberasi.

 

A.    Pendahuluan

Hakikat pendidikan sebagai proses pemanusiawian manusia (humanisasi) sering tidak terwujud karena terjebak pada penghancuran nilai kemanusiaan (dehumnisasi).[1] Hal ini merupakan akibat adanya perbedaan antara konsep dengan pelaksanaan dalam lembaga pendidikan. Kesenjangan ini mengakibatkan kegagalan pendidikan dalam mencapai misi sucinya untuk mengangkat harkat dan martabat manusia. Pendidikan belum berhasil memanusiawikan peserta didik.

Islam sebagai ajaran suci sangat memperhatikan kearifan kemanusiaan sepanjang zaman.[2] Ajaran Islam memberikan perlindungan dan jaminan nilai-nilai kemanusiaan kepada semua umat. Setiap muslim dituntut mengakui, memelihara, dan menetapkan kehormatan diri orang lain. Tuntutan ini merupakan cara mewujudkan sisi kemanusiaan manusia yang menjadi tugas pokok dalam membentuk dan melangsungkan hidup umat manusia.

Pendidikan sebagai proses pemanusiawian manusia (humanisasi) bersumber dari pemikiran humanisme. Hal ini sejalan dengan makna dasar humanisme sebagai pendidikan manusia.[3] Sistem pendidikan dalam Islam yang dibangun atas dasar nilai-nilai humanistik sejak awal kemunculannya sesuai dengan esensinya sebagai agama kemanusiaan. Islam menjadikan dimensi kemanusiaan sebagai orientasi pendidikannya. Sangatlah naif kalau dikatakan bahwa konsep pendidikan humanistik-Islami merupakan konsep pendidikan Barat yang diberi label Islam.

 

B.     Asal-usul Pendidikan Humanistik

Teori pendidikan humanistik yang muncul pada tahun 1970-an bertolak dari tiga toeri filsafat, yaitu: pragmatisme, progresivisme dan eksistensisalisme.[4] Ide utama pragmatisme dalam pendidikan adalah memelihara keberlangsungan pengetahuan dengan aktivitas yang dengan sengaja mengubah lingkungan.[5] Pendidikan (sekolah) merupakan kehidupan dan lingkungan belajar yang demokratis yang menjadikan semua orang berpartisipasi dalam proses pembuatan keputusan sesuai realitas masyarakat.

Pragmatisme memandang pendidikan (sekolah) seharusnya merupakan kehidupan dan lingkungan belajar yang demokratis yang menjadikan semua orang berpartisipasi dalam proses pembuatan keputusan sesuai realitas masyarakat. Pengaruh pemikiran ini sangat dirasakan dalam, bahkan menjadi faktor utama munculnya, teori/pemikiran humanisme dan progresivisme. Inti pragmatisme dalam pendidikan adalah bahwa: (1) Peserta didik (siswa) adalah subjek yang memiliki pengalaman. (2) Guru bukan orang yang tahu kebutuhan siswa untuk masa depannya. (3) Materi/kurikulum harus sesuai kebutuhan siswa yang menekankan proses daripada materi. (4) Metode pembelajaran harus memberikan kebebasan kepada siswa untuk mencari pengalaman belajar yang berguna. (5) Kebijakan pendidikan mengikuti arus perubahan sosial.[6]

Adapun ide progresivisme yang sangat dipengaruhi oleh pragmatisme itu sangat menekankan adanya kebebasan aktualisasi diri bagi peserta didik supaya kreatif. Faham ini menekankan terpenuhi kebutuhan dan kepentingan anak. Anak harus aktif membangun pengalaman kehidupan. Belajar tidak hanya dari buku dan guru, tetapi juga dari pengalaman kehidupan.[7] Dasar orientasi teori progresivisme adalah perhatiannya terhadap anak sebagai peserta didik dalam pendidikan.

Sebagai sebuah teori pendidikan, progresivisme menekankan kebebasan aktualisasi diri supaya kreatif sehingga menuntut lingkungan belajar yang demokratis dalam menentukan kebijakannya. Kalangan progresivis berjuang untuk mewujudkan pendidikan yang lebih bermakna bagi kelompok sosial. Progresivisme menekankan terpenuhi kebutuhan dan kepentingan anak. Anak harus aktif membangun pengalaman kehidupan. Belajar tidak hanya dari buku dan guru, tetapi juga dari pengalaman kehidupan.

Progresivisme pendidikan ini  menjadi teori dominan dalam pendidikan Amerika dari dekade 1920-an hingga 1950-an. Karena kekuatan pengaruhnya, Knight mencatat, di antara alasan hilangnya eksistensi teori ini adalah karena ide atau gagasan dan program pendidikan progresif telah diadopsi oleh teori lain yang mengembangkannya.[8] Ide progresivisme tersebut selanjutnya diperbarui dalam pendidikan humanistik.

Pengaruh terakhir munculnya pendidikan humanistik adalah eksistensialisme yang pilar utamanya adalah invidualisme. Teori eksistensialisme lebih menekankan keunikan anak secara individual daripada progresivisme yang cenderung memahami anak dalam unit sosial. Anak sebagai individu yang unik. Pandangan tentang keunikan individu ini mengantarkan kalangan humanis untuk menekankan pendidikan sebagai upaya pencarian makna personal dalam eksistensi manusia. Pendidikan berfungsi untuk membantu kedirian individu supaya menjadi manusia bebas dan bertanggung jawab dalam memilih. Kebebasan manusia merupakan tekanan para eksistensialis.[9] Dengan kebebasan tersebut peserta didik akan dapat mengaktualisasikan potensinya secara maksimal.

Kaum eksistensialis memandang sistem pendidikan yang ada itu dinilai membahayakan karena tidak mengembangkan individualitas dan kreativitas anak. Sistem pendidikan tersebut hanya mengantarkan mereka bersikap konsumeristik, menjadi penggerak mesin produksi, dan birokrat modern. Kondisi ini mematikan sifat-sifat kemanusiaan. Bagi kaum eksistensialis, perhatian utama pendidikan adalah membantu kedirian peserta didik untuk sampai pada realisasi yang lebih utuh sebagai individu yang memiliki kebebasan, bertanggung jawab, dan memiliki hak memilih. Aliran ini memberikan semangat dan sikap yang bisa diterapkan dalam kegiatan pendidikan.

Pemikiran pendidikan ini mengantarkan pandangan bahwa anak adalah individu yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi sehingga muncul keinginan belajar. Apabila lingkungan baik (kondusif untuk belajar), maka anak akan terdorong untuk belajar sendiri. Karena itu, pendidikan harus menciptakan iklim atau kondisi yang kondusif untuk belajar. Ketidakmauan anak untuk belajar disebabkan oleh kesalahan lingkungan yang kurang mendukung untuk dapat berperan aktif. Konsep menjadi penopang terbentuknya pemikiran pendidikan humanistik. Hal ini sesuai dengan pandangan bahwa eksistensialisme adalah suatu humanisme[10] sehingga konsep ini menjadi penopang terbentuknya pemikiran pendidikan humanistik.

 

C.    Humanisme sebagai Pendekatan Pendidikan Islam

Pemikiran filosofis dari eksistensialisme dan pragmatisme yang didukung dengan pengembangan dan pembaruan pemikiran teori progresivisme menghasilkan pemikiran baru berupa pendidikan humanistik. Ide kedua filsafat dan teori pendidikan tersebut berpusat pada nilai-nilai kemanusiaan. Nilai kemanusiaan dalam pragmatisme terletak pada otoritas masyarakat, sedangkan dalam eksistensialisme berada dalam peran individu.[11] Karena itu, filsafat pragmatisme dan eksistensialisme merupakan sumber inspirasi munculnya pendidikan humanistik.

Dalam istilah/nama pendidikan humanistik, kata “humanistik” pada hakikatnya adalah kata sifat yang merupakan sebuah pendekatan dalam pendidikan.[12] Pendidikan humanistik sebagai sebuah nama pemikiran/teori pendidikan dimaksudkan sebagai pendidikan yang menjadikan humanisme sebagai pendekatan. Pengembangan potensi peserta didik dan pemanfaatan kesempatan secara optimal menjadi pendekatan dalam pendidikan. Esensi semua teori/model pendidikan adalah sama, meskipun dengan nama yang beraneka ragam, seperti pendidikan partisipatif, pendidikan integralistik, pendidikan progresif, pendidikan pembebasan, dan lain-lain, yaitu pengembangan potensi manusia.

Penekanan atau pemusatan pendidikan pada anak secara individual ini dipertegas oleh para psikolog eksistensial atau humanistik, seperti Carl Rogers, Abraham Maslow, dan Arthur Combs. Mereka adalah tokoh yang memunculkan teori pendidikan humanistik. Knight menyimpulkan pemikirannya tentang pendidikan ini sebagai “helping the student become ‘humanized’ or ‘self-actualized’ –helping the individual student discover, become, and develop his real self and his full potential”.[13] Pendidikan dipandang sebagai bantuan kepada anak supaya menjadi manusiawi. Mereka dapat mengaktualisasikan diri dengan cara menemukan dan mengembangkan jati diri dan potensinya secara optimal sehingga menjadi manusia yang sesungguhnya.

Konsep utama dari pemikiran pendidikan humanistik menurut Mangunwijaya adalah menghormati harkat dan martabat manusia.[14] Konsep ini secara lebih rinci dinyatakan Knight, “Central to the humanistic movement in education has been a desire to create learning environment where children would be free from intense competition, harsh discipline, and the fear of filure.[15] Hal mendasar dalam pendidikan humanistik adalah keinginan untuk mewujudkan lingkungan belajar yang menjadikan peserta didik terbebas dari kompetisi yang hebat, kedisiplinan yang tinggi, dan ketakutan gagal. Freire mengatakan; “Tidak ada dimensi humanistik dalam penindasan, juga tidak ada proses humanisasi dalam liberalisme yang kaku.”[16]

Konsep ini senada dengan pandangan Mazhab Kritis:

Pendidikan dimaknai lebih dari sekedar persoalan penguasaan teknik-teknik dasar yang diperlukan dalam masyarakat industri tetapi juga dioerientasikan untuk lebih menaruh perhatian pada isu-isu fundamental dan esensial, seperti meningkatkan harkat dan martabat kemanusiaan, menyiapkan manusia untuk hidup di dan bersama dunia, dan mengubah sistem sosial dengan berpihak kepada kaum marjinal.[17]

Hakikat pendidikan menurut Mastuhu adalah mengembangkan harkat dan martabat manusia (human dignity) atau memperlakukan manusia sebagai humanizing human sehingga menjadi manusia yang sesungguhnya.[18] Karena itu, pola hubungan perlawanan antara pendidik dengan peserta didik yang sering muncul dalam pendidikan harus diubah. Pendidikan harus menumbuhkan kepercayaan dan rasa aman. Dengan cara tersebut, peserta didik terhidar dari ketakutan sehingga menumbuhkan kreativitas.

Pendidikan humanistik menekankan pencarian makna personal dalam eksistensi anak.[19] Peserta didik bebas menentukan tujuan pendidikan sesuai kebutuhan dan minatnya. Pencapaian tujuan ini menuntut adanya keterbukaan dan penggunaan imajinasi dan eksperimentasi. Karena itu, pendidik dianjurkan mengemas proses pendidikan sebagai bentuk kerja sama antarindividu dan kelompok kecil. Pendidik bukanlah sebagai pemberi ujian. Tujuan tersebut menjadi acuan dalam merumuskan sistem pendidikan sehingga dapat mewujudkan cita-cita pendidikan yang mampu mengantarkan peserta didik menjadi manusia teraktulasasikan potensinya dengan optimal.

Dengan demikian, konsep pendidikan humanistik di Barat menuntut adanya kebebasan supaya harkat dan martabat manusia (peserta didik) terjamin. Kebebasan tidak akan terjadi manakala seorang peserta didik terisolasi oleh hal-hal di luar dirinya. Kebebasan dalam pendidikan humanistik di Barat tidak dibatasi oleh aturan atau nilai apa pun termasuk nilai-nilai dari ajaran agama. Kebebasan yang lepas dari kontrol ajaran agama (sekuler) memungkinkan terjadinya perbuatan yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan atas nama kebebasan. Prinsip kebebasan dalam pendidikan inilah yang membedakannya dari konsep ajaran agama. Dalam humanisme religius, pendidikan diarahkan untuk menjadikan pendekatan kepada Tuhan melalui pengalaman manusia. Meski ada kesamaan dengan pendidikan sekuler, akan tetapi pendidikan keagamaan memiliki nilai tambah.[20] Nilai tambah ini merupakan kelebihannya, yaitu sandaran pada nilai-nilai spiritual guna mewujudkan manusia yang sebenarnya seperti arah pendidikan humanistik dalam Islam.

 

D.    Konsep Pendidikan Humanistik dalam Islam

Dalam Islam, pemikiran pendidikan humanistik bersumber dari misi utama kerasulan Muhammad, yaitu memberikan rahmat dan kebaikan kepada seluruh umat manusia dan alam semesta (Q.S. Saba>’/34: 28 dan al-Anbiya>’/21: 107). Spirit ayat inilah yang mengilhami pemikiran pendidikan yang dikembangkan menjadi pendidikan humanistik yang juga disebut pendidikan humanistik-Islami.

Istilah “pendidikan humanistik-Islami” mencakup dua konsep pendidikan yang ingin diintegrasikan, yakni pendidikan humanistik dan pendidikan Islam. Dalam pengintegrasian dua konsep pendidikan ini dimaksudkan juga untuk mengurangi kelemahannya. Pendidikan humanistik yang menekankan kemerdekaan individu diintegrasikan dengan pendidikan religius (Islam) agar dapat membangun kehidupan sosial yang menjamin kemerdekaan dengan tidak meninggalkan nilai ajaran agama. Kemerdekaan individu dalam pendidikan humanistik-Islami dibatasi oleh nilai ajaran Islam. Nilai-nilai agama diharapkan menjadi pendorong perwujudan nilai-nilai kemanusiaan. Pemisahan antara kedua konsep tersebut akan menyebabkan tidak terwujudnya nilai-nilai humanisme Islam dalam sistem pendidikan.

Kata “Islam” dalam istilah tersebut tidak dimaksudkan untuk mendikotomikannya dari jenis pendidikan lain, meskipun dengan sendirinya memasuki wilayah perbedaan antara keduanya. Lafal “Islam” hanya untuk menegaskan bahwa kajiannya didasarkan pada nilai-nilai atau ajaran Islam. Karena itu, “pendidikan humanistik-Islami” hanyalah merupakan suatu model pendidikan yang bersumber dari nilai-nilai ajaran Islam yang pelaksanaannya menggunakan humanisme sebagai pendekatan. Pendidikan ini menjadikan humanisme Islam sebagai pijakan dalam pelaksanaannya.

Pendidikan dalam arti luas, menurut Zamroni, merupakan proses yang berkaitan dengan upaya mengembangkan diri seseorang pada tiga aspek kehidupan, yakni pandangan hidup, sikap hidup, dan ketrampilan hidup.[21] Pendidikan berperan menyiapkan generasi muda untuk menjalankan kehidupan dan memenuhi tujuan hidupnya secara lebih efektif dan efisien. Pendidikan membimbing dan membentuk diri manusia menuju masa depan yang gemilang.

Sistem pendidikan di Indonesia diharapkan mampu menghasilkan manusia yang memiliki kemampuan dan kreativitas berdasarkan nilai-nilai moral yang mulia untuk kebaikan hidup sesuai nilai-nilai kemanusiaan dalam rangka pengabdian dirinya kepada Tuhan. Karena itulah,  dalam UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 Pasal 1 dinyatakan:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Konsep pendidikan dalam undang-undang tersebut telah diupayakan menjamin nilai, harkat, dan martabat peserta didik sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan. Sistem pendidikannya diarahkan menuju terwujudnya pendidikan yang humanistik. Humanisme sebagai sebuah pendekatan dalam pendidikan membentuk teori yang disebut pendidikan humanistik.

Pendidikan humanistik dalam The Encyclopedia of Education, didefinisikan Olafson sebagai berikut:

… a humanistic education –that is, an education shaped by these guiding assumptions of humanism– will be a nonspecialist or general education, an education in humanity rather than in the knowledge peculiar to a distinct profession. Accordingly, each interpretation of the distinctively human powers could in principle generate a corresponding form a nonspecialist education entitled to be called humanistic.[22]

Pendidikan humanistik (humanistic education)adalah pendidikan yang bersumber dari asumsi ajaran humanisme. Model pendidikan ini lebih merupakan pendidikan kemanusiaan daripada pendidikan tentang pengetahuan-pengetahuan yang khusus untuk profesi tertentu. Pendidikan humanistik adalah pendidikan umum sehingga bukan pendidikan spesialis. Penafsiran terhadap kekuatan manusia yang unik pada dasarnya dapat menghasilkan bentuk yang sama dengan pendidikan non-spesialis yang disebut dengan humanistik.

Karena itu, kecenderungan/harapan yang berada di luar diri (tidak dikehandaki) peserta didik tidak menjadi perhatian model pendidikan ini. Pendidikan humanistik tidak boleh memaksakan kehendak kepada anak. Sejalan dengan batasan tersebut, Knight memberikan ciri utama pendidikan humanistik dengan pernyataan, “Educational humanism has placed even more stress on the uniqueness of individual child ….[23] Pendidikan humanistik lebih menekankan keunikan individu. Orientasi yang tidak sesuai potensi/keunikan anak tidak menjadi sasaran pendidikan humanistik.

Pengembangan potensi ditujukan pada ciri utama manusia, berupa kemampuan diberi motivasi guna mencapai tujuan pendidikan. Pendidikan ini dalam pandangan Maslow memberikan tekanan lebih besar pada pengembangan potensi seseorang, terutama potensinya untuk menjadi manusiawi, memahami diri dan orang lain serta berhubungan dengan mereka, mencapai pemuasan atas kebutuhan-kebutuhan dasar manusia, tumbuh ke arah aktualisasi diri. Pendidikan ini akan membantu orang menjadi pribadi yang sebaik-baiknya sesuai kemampuannya.[24] Dengan teraktualisasinya potensi itu, manusia akan menjadi manusia yang sesungguhnya.

Dengan demikian, hubungan humanisme dengan pendidikan berkisar pada asumsi etis yang diasosiasikan dengan konsep yang ditawarkan kalangan humanis tentang kemampuan manusia. Manusia diasumsikan sebagai sumber kesempurnaan dan kebaikan. Sifat baik itu dimiliki setiap orang yang memiliki kesempatan dan kemampuan intelektual untuk menerima pendidikan. Untuk itu, teori pendidikan harus didasarkan pada identifikasi yang sebenarnya tentang manusia dan merancang pembelajaran yang akan menyempurnakan kemampuannya berdasar atas nilai kemanusiaan tersebut.

Dalam Islam, pemikiran pendidikan humanistik bersumber dari misi utama kerasulan Muhammad, yaitu memberikan rahmat dan kebaikan kepada seluruh umat manusia dan alam semesta (Q.S. Saba>’/34: 28 dan al-Anbiya>’/21: 107). Spirit ayat inilah yang mengilhami pemikiran pendidikan yang dikembangkan menjadi pendidikan humanistik. Pendidikan Islam yang dibangun atas dasar sifat dan karakteristik dan nilai-nilai humanisme disebut pendidikan humanistik-Islami. Pemikiran ini merupakan sebuah hasil interpretasi atau ijtihad para cendekiawan muslim ahli pendidikan tentang upaya mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi dasar humanisme Islam. Hal ini menunjukkan titik sinkron antara konsep pendidikan Islam dan makna dasar humanisme (humanitas) yang berarti pendidikan bagi manusia.

Pendidikan humanistik dalam Islam didefinisikan oleh Rahman sebagai “proses pendidikan yang lebih memperhatikan aspek potensi manusia sebagai makhluk sosial dan makhluk religius, ‘abdullah dan khalifatullah, serta sebagai individu yang diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mengembangkan potensi-potensinya”.[25] Pendidikan humanistik-Islami akan merealisasikan tujuan humanisme Islam, yaitu keselamatan dan kesempurnaan manusia karena kemuliaannya.[26] Sistem pendidikan ini akan membentuk peserta didik menjadi ‘abd Alla>h dan khalifah Alla>h sebagai manusia mulia. Pemikiran pendidikan ini Pendidikan humanistik memandang manusia sebagai manusia, yakni makhluk ciptaan Allah dengan fitrah-fitrah tertentu. Hal ini ditandai dengan kepemilikan hak hidup dan hak asasi manusia.

Pengembangan potensi ini hanya mungkin terwujud bila pelaksanaan pendidikan didasarkan pada prinsip humanisme, yaitu terlindunginya nilai-nilai hidup, harkat, dan martabat manusia. Perlindungan ini berfungsi untuk menjamin potensi anak didik supaya bisa teraktulisasi secara maksimal. Pendidikan humanistik dalam Islam berupaya memahami kebenaran, kebaikan universal, dan aktualisasi diri lebih jauh ke kehidupan spiritual (dimensi vertikal), di samping memahami realitas dan permasalahan kehidupan manusia (dimensi horizontal) dalam kehidupan bersama.

Dimensi vertikal ini sejalan dengan pemikiran perenialisme yang menekankan pendidikan sisi rasio (akal) manusia.[27] Pengembangan akal berfungsi untuk mengontrol nafsu yang mengajak kepada perbuatan jahat. Pandangan ini membawa kepada perbaikan akhlak dan perubahan karakter, di samping perolehan ilmu pengetahuan. Dalam pendidikan Islam, akhlak lebih dipentingkan daripada ilmu. Pandangan inilah yang menjadi jiwa humanisme Islam. Akan tetapi, dalam membangun kebaikan akhlak itu sering menyebabkan otoritas guru yang berlebihan sehingga mengakibatkan anak terkekang dan tidak bisa kreatif. Pendidikan keagamaan klasik cenderung memiliki tujuan untuk membangun karakter atau akhlak mulia sebagai misi utama diutusnya rasul.

Pengembangan potensi pada hakikatnya merupakan makna dasar dari lafal tarbiyah yang menjadi istilah kunci dalam kajian tentang konsep pendidikan dalam Islam. Ibn Manz}u>r memaknai tarbiyah dengan menumbuhkan, menambah, mengembangkan, menyiapkan, menyempurnakan, dan menjadikan bagus. Aktivitas pengembangan dalam pendidikan adalah menjadikan baik.[28]  Sayyid Qut}b memandang konsep tarbiyah memiliki maksud yang lebih dalam dan komprehensif (seperti dalam Q.S. al-Isra>’/17: 24). Tarbiyah berarti pemeliharaan jasmani/badan manusia dan membantu menumbuhkan kematangan sikap mental sebagai pancaran akhlak mulia pada dirinya.[29] ‘Abba>s Mah}ju>b dalam Us}u>l al-Fikr al-Tarbawi>y fi> al-Isla>m memaknai tarbiyah sebagai pengembangan potensi.[30] Pendidikan sebagai upaya pengembangan potensi manusia sesuai dengan misi gerakan humanisme menekankan diri dan kemampuan individu untuk merealisasikan potensinya.

Konsep tarbiyah secara substansial dinilai al-Bani sebagai upaya menumbuhkembangkan potensi peserta didik dengan berbagai sarana pendukungnya menuju kesempurnaan yang optimal yang dilaksanakan secara bertahap sesuai irama perkembangan dirinya.[31] Upaya ini sesuai dengan makna pendidikan sebagai pemberdayaan.[32]

Pendidikan berperan sebagai pemberdayaan. Pengembangan potensi peserta didik merupakan upaya memberdayakan manusia supaya tumbuh kemandirian dan kepribadian sesuai keunikan yang dimiliki. Tugas pendidikan Islam adalah mengembangkan potensi dan membantu pertumbuhan kematangan sikap mental mulia dengan penuh kasih sayang sehingga menjadi manusia baik. Konsep ini menjadi dasar upaya menghindari proses dehumanisasi dalam pendidikan Islam.

Meski demikian, al-Attas menilai makna tarbiyah sebagai pengembangan potensi lebih mencerminkan pengaruh konsep Barat dalam istilah education, yakni pendidikan sebagai pengembangan individu dalam aspek fisik yang bersifat material sehingga tidak cocok untuk pendidikan Islam.[33] John Dewey, seorang filsuf Barat kenamaan, mengatakan, “Etymologically, the word education means just a process of leading or bringing up.[34]Penilaian al-Attas ini relevan dengan pandangan Bigge dalam Learning Theories for Teachers, bahwa tujuan pendidikan Barat adalah membantu perkembangan daya dorong anak untuk memanfaatkan potensi yang dimiliki dan kemampuannya mengatasi problem yang dihadapi.[35]

Atas dasar itulah, al-Attas mengusulkan agar konsep tarbiyah diganti dengan ta’di>b (penanaman adab). Menurutnya, istilah ta’di>b sudah mencakup unsur ‘ilm (ilmu), ta’li>m (pengembangan ilmu, pembelajaran), dan tarbiyah (pengasuhan atau pembinaan yang baik).[36] Istilah ta’di>b menurut Ibn Manz\u>rberarti mendidik manusia berperilaku terpuji dan mencegahnya berbuat tercela. Ta’di>b juga berarti ta‘li>m (mengajar).[37]

Al-Attas mendasarkan konsep ta’di>b pada sebuah Hadis Nabi: Addaba-ni> Rabbi> fa-ah}sana ta’di>bi>.[38] Kandungan ta’di>b adalah akhlak. Ta’di>b dimaksudkan dengan mendidik yang lebih tertuju kepadapembinaan dan penyempurnaan akhlak. Konsep ini sesuai dengan tema sentral humanisme Islam, yaitu kebaikan akhlak. Hal ini berbeda dengan humanisme Barat yang pendidikannya ditujukan hanya untuk pengembangan diri yang matang (self actualization).[39] Akhlak mulia tidak sama dengan moralitas di Barat. Itulah hakekat pengembangan potensi dalam paradigma pendidikan Islam.

Pengembangan potensi ini hanya mungkin terwujud bila pelaksanaan pendidikan didasarkan pada prinsip humanisme, yaitu terlindunginya nilai-nilai hidup, harkat, dan martabat manusia. Perlindungan ini berfungsi untuk menjamin potensi anak didik supaya bisa teraktulisasi secara maksimal. Pendidikan humanistik dalam Islam berupaya memahami kebenaran, kebaikan universal, dan aktualisasi diri lebih jauh ke kehidupan spiritual (dimensi vertikal), di samping memahami realitas dan permasalahan kehidupan manusia (dimensi horizontal) dalam kehidupan bersama. Dengan demikian, pendidikan humanistik-Islami adalah pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai humanisme Islam, yaitu liberasi, humanisasi, dan transendensi. Berdasarkan itulah prinsip-prinsip pendidikan humanistik Islami dapat dirumuskan, yaitu:

 

1. Proses sebagai Proses Humanisasi

Menurut Kuntowijoyo, humanisasi ditujukan untuk memanusiawikan manusia. Ilmu dan teknologi telah membantu kecenderungan pandangan manusia secara parsial. Ekses dari kemajuan iptek mengantarkan manusia tertindas olehnya. Terjadinya dehumanisasi disebabkan oleh karena masyarakat industrial yang mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan.

Dalam Islam, pendidikan humanistik dimaksudkan sebagai proses pendidikan yang menekankan pengembangan potensi peserta didik supaya terktualisasi secara optimal sehingga menjadi manusia rabba>ni>yang mampu berperan sebagai ‘abdulla>h (hamba Allah) sekaligus sebagai khali>fah Alla>h (wakil Tuhan) di muka bumi. Sebagai khali>fah, manusia memiliki keinginan bebas untuk diwujudkan, memiliki kemampuan berfikir dan memahami, imajinasi, kreasi, dan bertindak untuk mengembangkan kehidupannya di dunia. Adapun status ‘abdulla>h menunjukkan manusia memiliki kesediaan untuk mengabdi kepada Tuhan dan kerendahan hati terhadap sesama manusia.

Atas dasar itulah, humanisme menjadi bagian integral dari ajaran Islam. Hakikat pendidikan Islam adalah pendidikan humanis. Di sinilah nampak upaya pendidikan Islam sebagai institusi agama yang menghargai dan menjunjung tinggi nilai, harkat, dan martabat manusia. Semua itu membawa kedamaian, persamaan, persaudaraan, keadilan, dan pembebasan manusia sehingga terbentuk masyarakat global yang menebarkan rahmat bagi kehidupan (rah}mah li al-‘a>lami>n). Pendidikan humanistik-Islami membawa misi ajaran tersebut.

Pendidikan humanistik menjadi pengembangan fitrah manusia. Islam memandang fitrah bukan tabula rasa (manusia tanpa bakat, bekal, atau kemampuan). Fitrah merupakan pemberian dari Allah yang berisi potensi baik dan potensi buruk. Potensi ini akan berkembang dan teraktualisasi dalam kehidupan tergantung pada pendidikan dan budaya. Kalau manusia tepat mengembangkan potensi positif akan dekat dengan sifat ilahiah. Sebaliknya bila yang berkembang itu potensi jahatya, manusia akan bisa lebih jahat daripada setan. Tugas pendidikan adalah mengurangi atau bahkan menghilangkan potensi jahat dan mengembangkan potensi baiknya. Pendidikan humanistik bertolak dari fitrah manusia dalam mengaplikasikan, mengembangakan, dan menanamkan nilai-nilai universal dalam diri manusia sehingga menjadi manusia yang sesungguhnya.

 

2. Pendidikan sebagai Proses Liberasi

Tujuan liberasi adalah pembebasan manusia dari kekejaman kemiskinan dan keangkuhan teknologi. Tujuan ini akan menjadikan satu rasa dengan si miskin yang ditindas oleh kekuatan ekonomi raksasa. Pendidikan humanistik-Islami memandang manusia sebagai makhluk mulia dan bertanggung jawab atas pilihan dan tindakannya yang memiliki kebebasan mengembangkan diri sesuai dengan keinginannya sehingga terbebas dari belenggu pihak lain, namun mereka tetap memiliki kerendahan hati dan ketundukan pada kekuasaan Tuhan. Pendidikan yang menjamin harkat dan martabat manusia  ini sebenarnya telah dikonsepkan sejak awal kelahiran Islam sesuai dengan ayat tentang kejadian manusia sebagai makhluk mulia.

Pendidikan humanistik-Islami berupaya membebaskan manusia dari kemiskinan, kebodohan, dan kebutaan spiritual yang menjadi musuh humanisme. Kemiskinan tidak hanya mendorong pengingkaran pemenuhan hidup manusia yang kesejahteraan material, tetapi juga menghambat pemenuhan kebutuhan intelektual dan spiritual. Adapun kebodohan mendorong manusia tidak bisa berpikir kreatif dan kritis dalam memecahkan masalah hidupnya. Sikap fatalistik, menyerah terhadap penderitaan sebagai nasib yang harus diterima, merupakan bentuk kebodohan.

Dengan demikian, konsep pendidikan humanistik di Barat menuntut adanya kebebasan supaya harkat dan martabat manusia (peserta didik) terjamin. Freire mengatakan; “Tidak ada dimensi humanistik dalam penindasan, juga tidak ada proses humanisasi dalam liberalisme yang kaku.”[40] Kebebasan tidak akan terjadi manakala seorang peserta didik terisolasi oleh hal-hal di luar dirinya. Kebebasan dalam pendidikan humanistik di Barat tidak dibatasi oleh aturan atau nilai apa pun termasuk nilai-nilai dari ajaran agama. Kebebasan yang lepas dari kontrol ajaran agama (sekuler) memungkinkan terjadinya perbuatan yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan atas nama kebebasan. Prinsip kebebasan dalam pendidikan inilah yang membedakannya dari konsep ajaran agama. Dalam humanisme religius, pendidikan diarahkan untuk mendekatkan kepada Tuhan melalui pengalaman manusia. Meski ada kesamaan dengan pendidikan sekuler, akan tetapi pendidikan keagamaan memiliki nilai tambah.[41] Nilai tambah ini merupakan kelebihannya, yaitu sandaran pada nilai-nilai spiritual guna mewujudkan manusia yang sebenarnya seperti arah pendidikan humanistik dalam Islam.

Pendidikan humanistik yang menekankan kemerdekaan individu diintegrasikan dengan pendidikan religius (Islam) agar dapat membangun kehidupan sosial yang menjamin kemerdekaan dengan tidak meninggalkan nilai ajaran agama.[42] Kemerdekaan individu dalam pendidikan humanistik-Islami dibatasi oleh nilai ajaran Islam. Nilai-nilai agama diharapkan menjadi pendorong perwujudan nilai-nilai kemanusiaan. Pemisahan antara kedua konsep tersebut akan menyebabkan tidak terwujudnya nilai-nilai humanisme Islam dalam sistem pendidikan.

 

3. Pendidikan sebagai Proses Transendensi

Adapun transendensi ditujukan untuk menambahkan dimensi transendental dalam hidup manusia. Pola hidup hedonis, materialis, dan budaya yang negatif harus dibersihkan dengan mengingat kembali dimensi spiritual yang menjadi fitrah manusia.[43] Pemikiran pendidikan humanistik dalam Islam bertolak dari nilai-nilai spiritual. Pemenuhan kebutuhan manusia seperti aktualisasi diri, harga diri, sosial, keamanan, dan material diletakkan pada nilai-nilai keimanan dan ketakwaan kepada Allah.

Keseimbangan kedua dimensi tersebut menjadi prinsip pendidikan humanistik-Islami. Orientasi sistem pendidikan itu sejalan dengan konsep pendidikan Islam yang inheren dalam konotasi istilah tarbiyah, ta’li>m, dan ta’di>b. Konsep pendidikan yang didasarkan pada ketiga terma itu mengandung makna yang amat dalam berkenaan dengan manusia, masyarakat dan lingkungan dalam rangka pengabdian kepada Allah.[44] Pemikiran tentang humanisasi sistem pendidikan Islam selayaknya mengacu pada ketiga konsep pendidikan itu. Hal ini sesuai dengan tuntutan peradaban pascamodern yang berusaha menemukan kembali keunikan dan akar spiritual kemanusiaan.

Adapun kebutaan spiritual menjadikan manusia mudah terbelenggu keserakahan material. Pendidikan humanistik-Islami tidak cukup hanya diarahkan pada tugas membebaskan manusia dari belenggu kehidupan material dan intelektual, tapi juga harus membebaskan manusia dari belenggu spiritual. Konsep inilah yang harus diaktualisasikan dalam aspek-aspek pendidikan humanistik dalam Islam.

Islam dengan watak religius-tauhidnya mengintegrasikan aspek spiritual sebagai satu kesatuan orientasi pendidikan yang tidak bisa dipisahkan dari aspek sosial dan materialnya diharapkan bisa membentuk manusia kongkret yang sempurna sebagai manusia beradab. Mereka itulah yang layak diberi predikat manusia sempurna (insa>n ka>mil), manusia teladan, unggul, dan luhur. Inilah profil manusia humanis. Konsep ini bertolak dari pemikiran Islam yang dibangun dari hubungan vertikal dan horizontal, teosentris dan antroposentris.

Perintah membaca (iqra’)dalam Q.S. al-‘Alaq/96: 1-5 menjadi dasar pendidikan untuk perbaikan, pembebasan, dan pencerahan kemanusiaan. Ilmu pengetahuan yang diajarkan Allah menjadikan manusia lebih tinggi daripada malaikat dan jin. Manusia harus  tunduk kepada Tuhan, tidak sombong dan tidak menindas makhluk lain.

 

E.     Penutup

Pendidikan humanistik-Islami adalah pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai humanisme Islam, yaitu liberasi, humanisasi, dan transendensi. Liberasi dimaksudkan sebagai pembebasan manusia dari belenggu pihak lain sehingga mampu mengembangkan diri secara optimal. Humanisasi merupakan upaya melindungi nilai-nilai kemanusiaan dengan mengembangkan seluruh potensi peserta didik sehingga menjadi manusia yang mulia dan bertanggung jawab. Transendensi adalah menyandarkan aktivitas hidup manusia berdasar dimensi spiritual sehingga tidak merugikan pihak lain. Pemikiran ini menekankan pengembangan potensi manusia supaya mampu memerankan diri sebagai ‘abd Alla>h dan khali>fah Alla>h. Pendidikan ini ditujukan untuk membantu peserta didik dalam mengaktualisasikan potensinya supaya menjadi manusia mandiri dan kreatif yang sadar akan kehadiran Allah dalam dirinya.

 

DAFTAR  KEPUSTAKAAN

Abbagnano, Nicola, “Humanism”, terj. Nino Langiulli, dalam Paul Edward (ed.), The Encyclopedia of Philosophy, Jilid III (New York: MacMillan, 1972).

Alattas, Seyyed Naquib Aims Objectives of Islamic Education (Jeddah: King Abdul Aziz University, 1977).

al-Attas, Syed Muhammad al-Naquib, The Concept of Education in Islam: A Framework for an Islamic Philosophy of Education (Kuala Lumpur: ISTAC-International Institute  of Islamic Thought and Civilization, 1991).

al-H{anafiy,Mus}t}afa> ibn ‘Abdullah al-Qust}anti>niy al-Rumiy, Kasyf al-Z{unu>n, dalam al-Maktabah al-Alfiyah li al-Sunnah al-Nabawiyyah, CD Program Versi 1.5 (Urdun: al-Khat}i>b: 1999), Juz 2.

al-Nah}lawi, ’Abd al-Rah}ma>n, Us}ul al-Tarbiyah al-Isla>miyyah wa Asa>libuha> fi> al-Bait wa al-Marasah wa al-Mujtama’ (Damsyiq: Da>r al-Fikr, 1996).

Azra, Azyumardi, Pendidikan Islam: Tradisi dan Moderasi menuju Milenium Baru (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999).

Bigge,  Morris L., Learning Theories for Teachers (New York: Harper & Row, 1982).

Brubacher, John S., Modern Philosophy of Education, New York: McGraws-Hill, 1981.

Daud, Wan Mohd Nor Wan, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib al-Attas, terj. Hamid Fahmy, M. Arifin Ismail, dan Iskandar Amel, ed. Abd. Syukur Dj. (Bandung: Mizan, 2003).

Dewey, John, Democracy and Education (New York: The Free Press, 1966).

Freire, Paulo, Pedagogy of the Oppressed, terj. Myra Bergman Ramos (New York: Penguin Books, 1972).

Freire,Paulo, Politik Pendidikan: Kebudayaan, Kekuasaan, dan Pembebasan, terj. Agung Prihantoro dan Fuad Arif Fudiyartanto, Yogyakarta: Pustaka Pelajar & READ, 2002.

Goble, Frank G., Mazhab Ketiga: Psikologi Humanistik Abraham Maslow, terj. A. Supratinya (Yogyakarta: Kanisius, 1997).

Ibn Manz}u>r, Ibn  Jama>l al-Di>n Muh}ammad ibn Mukram, Lisa>n al-‘Arab, Juz 1, dalam CD Maktabah al-Tafsi>r wa ‘Ulu>m al-Qur’a>n, Versi 1.5 (Urdun: al-Khat}i>b, 1999).

John D. McNeil, Curriculum: A Comprehensive Introduction (London: Scott, Forseman-Little, Brown Higher Education, 1972).

Knight, George R., Issues and Alternatives in Educational Philosophy (Michigan: Andews University Press, 1982).

Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi, ed. A.E. Priyono (Bandung: Mizan, 1998).

Levine, Nietzche dan Krisis Manusia Modern, terj. Ahmad Sahidah,  (Yogyakarta: Ircisod, 2002).

Mah}ju>b, ‘Abba>s, Us}u>l al-Fikr al-Tarbawi>y fi> al-Isla>m (Beirut: Da>r al-Fikr, 1987).

Mas’ud, Abdurrahman, Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik: Humanisme Religius sebagai Paradigma Pendidikan Islam (Yogyakarta: Gama Media, 2002).

Mastuhu, Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional dalam Abad 21 (Yogyakarta: Safiria Insani Press-Magiter Studi Islam UII, 2003).

Moussa, Muhammad Youseef, Islam and Humanity’s Need of It (Cairo: The Supreme Council for Islamic Affairs, 1379 H).

Mulkhan, Abdul Munir, Nalar Spiritual Pendidikan: Solusi Problem Filosofis Pendidikan Islam, ed. Romiyatun (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002).

Noddings, Nel, Philosophy of Education (Oxford: Westview, 1998).

Nuryatno, M. Agus, Mazhab Pendidikan Kritis: Menyingkap Relasi Pengetahuan Politik dan Kekuasaan (Yogyakart: Resist Book, 2008).

Olafson, Frederick A., “Humanism and Education”, dalam Lee C. Deighton (ed. in chief), The Encyclopedia of Education, Vol. 4 (USA: The MacMillan Company & The Fee Press, 1986), hlm. 519.

Qut}b, Sayyid, Tafsi>r fi> Z{ila>l al-Qur’a>n, Juz 15 (Beirut: Da>r al-Ih}ya>’, t.t.).

Russell,  Bertrand, History of Western Philosphy (London: Unwin University Press, t.t.)

Scruton, Roger, Sejarah Singkat Filsafat Modern: dari Descartes sampai Wittgenstein, terj. Zainal Arifin Tandjung, Jakarta: Pantja Simpati, 1984.

Syari’ati, Ali, Humanisme: antara Islam dan Mazhab Barat, terj. Afif Muhammad (Bandung: Pustaka Hidayah, 1996).

Y.B. Mangunwijaya, “Mencari Visi Dasar Pendidikan”, Sindhunata (ed.), Pendidikan: Kegelisahan Sepanjang Zaman (Yogyakarta: Kanisius, 2001).

Yelon, Stephen L. dan Grace W. Weinstein, A Teacher’s World: Psychology in the Classroom (London: McGraw-Hill International Book Company, 1977).

Zamroni, Pendidikan untuk Demokrasi: Tantangan menuju Civil Society (Yogyakarta: Bigraf, 2001), hlm.24.


[1]Humanisasi dan dehumanisasi adalah dua entitas yang bertentangan namun menjadi kemungkinan riil. Lihat Paulo Freire, Pedagogy of the Oppressed, terj. Myra Bergman Ramos (New York: Penguin Books, 1972), hlm. 20. Istilah “pemanusiawian” dipandang berbeda dengan “pemanusiaan”. Istilah pertama dimaksudkan sebagai upaya untuk lebih memberikan nilai kemanusiaan, sedangkan yang kedua berarti merubah status dari yang bukan manusia menjadi manusia. Terma pemanusiawian dipilih untuk proses humanisasi karena yang berubah hanyalah nilai kemanusiaannya. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa manusia tetap manusia yang tidak bisa berubah dari kenyataan sebagai manusia. Ide pemanusiawian manusia di Dunia Barat muncul pada abad ke-13 sebagai sebuah aliran dengan nama Humanisme. Humanisme adalah filsafat kemanusiaan yang mengakui nilai dan harkat manusia dan menjadikannya sebagai dasar atau ukuran penilaian segala sesuatu. Lihat Nicola Abbagnano, “Humanism”, terj. Nino Langiulli, dalam Paul Edward (ed.), The Encyclopedia of Philosophy, Jilid III (New York: MacMillan, 1972), hlm. 69-70.

[2]Islam yang lahir pada abad ke-6 telah mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan. Moussa mengatakan, “Islam is the last of all the divine messages …. The nature of this messages must be of a kind that makes it fit for all humanity in every age, generation and time. LihatMuhammad Youseef Moussa, Islam and Humanity’s Need of It (Cairo: The Supreme Council for Islamic Affairs, 1379 H), hlm. 60. Misi Nabi Muhammad, pembawa ajaran Islam, adalah memberikan kasih sayang (rah}mat) kepada seluruh alam (Q.S. al-Anbiya>’/21: 107).

[3]Quoted from Aulus Gellius by Nicola Abbagnano, “Humanism”, terj. Nino Langiulli, dalam Paul Edward (ed.), The Encyclopedia of Philosophy, Jilid III (New York: Macmillan, 1972), hlm. 70.

[4]George R. Knight, Issues and Alternatives in Educational Philosophy (Michigan: Andews University Press, 1982), hlm. 82.

[5]John Dewey, Democracy and Education (New York: The Free Press, 1966), hlm. 344; Tokoh-tokohnya adalah Charles S. Peirce (1839-1914), William James (1842-1910) dan John Dewey (1859-1952). Lihat Knight, Issues and Alternatives, hlm. 60-1; Bertrand Russell,  History of Western Philosphy (London: Unwin University Press, t.t.), hlm. 770-1.

[6]Pragmatisme juga mempengaruhi rekonstruksionisme dan futurisme. Lihat Knight, Issues and Alternatives, hlm. 61, 66-68, 80.

[7]Knight, Issues and Alternatives, hlm. 82.

[8]Knight, Issues and Alternatives, hlm. 82.

[9]Nel Noddings, Philosophy of Education (Oxford: Westview, 1998), hlm. 59 dan 61; Knight, Issues and Alternatives, hlm. 73 dan 87. Perhatian eksistensialisme yang sangat tinggi terhadap emosi manusia inilah yang membedakannya dari perenialisme yang serius menekankan intelek (rasio).

[10]Roger Scruton, Sejarah Singkat Filsafat Modern: dari Descartes sampai Wittgenstein, terj. Zainal Arifin Tandjung, Jakarta: Pantja Simpati, 1984, hlm.   321.

[11]Sebenarnya pemikiran pendidikan yang memfokuskan peserta didik juga dikemukakan oleh teori perenialisme dan esensialisme yang muncul pada tahun 1930-an. Akan tetapi, baik teori perenialisme maupun esensialisme ini berbeda dengan teori humanisme. Pengikut perenialisme memunculkan teori pendidikan liberal yang berusaha mengantarkan peserta didik supaya bebas dan menjadi manusia sejati yang mampu melakukan tugas berpikir. Manusia membutuhkan pendidikan yang mengembangkan kemampuan rasional kemanusiaannya. Di sisi lain, penganut esensialisme memandang pendidikan itu menyesuaian hidup dan berpusat pada pencapaian kebenaran. Tugas utama pendidikan adalah mengajarkan ilmu dasar. Kurikulum harus dirancang untuk menanamkan ketrampilan kepada anak. Perbedaan antara perenialisme dan esensialisme seperti disarikan oleh George F. Kneller, adalah: bila dibandingkan perenialisme, esensialisme bersikap: (1) kurang memperhatikan intelektual dan kebenaran abadi serta lebih memperhatikan kebutuhan peserta didik, (2) lebih banyak menyerap metode pendidikan progresif, (3) kurang menghargai karya kalsik sebagai gagasan universal. Perenialisme ditujukan untuk perguruan tinggi, sedangkan esensialisme untuk sekolah dasar dan menengah. Penekanan kerja akal dalam perenialisme dan penekanan transfer ilmu dalam esensialisme inilah yang membedakan dari teori progresivisme. Perenialisme dan esensialisme merupakan pembaruan yang lebih spesifik atas teori pendidikan klasik dan tradisional sebagai bentuk reaksi terhadap teori progresivisme. Pendidikan tradisional, menurut Allan Ornstein, setidaknya ditandai dengan: (1) guru yang otoriter, (2) terlalu bertumpu pada buku teks, (3) belajar pasif dengan menghafal informasi, (4) terisolasai dari realitas sosial, (5) adanya hukuman untuk kedisiplinan. Lihat Knight, Issues and Alternatives, hlm. 77-78, 81-82, 91, 97, dan 98-101.

[12]“… istilah ‘pendidikan humanistik’ atau ‘pendidikan kemanusiaan’ sering dipakai secara bergantian dengan istilah ‘pendidikan afektif’. Namun demikian, istilah-istilah ini dan lainnya sering kali tidak memiliki makna yang komprehensif atau menyeluruh dan utuh, melainkan lebih mengarah pada makna atau pengertian pendekatan pembelajaran tertentu.” Lihat Abdul Munir Mulkhan, Nalar Spiritual Pendidikan: Solusi Problem Filosofis Pendidikan Islam, ed. Romiyatun (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002), hlm. 95. Istilah “humanis” berasal dari lafal populer Italia abad ke-15 yang berarti seorang guru besar dari studia humanitatis. Peter Levine, Nietzche dan Krisis Manusia Modern, terj. Ahmad Sahidah,  (Yogyakarta: Ircisod, 2002), hlm. 25.

[13]Knight, Issues and Alternatives, hlm. 87; John D. McNeil, Curriculum: A Comprehensive Introduction (London: Scott, Forseman-Little, Brown Higher Education, 1972),  hlm. 6.

[14]Y.B. Mangunwijaya, “Mencari Visi Dasar Pendidikan”, Sindhunata (ed.), Pendidikan: Kegelisahan Sepanjang Zaman (Yogyakarta: Kanisius, 2001), hlm. 160.

[15]Knight, Issues and Alternatives, hlm. 88.

[16]Paulo Freire, Politik Pendidikan: Kebudayaan, Kekuasaan, dan Pembebasan, terj. Agung Prihantoro dan Fuad Arif Fudiyartanto, Yogyakarta: Pustaka Pelajar & READ, 2002.  hlm. 190.  Konsep ini dilatarbelakangi oleh kenyataan masyarakat yang tertindas, penindasan bertentangan nilai-nilai kemanusiaan. Pendidikan harus meniadakan penindasan. Dalam kaitan ini, Paulo Freire menulis buku Pedagogy of the Oppressed, terj. Myra Bergman Ramos (New York: Penguin Books, 1972).

[17]M. Agus Nuryatno, Mazhab Pendidikan Kritis: Menyingkap Relasi Pengetahuan Politik dan Kekuasaan (Yogyakart: Resist Book, 2008), hlm. 6.

[18]Mastuhu, Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional dalam Abad 21 (Yogyakarta: Safiria Insani Press-Magiter Studi Islam UII, 2003), hlm. 136.

[19]Knight, Issues and Alternatives, hlm. 87.

[20]John S. Brubacher, Modern Philosophy of Education, New York: McGraws-Hill, 1981, hlm. 190-1.

[21]Zamroni, Pendidikan untuk Demokrasi: Tantangan menuju Civil Society (Yogyakarta: Bigraf, 2001), hlm.24.

[22]Frederick A. Olafson, “Humanism and Education”, dalam Lee C. Deighton (ed. in chief), The Encyclopedia of Education, Vol. 4 (USA: The MacMillan Company & The Fee Press, 1986), hlm. 519.

[23]Knight, Issues and Alternatives, hlm. 87.  Penekanan pada keunikan peserta didik menjadi pembeda dari pendidikan progresif yang cenderung berpikir tentang peserta didik sebagai bagian sosial.

[24]Pendapat Maslow ini disitir oleh Frank G. Goble, Mazhab Ketiga: Psikologi Humanistik Abraham Maslow, terj. A. Supratinya (Yogyakarta: Kanisius, 1997), hlm. 118-9. Bandingkan dengan Paulo Freire, Pendidikan sebagai Praktek Pembebasan, terj. Alois A. Nugroho (Jakarta:  Gramedia, 1984), hlm. 34.

[25]Abdurrahman Mas’ud, Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik: Humanisme Religius sebagai Paradigma Pendidikan Islam (Yogyakarta: Gama Media, 2002), hlm. 135.

[26]Bandingkan dengan Ali Syari’ati, Humanisme: antara Islam dan Mazhab Barat, terj. Afif Muhammad (Bandung: Pustaka Hidayah, 1996), hlm. 39.

[27]Knight, Issues and Alternatives, hlm. 93.

[28]Ibn  Jama>l al-Di>n Muh}ammad ibn Mukram Ibn Manz}u>r, Lisa>n al-‘Arab, Juz 1, dalam CD Maktabah al-Tafsi>r wa ‘Ulu>m al-Qur’a>n, Versi 1.5 (Urdun: al-Khat}i>b, 1999), hlm. 401 dan 405. Bandingkan dengan Ahmad Warson Munawir, al-Munawwir: Kamus Arab-Indonesia (Yogyakarta: Unit Pengadaan Buku-buku Ilmiah Keagamaan Pondok Pesantren al-Munawwir, 1994), hlm. 504, 636, 631, dan 1565.

[29]Sayyid Qut}b, Tafsi>r fi> Z{ila>l al-Qur’a>n, Juz 15 (Beirut: Da>r al-Ih}ya>’, t.t.), hlm. 15. Bandingkan dengan Q.S. al-Syu‘ara>’/26: 18.

[30]‘Abba>s Mah}ju>b, Us}u>l al-Fikr al-Tarbawi>y fi> al-Isla>m (Beirut: Da>r al-Fikr, 1987), hlm.  18. Al-Baidlawi> (791 H.), seorang ahli tafsir, menyatakan bahwa al-Qur’an memperkenalkan konsep pendidikan dengan istilah “tarbiyah”. Lihat Abdurrahman Umdirah, Metode al-Qur’an dalam Pendidikan, terj. Abdul Hadi Basulthanah (Surabaya: Mutiara Ilmu, t.t.), hlm. 13-14.

[31]Sebagaimana dikutip ’Abd al-Rah}ma>n al-Nah}lawi, Us}ul al-Tarbiyah al-Isla>miyyah wa Asa>libuha> fi> al-Bait wa al-Marasah wa al-Mujtama’ (Damsyiq: Da>r al-Fikr, 1996), hlm. 13-14. 

[32]Machasin, “Pendidikan sebagai Strategi Memberdayakan Umat”, dalam Pendidikan Islam dalam Peradaban Industrial (Yogyakarta: Aditya Media, 1997), hlm. 56-7.

[33]Syed Muhammad al-Naquib al-Attas, The Concept of Education in Islam: A Framework for an Islamic Philosophy of Education (Kuala Lumpur: ISTAC-International Institute  of Islamic Thought and Civilization, 1991), hlm. 28. Seyyed Naquib Alattas, Aims Objectives of Islamic Education (Jeddah: King Abdul Aziz University, 1977).

[34]Dewey, Democracy and Education, hlm. 10.

[35]Morris L. Bigge,  Learning Theories for Teachers (New York: Harper & Row, 1982), hlm. 239; Stephen L. Yelon  dan Grace W. Weinstein, A Teacher’s World: Psychology in the Classroom (London: McGraw-Hill International Book Company, 1977), hlm. 132-3.

[36]Konsep itu ditawarkan dalam konferensi dunia pertama mengenai pendidikan Islam di Makkah tahun 1971. Karena perubahan yang sangat mendasar, maka komite yang membahas cita-cita dan tujuan pendidikan dalam konferensi menerima tersebut secara kompromistis, yaitu “arti pendidikan secara keseluruhan terdapat dalam konotasi istilah tarbiyah, ta‘li>m dan ta’di>b yang dipakai secara bersamaan.” Al-Attas, The Concept of Education,  hlm. 34; Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib al-Attas, terj. Hamid Fahmy, M. Arifin Ismail, dan Iskandar Amel, ed. Abd. Syukur Dj. (Bandung: Mizan, 2003), hlm. 175. Al-Attas diakui Fazlur Rahman sebagai seorang pemikir ‘jenius’ yang dimiliki dunia Islam.

[37]Ta’di>b adalah pola mas{dar dari addaba-yuaddibu. Lihat Ibn Manz}u>r, Lisa>n al-‘Arab, Juz 1, hlm. 206

[38]Mus}t}afa> ibn ‘Abdullah al-Qust}anti>niy al-Rumiy al-H{anafiy, Kasyf al-Z{unu>n, dalam al-Maktabah al-Alfiyah li al-Sunnah al-Nabawiyyah, CD Program Versi 1.5 (Urdun: al-Khat}i>b: 1999), Juz 2, hlm. 1203. Hadis ini diterjemahkan al-Attas dengan: “Tuhan telah mendidikku dan menjadikan pendidikanku sebaik-baik pendidikan”. Al-Attas adalah orang pertama yang memahami dan mengartikan lafal “addabani>“ dengan “mendidikku”. Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan, hlm. 176. Nabi Muhammad dijadikan Allah sebagai pendidik yang terbaik didukung oleh al-Qur’an yang menyatakan kedudukan Rasulullah yang mulia dan teladan paling baik (Q.S. al-Ah}za>b/33: 21 dan al-Qalam/68: 4). Nabi menyatakan misi utama kerasulannya adalah penyempurnaan akhlak (H.R. Malik), dan memberikan rahmat (H.R. Muslim).

[39]Seperti dikutip Frank G. Goble, Mazhab Ketiga, hlm. 119.

[40]Freire, Politik Pendidikan, hlm. 190.  Konsep ini dilatarbelakangi oleh kenyataan masyarakat yang tertindas, penindasan bertentangan nilai-nilai kemanusiaan. Pendidikan harus meniadakan penindasan. Dalam kaitan ini, Paulo Freire menulis buku Pedagogy of the Oppressed, terj. Myra Bergman Ramos (New York: Penguin Books, 1972).

[41]Brubacher, Modern Philosophy, 190-1.

[42]Bandingkan dengan Kuntoro, “Sketsa Pendidikan Humanis Religius”, hlm. 5.

[43]Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi, ed. A.E. Priyono (Bandung: Mizan, 1998), hlm. 289.

[44]Azyumardi Azra, Pendidikan Islam: Tradisi dan Moderasi menuju Milenium Baru (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 4-5.

____________________

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: