TRANPERSONALISME DALAM PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM

18 Nov

Makalah ini telah dipublikasikan dalam Jurnal TASAMUH, Vol. I, Nomor 2, September 2010, ISSN 2088-0847, hlm. 240-255

 

TRANSPERSONALISME DALAM

PEMIKIRAN  PENDIDIKAN  ISLAM

 

Dr. Musthofa Rahman, M.Ag.

Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang

A.      Pendahuluan     

Transpersonalisme dalam pendidikan tidak terlepas dari disiplin psikologi. Transpersonal sebagai cabang psikologi tampak sekali melakukan “gugatan” terhadap psikologi modern yang terlalu lama dibelenggu oleh rasionalitas dan obyektifitas sehingga menafikan sisi ruhani manusia. Cabang baru psikologi ini memandang bahwa untuk mencapai kesadaran tingkat tinggi, emosi dan intuisi memegang peranan yang lebih penting daripada peran rasio. Dalam hal ini, psikologi transpersonal telah memperhitungkan agama sebagai salah satu alternatif sumber pengetahuan yang layak dan absah tentang manusia dan telah merekomendasikan sebuah cara baru dalam menelaah fenomena pengalaman batiniah.

Dalam konteks kependidikan, transpersonalisme merupakan gerakan yang sangat memperhatikan pribadi di luar dirinya. Melalui pendidikan ini, seseorang akan menjadi sadar akan perasaan, fantasi dan pengalaman sebagai bawaan manusia sehingga mampu memulai merasakan hubungan segala sesuatu. Perhatian pendidikan transpersonal adalah perasaan spiritual tetapi bukan sekte agama tersendiri.[1] Kajian pendidikan Islam yang tidak terbatas pada dimensi jasmani mengharuskan dimensi rohani sebagai wilayah perhatiannya, bahakan menjadi aspek yang eih penting. Islam sebagai agama suci yang diturunkan oleh Tuhan (Allah) mengajarkan spirituaitas.[2] Ajaran-ajarannya dipastikan terjaga otentisitasnya dan memiliki nilai penting sehingga perlu dikaji untuk pengembangannya. Aspek spiritual inilah yang akan dikaji dalam persepektif pendidikan transpersonal.

 

B.       Transpersonalisme dalam Islam

Secara etimologis, transpersonalime berarti faham/aliran di luar diri manusia. Faham ini mengacu kepada pemikiran yang berada di atas (kesadaran) manusia dan mengacu kepada dimensi transendensi kesadaran manusia yang melampaui dirinya.[3] Istilah transpersonal  sering digunakan untuk merujuk pada kategori psikologis yang melampaui fitur normal dari ego yang berfungsi biasa yang berupa kesadaran yang bergerak di luar nalar rasional dan mendahului mistis.[4] Takel menyatakan:

The Transpersonal Perspective, thus, is the endeavor to put the responses of the spiritual traditions and the philosophical/psychological schools together by means of a new creative synthesis and connect it to “human consciousness”- a term which now embodies spiritual, philosophical and psychological significance.[5]

Transpersonal merupakan kesadaran yang melampaui kemampuan nalar pribadi yang bersifat rasional. Makna transpersonal mecakup pribadi seseorang dan sesuatu di luar dirinya (both the personal and what is beyond it).[6] Pengalaman transpersonal membantu pergeseran paradigma besar dari ilmiah tradisional-naturalistik kepada dimensi yang lebih lebih holistik-spiritual. Dimensi spiritual menjadi aspek penting dari motivasi manusia. Mencari Tuhan (Allah), realita, kebenaran, atau apa pun, telah menjadi aspirasi utama dan kekuatan manusia. Dimensi transpersonal membawa kekuatan motivasi kepada pusat kesadaran.[7] Transpersonal tidak hanya mencakup pengalaman tertinggi manusia tetapi juga alam yang sangat pribadi dari kesadaran biasa.

Pada dasarnya, transpersonal merupakan suatu cabang psikologi yang dikembangkan dari psikologi humanistik. Maslow menjelaskan kata kunci untuk Psikologi Humanistik adalah “self-actualization” (aktualisasi diri),  yaitu pengembangan kapasitas seseorang sedangkan kata kunci untuk Psikologi Transpersonal adalah “self-transcendence” (transendensi-diri), yakni kebangkitan spiritual secara penuh atau pembebasan dari ego yang berupa gagasan pengalaman puncak.[8]

Psikologi transpersonal –seperti halnya psikologi humanistik– menaruh perhatian pada dimensi spiritual manusia yang ternyata mengandung potensi dan kemampuan luar biasa yang sejauh ini terabaikan dari telaah psikologi kontemporer. Perbedaannya dengan psikologi humanistik adalah bila psikologi humanistik menggali potensi manusia untuk peningkatan hubungan antar manusia, sedangkan transpersonal lebih tertarik untuk meneliti pengalaman subjektif-transendental, serta pengalaman luar biasa dari potensi spiritual ini.

Psikologi Transpersonal mengkaji tentang potensi tertinggi yang dimiliki manusia, melakukan penggalian, pemahaman, perwujudan dari kesatuan, spiritualitas, serta kesadaran transendensi. Hal ini dapat dilihat dari pandangan aliran psikologi ini yang menganggap bahwa inti kemanusiaan adalah bukan fisik jasmaninya, melainkan psikis-rohaniah. Manusia memiliki kesadaran spiritual yang bisa berubah dan meningkat melalui jalan-jalan tertentu diantaranya melalui latihan spiritual dengan teknik meditasi.[9]

Rumusan tersebut menunjukkan dua unsur penting yang menjadi telaah psikologi transpersonal yaitu potensi-potensi yang luhur (potensi tertinggi) dan fenomena kesadaran manusia. Kajian transpersonal ini menunjukkan bahwa aliran ini mencoba mengkaji secara ilmiah terhadap dimensi yang selama ini dianggap sebagai bidang mistis, kebatinan, yang dialami oleh kaum agamawan atau orang yang mengolah dunia batinnya.

Hasil dari beberapa penelitian tranpersonal menunjukkan bahwa bidang kebatinan bisa menjadi bidang ilmu dan dapat dikaji secara ilmiah sehingga hal tersebut penting untuk dikaji lebih dalam dan tidak dianggap bertentangn  dengan ajaran agama yang akhirnya membelenggu ilmuwan psikologi untuk mempelajari potensi tertinggi tersebut. Karena itu, secara eksplisit Psikologi Transpersonal mengakui dan memanfaatkan psikologi spiritual yang mendalam dari Tradisi Besar (Hindu, Buddha, Tao, Kristen mistik, Yudaisme dan Sufisme Islam), serta wawasan baru dan metode dalam potensi manusia dan kesadaran-memperluas gerakan.[10]

Ajaran agama diturunkan dengan membawa nilai-nilai spiritual, cinta kasih, kebenaran dan keadilan ke dalam diri manusia. Nilai-nilai tersebut dipahami dan dikembangkan manusia untuk mendapatkan kehidupan yang baik dalam diri dan masyarakatnya. Transpersonalime lebih menekankan manfaat spiritual dalam kehidupan manusia dan tidak membahas kesucian agama.[11] Kesucian agama dan ajarannya dibahas dalam agama itu sendiri.

Islam sebagai agama suci memiliki ajaran transendental, di antaranya:

  1. Sifat dasar manusia adalah rohani. Transpersonal memberikan keunggulan kepada sumber spiritual yang mendukung dan menjunjung tinggi struktur psikologis dan filosofis dari diri manusia. Islam mengajarkan supaya manusia mentauhidkan (menyembah dan mengabdi) hanya kepada Allah. Sebuah ayat dalam al-Qur’an disebutkan: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (Q.S. al-Ru>m/30: 30). Fitrah Allah adalah ciptaan Allah. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama, yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid itu karena pengaruh lingkungan. Fitrah ini juga dimaksudkan sebagai potensi manusia untuk menjadi baik, bukan orang yang jahat.
  2. Manusia memiliki keinginan kuat dalam pencarian spiritual sebagai keutuhan melalui pendalaman kesadaran individu, sosial, dan transenden. Visi transpersonal melihat konteks pencarian yang lebih besar untuk kesatuan spiritual. Dalam Islam diajarkan supaya manusia tentram hidupnya harus selalu mengingat  Allah. Dalam al-Qur’an disebutkan: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allahlah hati menjadi tenteram” (Q.S. al-Ra’d/13: 28). Orang yang beragama selalu menjadikan Tuhan sebagai sandaran akan semua usaha yang telah dilakukan. Dengan bersandar (tawakkal/pasrah) itu, manusia akan mendapatkan ketengan jiwa. Melakukan tawakkal menjadi proses pencarian spiritualitas yang dilakukan manusia beriman.
  3. Hidup dan perbuatan yang bermanfaat. Transpersonalime melihat kebutuhan manusia untuk menemukan makna yang lebih dalam dan terus mengakui kontribusi untuk membangun dan terus menafsirkan arti yang lebih dalam. Menemukan makna menjadi cara mengatasi masalah. Islam melalui sabda Nabi Muhammad dalam sebuah hadits: “Orang yang paling dicintai Allah adalah orang paling banyak memberikan manfaat kepada orang lain. Perbuatan yang paling dicintai Allah adalah perbuatan yang dapat menggembirakan hati Muslim lainnya (H.R. Baihaqiy dan T{abraniy).  Setiap muslim dituntut untuk memiliki keahlian sehingga bisa membantu keperluan orang lain. Hal ini selanjutnya akan mampu menjadikan dirinya mencapai kebermaknaan hidup. Transpersonalisme bertujuan membantu individu dalam mengakses kebijaksanaan menjadi lebih realistis.

Prinsip-prinsip tersebut menjadi pijakan setiap muslim untuk menjadi manusia terbaik. Jiwa spiritualnya dapat memunculkan perilaku mulia yang menjadi contoh bagi orang lain. Mereka bukan menjadi masyarakat modern yang bodoh karena mendewakan faham materialisme semata. Hal ini merupakan aktualisasi konsep ih}sa>n dalam Islam yang mengajarkan: an-ta’buda Allah ka-anna-ka tara>-hu fa-in-lam-takun tara>-hu fa-inna-hu> yara>-ka.[12] Hadits ini menyuruh umat manusia agar waspada dan selalu merasa dirinya dalam pengawasan Allah.

Ajaran tentang ih}sa>n ini akan menyadarkan manusia sehingga selalu berbuat baik dan menghindari dan menjauhi perbuatan jahat. Kesadaran yang dibangun seorang Muslim akan berpengaruh dalam pribadinya sehingga tidak terlena pada pemenuhan fisik jasmani semata tanpa didasari nilai spiritual. Hilangnya kesadaran spiritual sangat boleh jadi mengantarkan perbuatan jahat yang tentu bertentangan dengan nilai transendental dari Allah. Kesadaran di luar diri seorang muslim yang bersumber dari yang transenden (Allah) inilah  yang dimaksud dengan transpersonalisme Islam. Karena itu ide transpersonalisme menjadi alternatif pendekatan dalam kajian pendidikan Islam.

C. Islam sebagai Pendekatan Pendidikan Transpersonal

Kajian tentang pendidikan hakikatya adalah membahas manusia. Hakikat manusia adalah pribadinya. Kepribadian manusia dalam perspektif pendidikan menjadi penting dikaji. Tanpa pendidikan nilai kemanusiaannya bisa berkurang atau bahkan hilang. Untuk itu, manusia dinyatakan sebagai makhluk pedagogik (mampu dididik dan mendidik).[13] Dengan pendidikan, menurut Zakiah Daradjat, manusia mampu menjadi khalifah di bumi, pendukung dan pengembang kebudayaan.[14] Kemampuan manusia ini bersumber dari Allah yang dimksudkan untuk mewujudkan tujuan diciptakannya manusia sebagai khalifah di muka bumi. Tujuan ini tidak terlepas dari jiwa spiritual manusia untuk pengabdian kepada Allah (‘abd Alla>h).

Dalam pandangan Islam pendekatan spiritual untuk pendidikan merupakan aspek modifikasi perilaku yang didasarkan pada hubungan antara manusia dan Penciptanya (Allah). Hal ini memerlukan suatu paradigma operasional dengan menjadikan iman kepada Allah sebagai fokus pembahasan. Iman merupakan konstruk kognitif dan etis yang mengumpulkan semua data dan fakta dalam perspektif yang tepat untuk untuk pemahaman yang benar dari proses pendidikan. Kesadaran tentang keyakinan dan keberadaan Allah berfungsi sebagai dasar mendidik manusia. Allahlah yang mencipta manusia dan mendidiknya sehingga memiliki ilmu/pengetahuan (Q.S. al-‘Alaq/96: 5).

Implikasi dari ayat di atas adalah pengakuan terhadap Allah sebagai Pencipta. Memiliki iman kepada-Nya adalah masalah keyakinan. Agama dan iman kepada Allah menjadi dasar pendidikan Islam. Pengetahuan Allah dalam diri manusia mendorongnya untuk merealisasikan iman. Dari keyakinan ini maka muncullah kesadaran yang mengarah ke pemurnian tubuh dan jiwa. Kesadaran ini disalurkan melalui proes pendidikan bagi manusia.

Islam memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan fisik serta rohani manusia dengan mengajarkan perilaku dan nilai-nilai sosial serta memberi makna bagi keberadaannya. Ajaran agama suci ini membantu mengembangkan sikap adaptif bagi peristiwa kehidupan dengan menghargai nilai pribadinya dan mengajarkan keutamaan kehidupan atas dasat rasa persaudaraan. Basheer Ahmed mengatakan:

Our religion, Islam, plays a significant role in satisfying our physical as well as spiritual needs. Islam teaches us, a code of behaviour, conservation of social values and gives us a meaning for our existence. It helps in toleration and developing adaptive capacities for stressful events of life. It gives us a sense of self-respect and teaches us about the virtues of family life and a cohesive society with a sense of brotherhood.[15]

Islam mengajarkan nilai-nilai untuk eksistensi diri manusia dengan mengedepankan kebaikan di lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat atas dasar persaudaraan. Dengan demikian, pendidikan transpersonal menggabungkan studi pengalaman transpersonal dan kehidupan secara keseluruhan. “Transpersonal education thus includes a variety of modalities for contacting and integrating transpersonal experience into one’s overall studies and life as a whole.[16]

Untuk itu, pembelajaran dan pengembangan spiritual dilakukan melalui aspek kesadaran transendental. Model pendidikan ini sama dengan pendidikan transpersonal. Istilah spiritual dapat dihubungkan dengan ajaran religius atau spiritual. Hal ini tentu sangat problematik dalam kajian pendidikan. Pendidikan ini menurut Thomas W. Moore menekankan kesadaran dan kepekaan diri.[17]

Ajaran Islam tidak mengejar obyektivitas dan manfaat material seperti pendidikan Barat. Pendidikan Islam mencari sesuatu yang bermanfaat bagi makhluk untuk mengagungkan Tuhan.[18] Tujuan ini ada kesamaannya dengan pendidikan dalam idealisme untuk membentuk manusia sempurna, yaitu manusia yang dapat mengaktualsasikan kebenaran dan kebaikan.[19] Karena itu, semua aktivitas pendidikan harus didasarkan pada nilai spiritual  (Q.S. al-‘Alaq/95: 1-4).[20] Perintah membaca (iqra’) sebagai aktivitas pendidikan atau pengajaran (ta‘li>m) dalam Islam harus disertai bi-ismi rabbik (membaca berdasarkan nilai atau ajaran ketuhanan). Landasan spiritual yang sekaligus mengantarkan tujuan pendidikan itu yang dijelaskan Ali Yafie sebagai berikut:

Melalui kata iqra’ itu, al-Qur’an juga mengingatkan bahwa pemikiran dan perenungan, sehubungan dengan rahasia penciptaan dan makna kehidupan, teramat penting untuk diinsyafi sebelum memulai segala perbuatan. Tanpa itu, manusia tak dapat mengembangkan pengetahuan yang sangat asasi bagi terwujudnya manusia dan peningkatan martabatnya sebagai makhluk pilihan. Namun tentu saja, al-Qur’an mengingatkan bahwa pikir saja tidaklah cukup. Pikir harus dilengkapi dengan dzikir (mengingat Allah), sebab Dialah –melalui kasih sayangnya—tempat memancarnya sumber kehidupan dan pengetahuan.[21]

Dimensi zikir (mengingat Allah) menjadi syarat aktivitas pendidikan dalam menjamin nilai kemanusiaan manusia. Menurut Ibn Taimiyah, ilmu yang lepas dari nilai-nilai spiritual itu jauh dari kebenaran dan kebaikan.[22] Penguasaan ilmu harus menjaga potensi spiritualitas peserta didik agar tetap menjadi manusia muslim yang taat kepada Allah.[23] Pemikiran ini dijadikan dimensi penting dalam UUSPN No. 20 Tahun 2003 Pasal 1, yaitu:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Pendidikan Islam mengembangkan kepribadian manusia secara keseluruhan, yang meliputi intelektual, spiritual, emosi dan fisik sehingga seorang muslim akan menyiapkan diri dengan baik untuk melaksanakan tujuan kehadirannya di sisi Tuhan. Pendidikan harus mengantarkan peserta didik menjadi hamba Allah (‘abd Alla>h), bukannya hamba harta serta bukan hamba ilmu dan kemajuan teknologi yang lepas dari nilai-nilai ketuhanan. Aktivitas pendidikan yang menjangkau aspek di luar dan melampaui batas diri manusia itulah yang menjadi hakekat pendidikan transpersonal. Islam sebagai agama suci-samawi menjadikan nilai-nilai religius-spiritual-transendental sebagai pijakan dalam proses aktivitas hidup manusia.

Nilai-nilai itu harus diaktualisaskan dalam diri manusia. Pendidikan Islam berupaya mewujdudkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kesadaran akan eksistensi Allah yang berada di luar diri peserta didik mutlak diperlukan supaya hidupnya bisa mencapai kebahagiaan hakiki. Karena itu, penanaman nilai spiritual dalam diri peserta didik menjadi sangat penting.

D. Urgensi Pendidikan Transpersonal dalam Islam

Pendidikan transpersonal dalam Islam diharapkan mampu mengantarkan peserta didik memiliki jiwa spiritual yang tinggi sehingga sanggup dan mau menyemaikan ajaran agama dalam kehidupannya. Jiwa spiritual dalam diri manusia dapat memunculkan perilaku mulia yang menjadi contoh bagi orang lain. Mereka bukan menjadi masyarakat modern bodoh karena mendewakan faham materialisme semata. Saifuddin mengatakan:

… konteks masyarakat modern yang jahili, … mengandalkan budi daya manusia untuk merumuskan prinsip-prinsip kehidupan yang tidak bisa dipertahankan, karena paradigma dan epistemologi yang dipakai sesugguhnya kering sama sekali dari nilai-nilai spiritual. Jiwa-jiwa masyarakat modern tidak bisa bersemi untuk membuahkan perilaku yang harum, yakni uswatun hasanah.[24]

Begitu besar peran nilai spiritual dalam kehidupan manusia sehingga Majelis Kesehatan Dunia memberikan penekanan nilai penting masalah spiritual bagi kesehatan manusia. Dalam Eastern Mediterranean Health Journal melalui artikel  “Islam and Mental Health”, Baasher mengatakan:

When considering the Global Strategy for Health for All by the Year 2000, the World Health Assembly in 1984 rightly stressed the importance of the spiritual element in health. Importantly, it was also decided that this implies “a phenomenon that is not material in nature but belongs to the realm of ideas, beliefs, values and ethics that have arisen in the minds and conscience of human beings.[25]

Badan Kesehatan Dunia (WHO) juga sangat memperhatikan dimensi spiritual sehingga telah menghidupkan kembali minat utama dan memberi dorongan baru dengan peran unsur-unsur dasar manusia dalam pemahaman yang tepat dari fitur psikoreligius dan psikospiritual.[26] Nilai-nilai spiritual menjadi jiwa agama yang harus dipahamai secara seksama. Hussein Nasr menegaskan: “To uderstand Islam fully is to understand this universal massege from the heart and the manner in which the external elements of the tradition are related to this hidden centre.[27]

Untuk itu, sesungguhnya makna paling hakiki agama adalah kesadaran spiritual, yang di dalamnya ada satu kenyataan di luar kenyataan yang tampak ini, yaitu bahwa manusia selalu mengharap belas kasih-Nya, bimbingan tangan-Nya, serta belaian-Nya, yang secara ontologis tidak bisa diingkari, walaupun oleh manusia yang paling komunis sekalipun.[28] George Bernard Shaw menyatakan: “hanya agama Islamlah yang memliki kapasitas untuk berasimilasi terhadap perubahan eksistensi manusia sehingga memiliki daya tarik yang kuat dalam setiap abad. Islam adalah agama masa depan.”[29] Itulah mengapa nilai transpersonal yang bersumber dari spiritualisme menjadi penting untuk diaktualisasikan dalam sistem pendidikan Islam.

Adapun aktualisasi nilai-nilai spiritual dalam pendidikan transpersonal yang membentuk manusia (peserta didik) sebagai khali>fah Allah di muka bumi merupakan bekal dalam merealisasikan kelestarian dan daya guna alam semesta (Q.S. al-Baqarah/2: 30-31). Khali>fah adalah jabatan yang lebih bersifat kreatif daripada sekedar status. Eksistensinya terletak pada daya kreatif untuk memakmurkan bumi.[30] Manusia memegang mandat Tuhan untuk mewujudkan kemakmuran di muka bumi. Kekuasaan yang diberikan kepada manusia itu bersifat kreatif yang memungkinkan manusia mengolah serta mendayagunakan alam semesta untuk kepentingan hidupnya.[31] Untuk keperluan ini manusia disuruh berbuat baik dan mencegah perbuatan jahat (amar ma‘ru>f nahy munkar).[32]

Karena itu, pengembangan jiwa spiritual dalam pendidikan ini harus mengantarkan terwujudnya manusia yang sadar akan kehadiran zat di luar dirinya sebagai penggerak jiwa untuk memberikan kebaikan hidup manusia lain. Dengan bekal ilmu yang bersumber dan berjiwa spiritual (nilai-nilai ilahiyah), manusia hasil proses pendidikan ini mampu mengolah serta mendayagunakan bahan baku di bumi menjadi produk teknologi untuk kepentingan hidupnya dalam rangka pengabdian kepada Allah. Karena kemampuan lebih yang tidak dimiliki makhluk lain inilah, manusia diangkat sebagai khali>fah Allah di muka bumi. Akan tetapi, status khali>fah mengharuskan manusia selalu menyeru kepada kebaikan dan mencegah keburukan. Tugas sosial bagi setiap manusia adalah saling menasehati sesama supaya selamat hidupnya.

Tanggung jawab sosial dalam upaya memelihara nilai kemanusiaan sebagai tugas kekhila>fahan manusia menjadi tujuan pendidikan. Bangunan masyarakat yang terbentuk dari individu-individu hasil pendidikan ini juga merupakan sasaran dari cita-cita pemikiran transpersonalisme Islam. Pendidikan memiliki kontribusi dalam mewujudkan masyarakat spritual. Nilai-nilai akhlak harus menyatu dalam menjamin dan memberikan perlindungan nilai, harkat dan martabat manusia sebagai peserta didik. Mereka itulah yang layak diberi predikat manusia sempurna (insa>n ka>mil), manusia teladan, unggul dan luhur karena selalu mengaktalisaikan nilai-nilai ilahiyah dalam kehidupannya.

Pendidikan transpersonal berusaha membantu, menolong dan memberikan kesempatan peserta didik untuk mengaktualisasikan dirinya menjadi manusia rabba>ni>. Pendidikan ini akan mengembangkan potensi ilahiyahnya untuk tetap menjadi hamba Allah (‘abdulla>h) dan wakil Tuhan (khali>fatulla>h)yang berertugas membangun kemakmuran, keadilan, kedamaian, persamaan dan persaudaraan dalam masyarakatsecara luas sebagai pengabdian kepada-Nya sebagai wujud nilai-niai spiritualnya. Pendidikan transpersonal dalam Islam berupaya memahami kebenaran dan kebaikan universal yang bersumber dari ajaran Islam dalam kehidupan bersama.

Hasil pendidikan ini adalah manusia sempurna karena kemampuannya mengembangkan potensi positif dan menghilangkan potensi negatif sehingga mencapai hakikat kemanusiaan sesuai fitrahnya. Pendidikan transpersonal diorientasikan untuk meningkatkan ketenaangan jiwa, kesadaran diri, rasa kasihan, kemampuan kreatif dan pengetahuan yang mendalam.[33] Hal ini sejalan dengan tujuan utama dari agama adalah mengembelikan manusia supaya memiliki kesadaran akan jati diri dan nasib spiritualnya melalui ilmu pengetahuan yang benar dan tingkah laku yang baik.

Pemikiran ini menurut Daud sebenarnya tujuan hidup di dunia, yaitu kembali kepada Tuhan.  Jasad/badan manusia memiliki kontribusi yang besar terhadap perkembangan intelektual dan spiritual manusia. Hanya dengan melalui badan itu, jiwa spiriutalnya mampu memperoleh informasi dan data tentang dunia inderawi dan pengalaman.[34] Pendidikan transpersonal diharapkan mampu membentuk persepsi, keyakinan dan sikap hidup spiritual sehingga memberi pengaruh bagi keselamatan hidup dan kesehatan baik fisik maupun mental. Hal ini harus dimanfaatkan demi kepentingan manusia sebagai makhluk Tuhan. Manusia mampu megetahui perjanjian pertama (primordial covenant) antara manusia dengan Tuhan.

Dengan demikian, hakikat pada transpersonal yang lebih terfokus pada penyadaran rohani (spiritual) ini menurut al-Attas bersumber dari konsep ta’di>b.[35] Istilah ta’di>b ini tidak terbatas pada aspek kognitif tapi juga meliputi aspek spiritual, moral dan sosial.[36] Pendidikan bukanlah proses yang akan menghasilkan spesialisasi keilmuan akan tetapi sebagai proses menghasilkan individu yang baik, yang akan menguasai berbagai disiplin ilmu secara integral dan koheren yang mencerminkan pandangan hidup Islami.

Pendidikan transpersonal bertolak dari konsep fitrah sebagai cetakan atau pemberian dari Allah yang berisi potensi baik dan potensi buruk. Potensi ini akan berkembang dan teraktualisasi dalam kehidupan tergantung pada pendidikan dan budaya. Kalau manusia tepat mengembangkan potensi positif akan dekat dengan sifat Ilahiyah; sebaliknya manusia akan bisa lebih jahat daripada setan. Tugas pendidikan adalah mengurangi atau bahkan menghilangkan potensi jahat dan mengembangkan potensi baiknya. Berdasar fitrah yang dibawa manusia sejak lahir, pendidikan ini berusaha mengaplikasikan, mengembangakan dan menanamkan nilai-nilai universal dalam dirinya.

Islam dengan watak religius-tauhidnya mengintegrasikan aspek spiritual sebagai satu kesatuan orientasi pendidikan yang tidak bisa dipisahkan dari aspek sosial dan materialnya diharapkan bisa membentuk manusia kongkrit yang sempurna sebagai manusia beradab. Mereka itulah yang layak diberi predikat manusia sempurna (insa>n ka>mil), manusia teladan, unggul dan luhur. Inilah profil manusia spiritualis yang menjadi fokus kajian pendidikan transpersonal.

Konsep ini bertolak dari pemikiran Islam yang dibangun dari hubungan vertikal dan horisontal, teosentris dan antroposentris. Transpersonalisme menjadi bagian integral dari ajaran Islam. Transendensi dalam pemikiran pendidikan Islam ditujukan untuk menambahkan dimensi rohani (jiwa) dalam hidup manusia. Pola hidup hedonis, materialis dan budaya yang negatif harus dibersihkan dengan mengingat kembali dimensi spiritual yang menjadi fitrah manusia.[37] Pendidikan ini memandang manusia sebagai makhluk mulia dan bertanggung jawab atas pilihan dan tindakannya yang memiliki kebebasan mengembangkan diri sesuai dengan keinginannya sehingga terbebas dari belenggu pihak lain namun mereka tetap memiliki kerendahan hati dan ketundukan pada kekuasaan Tuhan.

Pendidikan Islam dengan pendekatan transpersonalisme ini sejak awal berusaha mewujudkan manusia sebagai makhluk yang mulia dengan menjadikan dimensi spiritual sebagai penggerak jiwa untuk berpikir, bersikap dan berbuat sehingga sesuai kebaikan universal. Perintah membaca (iqra’)dalam Q.S. al-‘Alaq/96: 1-5 menjadi dasar pendidikan untuk perbaikan, pembebasan dan pencerahan kemanusiaan atas dasar nilai ilahiyah yang menjadi inti transpersonalisme. Kesadaran yang muncul dari jiwa ini akan menghindarkan mereka dari kesombongan yang bertentangan dengan dengan ruh (spirit) pendidikan ini. Sebaliknya, dengan prinsip itu manusia hasil pendidikan ini memiliki kesediaan untuk mengabdi pada Tuhan dan kerendahan hati terhadap sesama manusia.

Untuk itu, pendidikan transpersonal dalam Islam berupaya membebaskan manusia dari kebutaan spiritual yang menjadi musuh agama. Kebutaan spiritual menjadikan manusia mudah terbelenggu keserakahan material. Pendidikan ini tidak cukup hanya diarahkan pada tugas membebaskan manusia dari belenggu kehidupan material dan intelektual tapi juga harus membebaskan manusia dari belenggu spiritual. Konsep inilah yang harus diaktualisasikan dalam aspek-aspek pendidikan transpersonal dalam Islam.

E. Penutup

Transpersonalime dalam Islam merupakan faham/ajaran yang  mengacu kepada kesadaran yang dibangun seorang Muslim yang bersumber dari yang transenden (Allah). Ajaran tentang ih}sa>n dalam agama suci ini akan menyadarkan manusia untuk waspada dan selalu merasa dirinya dalam pengawasan Allah. Kesadaran tentang keyakinan dan keberadaan Allah berfungsi sebagai dasar mendidik manusia.  Aktivitas pendidikan yang menjangkau aspek di luar dan melampaui batas diri manusia itulah yang menjadi hakekat pendidikan transpersonal. Pendidikan transpersonal diharapkan mampu membentuk persepsi, keyakinan dan sikap hidup spiritual sehingga memberi pengaruh bagi keselamatan hidup dan kesehatan baik fisik maupun mental. Islam dengan watak religius-tauhidnya mengintegrasikan aspek spiritual sebagai satu kesatuan orientasi pendidikan yang tidak bisa dipisahkan dari aspek sosial dan materialnya diharapkan bisa membentuk manusia kongkrit yang sempurna sebagai manusia beradab, manusia sempurna (insa>n ka>mil).

Pendidikan Islam dengan pendekatan transpersonalisme berusaha mewujudkan manusia sebagai makhluk yang mulia dengan menjadikan dimensi spiritual sebagai penggerak jiwa untuk berpikir, bersikap dan berbuat sehingga sesuai kebaikan universal. Perintah membaca (iqra’)dalam Q.S. al-‘Alaq/96: 1-5 menjadi dasar pendidikan untuk perbaikan, pembebasan dan pencerahan kemanusiaan atas dasar nilai ilahiyah. Kesadaran yang muncul dari jiwa ini akan menghindarkan mereka dari kesombongan yang bertentangan dengan dengan ruh (spirit) pendidikan ini. Sebaliknya, dengan prinsip itu manusia hasil pendidikan ini memiliki kesediaan untuk mengabdi pada Tuhan dan kerendahan hati terhadap sesama manusia. Pendidikan transpersonal dalam Islam berupaya membebaskan manusia dari kebutaan spiritual. Konsep inilah yang harus diaktualisasikan dalam aktivitas pendidikan Islam. Wa All>ah a’lam

 

 

DAFTR KEPUSTAKAAN

“Transpersonal”, http://en.wikipedia.org/wiki/Transpersonal.

Abdullah, M. Amin, “Religious Humanism versus Secular Humanism: towards a New Spiritual Humanism”, International Seminar on Islam and Humanism: Universal Crisis of Humanity and the Future of Religiosity, (Semarang: IAIN Walisongo, 5-8 November 2000).

Abraham Maslow, “Transpersonal Psychology, and self-Transcendence”, http://www.rare-leadership.org/Maslow_on_transpersonal_psychology.html

Ahmed, Basheer, “Islamic Values and Ethics in Prevention and Treatment of Emotional Disorders”, http://www.icsfp.com/en/contents. aspx?aid=6862

Baasher, T.A., “Islam and Mental Health” Eastern Mediterranean Health Journal (Volume 7, No. 3, May 2001).

Bukhariy, Abu ‘Abd Allah Muhammad bin Isma>i> bin Mughirah al-, S{ah}i>h} al-Bukhariy, (Kairo: Dra>r alSyub, 1987), Juz 1.

Daradjat, Zakiah, et.al., Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011).

Daud, Wan Mohd Nor Wan, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib al-Attas, terj. Hamid Fahmy, M. Arifin Ismail dan Iskandar Amel, (Bandung: Mizan, 2003).

Harahap, Syahrin, Islam Dinamis: Menegakkan Nilai-nilai al-Qur’an dalam Kehidupan Modern di Indonesia, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1997).

Ibn H{ajr al-‘Asqala>ni> al-Sya>fi‘i>, Ah}mad ibn ‘Ali>, Lisa>n al-Mi>za>n, dalam al-Maktabah al-Alfiyah, juz 4.

Ibn Taimiyah al-H{ira>niy, Ah}mad ibn ‘Abd al-H{ali>m, Kutub wa Rasa>il wa Fata>wa> Ibn Taimiyah fi> al-Tafsi>r, dalam Maktabah al-Tafsi>r wa-‘Ulu>m al-Qur’a>n, CD Program Versi 1.5, (Urdun: al-Khat}i>b: 1999), juz14.

Knight, George R., Issues and Alternatives in Educational Philosophy, (Michigan: Andews University Press–Berrien Spring, 1982).

Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi, ed. A.E. Priyono (Bandung: Mizan, 1998).

Moore, Thomas W., “Transpersonal Education: A Preview”, Journal of Education, (Vol. 157/4, Nov. 1975).

Muhadjir, Noeng, “Pendidikan dalam Perspektif al-Qur’an: Tinjauan Mikro”, dalam Yunahar Ilyas dan Muhammad Azhar (ed.), Pendidikan dalam Perspektif al-Qur’an (Yogykarta: Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam (LPPI) UMY, 1999).

Musa Asy‘ari, Manusia Pembentuk Kebudayaan dalam al-Qur’an (Yogykarta: Lembaga Studi Filsafat Islam-LESFI, 1992).

Nasr, Seyyed Hossein, The Heart of Islam: Enduring Values for humanity, (New York: HarpeCollins, 2002).

Neufeldt, Victoria (ed.), Webster’s New World Colllege Dictionary, (USA: Macmillan, 1996).

Ridla>, Muh}ammad Jawwa>d, al-Fikr al-Tarbawiy al-Isla>miy: Muqaddimah fi> Us}u>lihi al-Ijtima>iyyah wa al-‘Aqla>niyyah, (t.tp.: Da>r al-Fikr al-‘Arabiy, t.t.).

Saefuddin, A.M.  et.al, Desekularisasi Pemikiran: Landasan Islamisasi, (Bandung: Mizan, 1998).

Takei, Franklin S., “The Transpersonal Perspective”, http://www. vanrein.be/essays/frank.htm.

Totah, Khalil A., The Contribution of Arabs to Education, (New York: Teachers College Colubia University, 1921).

Yafie, Ali, “Al-Qur’an Memperkenalkan Diri”, Ulumul Qur’an: Jurnal Ilmu dan Kebudayaan (No. 1 Vo. I/1989).

_________________


[1] Thomas W. Moore, “Transpersonal Education: A Preview”, Journal of Education, (Vol. 157/4, Nov. 1975), hlm. 24.

[2] Seyyed Hossein Nasr, The Heart of Islam: Enduring Values for humanity, (New York: HarpeCollins, 2002), hlm. 5 dan 119.

[3] Kata “trans” berati above and beyond (di atas dan di luar/melibihi) dan kata “personal” berarti physical appearence (badan yang tampak). Lihat Victoria Neufeldt (ed.), Webster’s New World Colllege Dictionary, (USA: Macmillan, 1996), hlm. 1419 dan 1008. Bandingkan dengan    http://state.edsarath.com/faq.htm.

[4] Istilah ini sangat berhubungan dengan karya Abraham Maslow dan pemahamannya tentang ” pengalaman puncak “, dan pertama kali diadaptasi oleh gerakan potensi manusia pada tahun 1960. Lihat “transpersonal” dalam http://en.wikipedia.org/wiki/Transpersonal

[5] Franklin S. Takei., “The Transpersonal Perspective”, http://www. vanrein.be/essays/frank.htm.

[6] Takei, Ph.D., “The Transpersonal Perspective”.

[7] Spiritualitas adalah jiwa bebas yang mencari yang suci (Tuhan) yang sering tidak afiliasikan dengan agama tradisional.

[8] Abraham Maslow, “Transpersonal Psychology, and self-Transcendence”, http://www.rare-leadership.org/Maslow_on_transpersonal_psychology.html

[9] Aliran ini dikembangkan oleh tokoh dari Psikologi Humanistik antara lain: Abraham Maslow, Antony Sutich, dan Charles Tart.

[10] Maslow, “Transpersonal Psychology …”

[11] M. Amin Abdullah, “Religious Humanism versus Secular Humanism: towards a New Spiritual Humanism”, International Seminar on Islam and Humanism: Universal Crisis of Humanity and the Future of Religiosity, (Semarang: IAIN Walisongo, 5-8 November 2000), hlm. 10.

[12] Abu ‘Abd Allah Muhammad bin Isma>i> bin Mughirah al-Bukhariy, S{ah}i>h} al-Bukhariy, (Kairo: Dra>r alSyub, 1987), Juz 1, hlm. 20.

[13] Zakiah Daradjat, et.al., Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), hlm. 16.

[14] Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, hlm. 16.

[15] Basheer Ahmed, “Islamic Values and Ethics in Prevention and Treatment of Emotional Disorders”, http://www.icsfp.com/en/contents.aspx?aid=6862

[16]  Ahmed, “Islamic Values …”.

[17] Moore, “Transpersonal Education …”, hlm. 24.

[18]Bandingkan dengan Noeng Muhadjir, “Pendidikan dalam Perspektif al-Qur’an: Tinjauan Mikro”, dalam Yunahar Ilyas dan Muhammad Azhar (ed.), Pendidikan dalam Perspektif al-Qur’an (Yogykarta: Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam (LPPI) UMY, 1999), hlm. 91.

[19] Lihat George R. Knight, Issues and Alternatives in Educational Philosophy, (Michigan: Andews University Press – Berrien Spring, 1982), hlm. 43.

[20]Bandingkan dengan Q.S. al-Ma.idah/5: 4; al-Baqarah/2: 151 dan 251, 282, Yu>suf/12: 37. al-Rah}ma>n/55: 1-3; al-Baqarah/2: 239; dan al-Nisa>’/4: 113;

[21]Ali Yafie, “Al-Qur’an Memperkenalkan Diri”, Ulumul Qur’an: Jurnal Ilmu dan Kebudayaan (No. 1 Vo. I/1989), hlm. 3.

[22] Ah}mad ibn ‘Abd al-H{ali>m ibn Taimiyah al-H{ira>niy, Kutub wa Rasa>il wa Fata>wa> Ibn Taimiyah fi> al-Tafsi>r, dalam Maktabah al-Tafsi>r wa-‘Ulu>m al-Qur’a>n, CD Program Versi 1.5, (Urdun: al-Khat}i>b: 1999), juz14, hlm. 297.

[23] Bandingkan dengan Muh}ammad Jawwa>d Ridla>, al-Fikr al-Tarbawiy al-Isla>miy: Muqaddimah fi> Us}u>lihi al-Ijtima>iyyah wa al-‘Aqla>niyyah, (t.tp.: Da>r al-Fikr al-‘Arabiy, t.t.), hlm.7-8.

[24] A.M. Saefuddin et.al, Desekularisasi Pemikiran: Landasan Islamisasi, (Bandung: Mizan, 1998), hlm. 159.

[25] T.A. Baasher, “Islam and Mental Health” Eastern Mediterranean Health Journal (Volume 7, No. 3, May 2001), hlm. 372.

[26] Baasher, “Islam and Mental Health”, hlm. 373.

[27] Nasr, The Heart of Islam …, hlm. 314-5.

[28] Saefuddin, Desekularisasi Pemikiran …, hlm. 47.

[29] Pernyataan yang sama diungkapkan oleh Johan Wolfgang von Goethe. Seperti dikutip dalam Syahrin Harahap, Islam Dinamis: Menegakkan Nilai-nilai al-Qur’an dalam Kehidupan Modern di Indonesia, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1997), hlm.9.

[30] Saefuddin, Desekularisasi Pemikiran …, hlm. 87.

[31]Musa Asy‘ari, Manusia Pembentuk Kebudayaan dalam al-Qur’an (Yogykarta: Lembaga Studi Filsafat Islam-LESFI, 1992), hlm. 43.

[32]Hadis Nabi: “Orang yang menyuruh berbuat baik dan mencegah perbuatan jahat (amar ma‘ruf nahi munkar) adalah khali>fah Allah di buminya serta khali>fah kitab dan rasul-Nya”. Lihat Ah}mad ibn ‘Ali> ibn H{ajr al-‘Asqala>ni> al-Sya>fi‘i>, Lisa>n al-Mi>za>n, dalam al-Maktabah al-Alfiyah, juz 4, hlm. 480.

[34] Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib al-Attas, terj. Hamid Fahmy, M. Arifin Ismail dan Iskandar Amel, (Bandung: Mizan, 2003), hlm. 96-8.

[35] Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam…, hlm. 183.

[36] Khalil A. Totah, The Contribution of Arabs to Education, (New York: Teachers College Colubia University, 1921), hlm. 67-77.

[37] Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi, ed. A.E. Priyono (Bandung: Mizan, 1998), hlm. 289.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: