NILAI-NILAI HUMANISME ISLAM : IMPLIKASINYA DALAM KONSEP TUJUAN PENDIDIKAN

18 Nov

Artikel ini telah diterbitkan dalam Jurnal DIDAKTIKA ISLAMIKA, Vol. XI, Nomor 2, Desember 2011, ISSN 1411-5913, hlm. 240-255

 

NILAI-NILAI HUMANISME ISLAM DAN IMPLIKASINYA

DALAM KONSEP TUJUAN PENDIDIKAN

 

Musthofa*

 

Abstrak:  Humanisme Islam adalah humanisme-religius bersumber dari ajaran Islam. Pemikiran ini bersumber dari ikatan manusia terhadap suatu perjanjian primordial dengan Tuhan sebagai the Ultimate Reality. Orientasi ketuhanan dijadikan jiwa hidup manusia. Unsur teoantrosentrisme ini menjadikan manusia sebagai khali>fah Alla>h. Pemikiran humanisme ini bertolak dari ajaran tauhi>d yang yang berupa nilai: kebebasan (liberty), persudaraan (fraternity), dan persamaan (equality). Dalam perspektif ini, pendidikan Islam ditujukan untuk membantu peserta didik mengaktualisasikan potensinya supaya menjadi manusia kreatif yang sadar akan kehadiran Allah dalam dirinya. Pendidikan ini berupaya mengantarkan peserta didikmenjadi manusia Rabba>ni>.

 

Kata Kunci:  teoantropsentrisme, kebebasan, persudaraan, persamaan, manusia rabba>ni

 

A.    Pendahuluan

Humanisme sebagai sebuah aliran filsafat yang bertolak dari faham antropomorfisme[1] sering dipandang bertentangan dengan ajaran Islam yang bertolak dari keimanan dan kepercayaan adanya Allah. Kalangan humanis memandang manusia sebagai penguasa alam semesta sehingga menolak eksistensi Tuhan. Mereka bahkan “menuhankan” manusia.  Akan tetapi Islam sebagai ajaran suci sangat memperhatikan kearifan kemanusiaan sepanjang zaman.[2] Ajaran Islam memberikan perlindungan dan jaminan nilai-nilai kemanusiaan kepada semua umat. Upaya pemanusiawian manusia dikembangkan menjadi pendidikan dengan pendekatan humanistik.[3] Pendidikan ini berorientasi pada peserta didik sebagai manusia yang menjadi tema utama humanisme

 

B.     Teoantroposentrisme: Dasar Humanisme Islam

Pembahasan mengenai humanisme Islam tidak bisa dilepaskan dari pemikiran Barat yang memunculkan teori ini. Humanisme di dunia Barat muncul sebagai dasar gerakan Renaissance.[4] Gerakan ini mencari tafsir baru tentang manusia dalam kehidupan dunia. Pada awal kemunculannya, humanisme merupakan gerakan filsafat dan sastra di Italia pada paruh kedua abad ke-14 yang menyebar ke negara-negara lain di Eropa sebagai satu di antara faktor peradaban modern. Sikap humanis terhadap kehidupan ini berlangsung sampai sekarang.

Humanisme muncul karena adanya rasionalisme sehingga melahirkan Renaisans, yaitu gerakan kebangunan-kembali manusia dari keterkungkungan mitologi dan dogma.[5] Meski demikian, Rene Descartes (1598-1650) yang dikenal sebagai bapak pendiri filsafat modern memandang rasionalisme tidak boleh mengingkari eksistensi Tuhan sebagai ide tentang ‘ada’ yang paling sempurna.[6] Humanisme yang hanya didasarkan pada pemikiran akal tidak mampu mewujudkan jati diri manusia yang sesungguhnya. Seharusnya humanisme yang bertolak dari paham rasionalisme tidak menentang adanya Tuhan.

Humanisme religius (humanisme teosentris) merupakan upaya untuk menyatukan nilai-nilai agama dan kemanusiaan.[7]  Ajaran agama (keyakinan tentang Tuhan), menurut Boisard dalam L’Humanisme de l’Islam, mempengaruhi watak dan persepsi manusia yang selanjutnya menentukan kedudukan dirinya, prioritas kebutuhan dan pembentukan kaidah hubungan dengan manusia lainnya.[8] Agama bukan hanya sistem kepercayaan yang tidak berubah tapi juga nilai yang berorientasi kemanusiaan. Semua agama memiliki misi untuk memberikan petunjuk kepada manusia menuju kebahagiaan abadi. Humanisme agama adalah keyakinan dalam aksi.

Humanisme Islam[9] sebagai humanisme-religius bersumber dari ajaran Islam. Nurcholish Madjid mencatat 13 dasar humanisme Islam yang semuanya bertolak dari ikatan manusia terhadap suatu perjanjian primordial dengan Tuhan yang menurut Iqbal disebut sebagai puncak realitas (the Ultimate Reality).[10] Pengakuan Allah sebagai pusat orientasi hidup manusia dilakukan sejak awal kehidupannya. Manusia mengakui Allah sebagai Tuhannya (Q.S. al-A‘ra>f/7: 172). Karena perjanjian itu, setiap manusia terlahir dalam fitrah, kesucian asal (Q.S. al-Ru>m/30: 30). Orientasi ketuhanan itulah yang menurut Syariati harus dimasukkan dalam jiwa hidup manusia, baik dalam tradisi, adat-istiadat dan tata krama masyarakat untuk diaplikasikan dalam ideologi materialisme, sosialisme, dan ekonomisme. Inilah yang membedakan konsep humanisme Islam dengan Barat.

Konsep humanisme ini didasakan pada pandangan bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang mendapatkan Ru>h Ilahi>(jiwa Tuhan) (Q.S. al-Hijr/15: 29).  Ruh ilahi sebagai penyebab manusia memiliki akal yang membedakannya dari makhluk lain. Ruh Ilahiah yang menyatu dengan jasad atau fisik manusia membentuk kesatuan manusia dinyatakan sebagai puncak segala makhluk Allah yang diciptakan oleh-Nya dalam bentuk sebaik-baiknya ciptaan (Q.S. al-T{i>n/95: 4).

Realitas manusia tersebut menjadi dasar pemikiran humanisme Islam yang bersifat religius-transendental. Transendensi Tuhan dalam Islam tidak menjauhkan rahmat dan inayah-Nya dari manusia. Tuhan dalam konsepsi Islam itu tidak terisolir, tapi justru bisa dihubungi. Allah selalu berbuat memenuhi kebutuhan manusia (Q.S. al-Rahma>n/55: 29).[11] Fitrah manusia menjadi esensi humanisme Islam. Nurcholish Madjid mengatakan, “the true religion as none other than the primordial, pristine quality of humanity, express in the innate and the naturally unspoiled inclination of man to the sacred and the true, which is the essence of the universal humanism, the fitrah and the hanifiyah”.[12]

Nilai kemanusiaan manusia ditentukan jiwanya, yaitu penyucian diri sehingga tidak menuruti keinginan nafsu jahat (Q.S. al-Syams/91: 9-10). Menurut Machasin, badan manusia sebagai tempat melaksanakan maksud jiwanya dalam kehidupan. Jiwa manusia harus mampu membebaskan badannya untuk bisa kembali kepada Tuhan.[13] Hubungan kemanusiaan yang baik dapat terwujud manakala manusia mampu membebaskan dirinya dari tawanan orang lain dan bisa meniadakan perbudakan pada dirinya sendiri. Caranya adalah manusia disuruh berperilaku seperti akhlak yang dimiliki Allah, yaitu mengamalkan sifat-sifat-Nya yang terformulasi dalam al-asma>’ al-h}usna>  (nama-nama yang bagus).

Akhlak bukanlah sesuatu yang kita “pakaikan” pada diri kita. Akhlak adalah sifat Allah yang kita “serap” dan kemudian mengubah kita secara ontologis. Setiap kali kita menyerap asma (sifat) Allah, esensi kemanusiaan kita berubah sehingga mengalami tranformasi. Penyerapan sifat Allah akan mengantarkan manusia kepada kesucian jiwa sehingga memunculkan kebenaran dalam berpikir, keteguhan dalam bersikap,dan kebaikan dalam berperilaku (akhlak).

Unsur teosentrisme dalam humanisme Islam tersebut berupaya membentuk manusia sebagai makhluk pilihan Tuhan menjadi khali>fah Alla>h fi> al-ard}(agen Tuhan di bumi) sebagai bukti kemuliaan manusia (Q.S. al-Isra>’/17:70). Karena kemuliaan itu, Mutahhari menggambarkan manusia sebagai makhluk yang semi-samawi dan semi-duniawi.[14] Kemuliaan manusia dalam kajian Islam diwujudkan dengan nilai-nilai moral yang abadi dan asli tentang fitrah kebaikan yang suci dan asas manusia yang kreatif dan luhur. Menurut ‘Abd al-Gani> ‘Abu>d, dasar penciptaan manusia adalah kebaikan, bukan kejahatan.[15]

Dengan demikian, humanisme Islam memiliki dimensi vertikal dan dimensi horizontal. Humanisme ini bertolak dari faham teoantroposentrisme. Dimensi vertikal (h}ablun min Alla>h) berupa hubungan baik kepada Allah dengan cara mengabdi pada kekuasaan tertinggi  untuk  membangun hati yang baik guna mencegah kesombongan. Dimensi vertikal ini mengharuskan manusia mengabdi kepada Allah sedangkan dimensi horizontal (h}ablun min al-na>s) berupa hubungan baik kepada sesama manusia dan alam semesta sehingga muncul nilai keadilan, kasih sayang, dan nilai lain sebagai akhlak mulia. Itulah sebabnya akhlak menjadi inti ajaran humanisme Islam.

Humanisme Islam adalah jalan tengah, yaitu harmonisasi antara dimensi material dan dimensi spiritual, dimensi fisik dan psikis, dimensi dunia dan akhirat. Melupakan kehidupan duniawi itu tidak menonjolkan materi tetapi menghancurkan diri sehingga menjadi miskin dan bodoh. Hal ini merupakan tindakan dehumanis. Dimensi spiritual menjadi pengendali nafsu manusia untuk tidak berpikir, bersikap, dan berbuat yang menghancurkan harkat dan martabat manusia. Dari sinilah ditentukan nilai-nilai humanisme dalam Islam.

 

C.    Nilai-nilai Humanisme Islam

Nilai-nilai kemanusiaan dalam humanisme Islam memiliki kesamaan dengan humanisme Barat karena sumbernya memang sama. Akan tetapi menurut Moussa Humanisme Barat itu berutang budi terhadap prinsip kebebasan (liberty), persudaraan (fraternity), dan persamaan (equality) dalam Islam.[16] Lebih dari itu, Iqbal menyatakan ketiga prinsip tersebut merupakan inti ajaran Islam. Dalam bukunya, The Reconstruction of Religious Thought in Islam, dinyatakan bahwa intisari tauhid adalah persamaan, solidaritas, dan kebebasan.[17] Konsep tauhid berimplikasi kepada upaya mewujudkan persamaan. Adanya persamaan itu akan menumbuhkan solidaritas atau persaudaraan. Selanjutnya, solidaritas menuntut pemberian kebebasan kepada manusia dalam hidupnya. Kebebasan, persudaraan, dan persamaan inilah yang menjadi nilai humanisme Islam.

  1. Kebebasan

Kebebasan sebagai nilai humanisme Islam ditujukan untuk menjamin hak manusia. Nilai kebebasan ini bertolak dari asumsi bahwa manusia adalah makhluk mandiri yang mulia, berpikir, sadar akan dirinya sendiri, berkehendak bebas, bercita-cita dan merindukan ideal, bermoral. Kebebasan dalam Islam dibatasi oleh ketentuan moral.[18] Menurut Khuri dalam Freedom, Modernity, and Islam, tanpa pengakuan moral dan spiritualitas, kebebasan akan menyebabkan kehancuran.[19]

Ketentuan moral itu pada hakikatnya berperan sebagai pengikat kebebasan. Islam memandang nilai hidup seorang manusia tergantung pada adanya kebebasan. Kebebasan menurut al-Siba>`i> dalam Isytira>kiyyah al-Isla>m tidak akan terwujud bila tidak didasarkan perasaan yang mendalam dalam pribadi seseorang, kebutuhan masyarakat, ketaatan kepada Allah, dan nilai kemanusiaan.[20] Ketaatan merupakan ketentuan moral yang harus diikuti oleh semua manusia.

Islam memberikan ketentuan moral dengan memberikan kewajiban kepada manusia berupa takli>f (kewajiban keagamaan). Pada dasarnya, takli>f  adalah bimbingan Allah supaya manusia menuju jalan yang benar.[21] Takli>f atau ketentuan moral sebagai petunjuk bagi manusia tidak akan terlaksana bila manusia tidak memiliki kebebasan untuk mengikuti atau menolaknya. Petunjuk itu hanya akan berguna bila ada kemungkinan tersesat. Tanpa adanya kemungkinan tersesat, petunjuk akan kahilangan arti. Di sinilah letak kebebasan manusia yang dicita-citakan humanisme Islam untuk menjamin harkat dan martabat manusia sehingga relevan untuk segala tempat dan waktu. Islam memberikan legitimasi penuh tentang kebebasan. Pandangan tentang manusia sebagai makhluk yang memiliki kebebasan inilah yang membedakan dasar pemikiran humanisme di Barat dengan pemikiran humanisme di Timur. Ada perbedaan yang sangat mendasar antara kedua konsep humanisme tersebut.

Islam juga mengajarkan kebebasan berpikir dan bertindak atau berusaha.[22] Kebebasan berpikir dalam Islam dimaksudkan supaya manusia benar-benar mencapai kebebasan dan dapat menentukan pilihannya. Ajaran Islam itu rasional. Hanafi mengatakan, “Revelation in Islam is a dictum of Reason. It is not anti-rational, irrational or super-rational. Reason is the most common element shared by all human beings.[23] Jalan yang benar untuk mendapatkan kebebasan bukan dengan meninggalkan agama, tetapi dengan menanamkan semangat membangun dan memperbaiki kondisi masyarakat yang membenci ketidakadilan. Semangat inilah yang menjadi kebebasan muslim. Tidaklah logis apabila Islam menyerukan semangat berpikir, namun tidak memberikan kebebasan ilmiah agar akal dan ilmu pengetahuan menempati posisi yang seharusnya.

Kebebasan dalam humanisme Islam harus diikuti tanggung jawab sesuai hukum yang ditentukan oleh Allah. Dalam humanisme Islam tidak ada kebebasan tanpa tanggung jawab. Karena jaminan kebebasan itu juga Islam memberikan legalitas adanya pluralitas. Tanpa adanya sikap toleran, praktik atau kondisi plural akan selalu terjadi ketimpangan, kerusuhan, perpecahan, bahkan sampai peperangan. Pluralisme menjadi bagian dari kebebasan dalam humanisme Islam. Di sinilah manusia dituntut bertanggung jawab akan perbuatannya. Kebebasan dan tanggung jawab dalam Islam menjadi satu kesatuan karena dari tanggung jawab inilah muncul kebebasan.

 

2. Persamaan

Islam menegaskan bahwa kesamaan individu adalah dasar martabat manusia.[24] Persamaan manusia dalam ajaran Islam tidak mengenal suku, ras, dan warna kulit (Q.S. al-Hujura>t/49: 13). Ayat ini menegaskan bahwa nilai manusia hanya dibedakan oleh kualitas ketakwaannya kepada Allah. Kekuasaan mutlak dan transendensi Allah memberikan kemerdekaan kepada manusia dan membentuk konsep persamaan total kepada setiap orang. Persamaan ini menjadi sumbangan Islam bagi kebudayaan universal. Tak ada agama atau ideologi sebelum Islam yang menekankan dengan kuat tentang prinsip persamaan manusia sebagai dasar pola hubungan manusia.

Humanisme Islam membela manusia dalam seluruh sistem dan sejarahnya didasarkan pada prinsip keadilan, kehormatan, hidayah, tanggung jawab, nilai moral, dan hakikat manusia guna membentuk ciri khusus budayanya. Karena petunjuk agama ini menyebabkan jiwa manusia tidak akan pernah damai kecuali dengan melaksanakan pola hidup sesuai petunjuk ajaran Islam. Penilaian objektif diberikan seorang pemikir Barat non-muslim, seperti ditulis Marcel A Boisardberikut ini,

Peradaban Arab Islam telah memberikan iuran yang sangat besar kepada sistem yang menjamin penghormatan terhadap pribadi manusia dan mengatur hubungan antarbangsa. Pengingkaran Barat akan peran Islam dalam memperjuangkan nilai-nilai humaisme … disebabkan oleh kesombongan Barat yang sejak semula telah menyatukan bangsa-bangsa Eropa untuk melawan Islam.[25]

Pengakuan ini menunjukkan konsep humanisme Islam relevan dengan sisi kemanusiaan hakiki yang berlaku sepanajang zaman. Keharusan sifat universal itu menjadikan humanisme sering diasosiakan dengan individualisme, liberalisme, egalitarianisme, dan kosmopolitanisme. Universalitas konsep ini merupakan konsekuensi Islam sebagai ajaran suci terakhir sangat memperhatikan kearifan kemanusiaan sepanjang zaman. Agama ini menekankan kepribadian, perkembangan, dan kemerdekaan manusia dalam persamaan. Persamaan ini selanjutnya memunculkan persaudaraan.

 

3. Persaudaraan

Nilai persaudaraan dalam humanisme Islam didasarkan pada kebaikan (al-birr) dan kasih sayang (al-rah>mah). Rasul dan para pengikutnya itu sangat sayang kepada sesamanya, meskipun sangat keras terhadap orang kafir yang memusuhi Islam (Q.S. al-Fath}/48: 29). Semua muslim adalah saudara. Allah berfirman, bahwa “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” (Q.S. al-Hujura>t/49: 10).

Ajaran Islam tentang persaudaraan ini sangat luas cakupannya. Quraish Shihab mengidentifikasi jenis persaudaraan dalam Islam (ukhuwwah) menjadi tujuh macam, yaitu: saudara seketurunan, saudara ikatan keluarga, saudara sebangsa, saudara semasyarakat, saudara seagama, saudara sekemanusiaan, dan saudara semakhluk.[26] Setiap muslim harus berbuat baik kepada semua pihak. Persaudaraan tidak hanya terhadap sesama manusia, tapi juga persaudaraan terhadap sesama makhluk yang diciptakan oleh Allah. Berlaku baik terhadap benda sesuai kondisi yang seharusnya, seperti mengalirkan air yang tergenang dan menutup kran air merupakan nilai kebaikan. Karena itu, berbuat yang sebaliknya merupakan kejahatan atau keburukan. Hal ini bisa berlaku bagi semua jenis benda dalam lingkungan setiap manusia berada.

Perilaku yang humanis itu saling mencintai manusia. Etika kemanusiaan menjadi pedoman dalam kehidupan manusia supaya tidak sewenang-wenang terhadap orang lain. Rasa perikemanusiaan diharapkan akan tumbuh dari pemahaman tentang nilai-nilai etik tersebut. Etika kemanusiaanberfungsi untuk menciptakan pola hubungan antarindividu, sosial, dan kenegaraan. Standar inilah yang menentukan tanggung jawab, amanat, dan janji bagi yang berhak sehingga terjauh dari tindakan yang mengarah kepada lenyapnya nilai-nilai kemanusiaan. Islam mengajarkan kepedulian kepada masalah kemanusiaan sama pentingnya dengan ritual (ibadah) kepada Allah. Kepedulian dan kemauan membela sesama manusia menjadi tanda kesalehan seorang muslim. Karenanya, keberadaan standar nilai-nilai kemanusiaan merupakan kepentingan bagi kehidupan manusia berdasarkan persamaan antarmanusia. Nilai-nilai humanisme tersebut menjadi dasar perumusan tujuan pendidikan Islam.

 

D.    Aktualisasi Nilai Humanisme Islam dalam Konsep Tujuan Pendidikan

Pendidikan dalam Islam bertolak dari paham teosentrisme dan antroposentrisme sekaligus.[27] Nilai-nilai spiritual dan kebaikan moral menjadi dasar dalam merumuskan tujuannya. Menurut Fahmi, tujuan kejiwaan dan tujuan keagamaan menjadi ciri khas pendidikan Islam ini memberikan nilai ideal yang tidak terdapat dalam pendidikan modern[28] yang dikonsepkan Barat.

Tujuan pendidikan humanistik di Barat yang hanya didasarkan pada paham antropomorfisme terbatas pada aktualisasi potensi secara penuh dan penjaminan hak dan nilai hidup manusia, yaitu kebebasan dan kemerdekaan manusia dalam mengaktualisasikan dirinya.[29] McNeil mengatakan, “To humanists, the goals of education are dynamic personal processes related to the ideals of personal growth, integrity, and autonomy.[30] Pendidikan humanistik bertujuan membentuk pribadi yang dinamis sesuai dengan pertumbuhan pribadi yang ideal, integritas dan otonominya.

Tujuan ini ditandai dengan pengembangan kepribadian dan bakat individu secara menyeluruh. Aktualisasi diri hanya didasarkan pada tujuan material dan sosial yang bersifat sekuler ini terlepas dari upaya menghadirkan Tuhan dalam diri peserta didik. Lepasnya kesadaran ketuhanan akan memunculkan kesombongan intelektual, kezaliman, pengkhianatan, dan kejahatan lain yang ditentang oleh ajaran Islam sesuai nurani manusia. Semua itu disebut akhlak mulia yang bisa dicapai dengan mengembangkan kecerdasan emosional dan spiritual. Keduanya harus disinergikan. Kecerdasan emosional diperlukan untuk menjalin hubungan yang baik antarmanusia, sedangkan kecerdasan spiritual harus dimiliki untuk menjalin hubungan baik dengan Tuhan.

Dalam Islam, aktualisasi potensi sebagai tujuan proses pemanusiawian manusia dalam pendidikan humanistik meliputi dimensi material dan spiritualnya (Q.S. A<li ‘Imra>n/3: 79). Pendidikan ini akan mengantarkan peserta didik menjadi manusia rabba>ni> , yaitu orang yang memiliki kemampuan berbagai disiplin ilmu sehingga bisa berperan dalam kehidupan bermasyarakat untuk kebaikan hidup manusia, baik urusan keduniaan maupun urusan keagamaan. Mereka adalah orang ahli ilmu, ahli ibadah dan ahli takwa.[31] Profil manusia ini menjadi tujuan pendidikan. Kesatuan ilmu dan takwa sebagai kesempurnaan diri menjadikan manusia sebagai orang yang baik secara sosial dan spiritual membentuk manusia sebagai hamba Allah (‘abdulla>h) sedangkan kemampuannya menciptakan kebaikan hidup manusia di dunia menjadikan manusia sebagai khali>fah Alla>h.

Tujuan mengaktualisasikan potensi manusia (peserta didik) menjadi ‘abdulla>h merupakan tujuan pendidikan humanistik dalam Islam sesuai tujuan penciptaan manusia. Allah menciptakan manusia hanyalah untuk beribadah kepada-Nya (Q.S. al-Z|a>riya>t/56). Menurut Abu> al-‘Ainain, tugas manusia sebagai tujuan umum pendidikan Islam adalah mengabdi kepada Allah.[32] Pengembangan potensi yang disertai dengan penyucian jiwa dan pengajaran al-Qur’an akan menumbuhkan kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam diri manusia sebagai ciri religiusitasnya. Hal ini akan memunculkan kepekaan untuk berbuat baik kepada masyarakat sekitarnya. Menurut Husain dan Ashraf, penyadaran supaya tumbuh keimanan dan kesalehan dalam diri seseorang merupakan tujuan fundamental yang sekaligus menjadi ciri khusus pendidikan Islam.[33]

Tujuan ini menjadi bukti bahwa pendidikan dalam Islam tidak mengejar objektivitas dan manfaat material seperti teknologi Barat. Pendidikan Islam mencari sesuatu yang bermanfaat bagi makhluk untuk mengagungkan Tuhan. Karena itu, semua aktivitas harus didasarkan pada nilai spiritual  (Q.S. al-‘Alaq/95: 1-4).[34] Perintah membaca (iqra’) sebagai aktivitas pendidikan atau pengajaran (ta‘li>m) dalam Islam harus disertai bi-ismi rabbik (membaca berdasarkan nilai atau ajaran ketuhanan). Pembacaan itu menuntut adanya dimensi pikir dan zikir. Menurut Ibn Taimiyah, ilmu yang lepas dari nilai-nilai spiritual itu jauh dari kebenaran dan kebaikan.[35] Penguasaan ilmu harus menjaga potensi spiritualitas peserta didik agar tetap menjadi manusia muslim yang taat kepada Allah. Pendidikan harus mengantarkan peserta didik menjadi hamba Allah (‘abdulla>h), bukannya hamba harta serta bukan hamba ilmu dan kemajuan teknologi yang lepas dari nilai-nilai ketuhanan.

Adapun aktualisasi potensi dalam pendidikan humanistik-Islami yang membentuk manusia (peserta didik) sebagai khali>fah Alla>h di muka bumi merupakan bekal dalam merealisasikan kelestarian dan daya guna alam semesta (Q.S. al-Baqarah/2: 30-31). Khali>fah adalah jabatan yang lebih bersifat kreatif daripada sekadar status. Eksistensinya terletak pada daya kreatif untuk memakmurkan bumi. Karena itu, pengembangan potensi dalam pendidikan humanistik-Islami harus mengantarkan terwujudnya manusia kreatif yang dapat memberikan kebaikan hidup manusia lain. Dengan bekal ilmunya, mereka harus mampu mengolah serta mendayagunakan bahan baku di bumi menjadi produk teknologi untuk kepentingan hidupnya. Karena kemampuan lebih yang tidak dimiliki makhluk lain inilah manusia diangkat sebagai khali>fah Allah di muka bumi.

Tanggung jawab sosial dalam upaya memelihara nilai kemanusiaan sebagai tugas ke-khila>fah-an manusia menjadi tujuan pendidikan. Bangunan masyarakat yang terbentuk dari individu-individu hasil pendidikan ini juga merupakan sasaran dari cita-cita pemikiran humanisme Islam. Pendidikan memiliki kontribusi dalam mewujudkan masyarakat humanis. Nilai-nilai akhlak harus menyatu dalam menjamin dan memberikan perlindungan nilai, harkat, dan martabat manusia sebagai peserta didik. Predikat manusia sempurna (insa>n ka>mil), manusia teladan, unggul, dan luhur ditandai dengan kepemilikan akhlak mulia.

Uraian tersebut menunjukkan bahwa tujuan pendidikan humanistik dalam Islam adalah membantu, menolong, dan memberikan kesempatan peserta didik untuk mengaktualisasikan dirinya menjadi manusia rabba>ni>. Pendidikan ini akan mengembangkan potensinya menjadi hamba Allah (‘abdulla>h) dan wakil Tuhan (khali>fatulla>h)yang bertugas membangun kemakmuran, keadilan, kedamaian, persamaan, dan persaudaraan dalam masyarakatsecara luas sebagai pengabdian kepada-Nya. Hasil pendidikan ini adalah manusia sempurna karena kemampuannya mengembangkan potensi positif dan menghilangkan potensi negatif sehingga mencapai hakikat kemanusiaan sesuai fitrahnya. Pendidikan humanistik-Islami membangun masyarakat yang bertakwa kepada Allah atas dasar kasih sayang, keutamaan, cinta kebaikan, toleransi, rasa persaudaraan, kebebasan berpikir yang bertanggung jawab, dan demokratis. Tujuan dan nilai-nilai ini merupakan dasar dalam merumuskan materi pendidikan.

 

 

E.     Penutup

Humanisme Islam yang bertolak dari teoantroposentrisme akan mampu membangkitkan semangat dan berhasil meraih cita-cita dalam melindungi nilai-nilai hidup, harkat, dan martabat manusia sebagai kemenangannya. Pemikiran humanisme ini bertolak dari ajaran tauhi>d yang yang berupa nilai: kebebasan (liberty), persudaraan (fraternity), dan persamaan (equality). Ajaran Islam menumbuhkan kebebasan jati diri manusia yang mandiri dan luhur dalam wujudnya yang bersifat ilahiah dan ideal. Ajaran ini sesuai dengan kondisi riil dunia yang terformulasi dalam humanisme Islam karena mengedepankan akhlak dan kebaikan untuk semua (rah}mah li al-‘a>lami>n).

Pemikiran humanisme inilah yang harus dijadikan dasar dalam melaksanakan sistem pendidikan Islam. Sistem nilai dalam Islam berperan juga dalam meluruskan kegagalan sistem pendidikan yang terjebak pada proses dehumanisasi. Dalam kaitan inilah pendidikan berperan penting dalam proses humanisasi. Tujuanpendidikan humanistik-Islami adalah membantu peserta didik mengaktualisasikan potensinya supaya menjadi manusia kreatif yang sadar akan kehadiran Allah dalam dirinya. Pendidikan ini berupaya mengantarkan peserta didikmenjadi manusia Rabba>ni>. Dia adalah hamba Allah (‘abdulla>h) dan khali>fah Allah yang kreatif yang memakmurkan dunia untuk kebaikan manusia sepanjang masa.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

 

 

‘Abu>d, ‘Abd al-Gani>, al-Insa>n fi> al-Isla>m wa al-Insa>n al-Mu’a>s}ir, t.tp.: Da>r al-Fikr al-‘Arabi>, 1978.

Abbagnano, Nicola, “Humanism”, dalam Paul Edward, (eds), The Encyclopedia of Philosophy, jil. III, New York: Macmillan, 1972.

Abu> al-‘Ainain, ‘Ali> Khali>l, Falsafah al-Tarbiyah al-Isla>miyyah fi> al-Qur’a>n al-Kari>m, t.tp.: Da>r al-Fikr al-‘Arabi>, 1980.

Boisard, Marcel A., Humanisme dalam Islam, terj. M. Rasjidi, Jakarta:  Bulan Bintang, 1980.

Fahmi, Asma Hasan, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, terj. Ibrahim Husein, Jakarta: Bulan Bintang,  1979.

H{ira>niy, Ah}mad ibn ‘Abd al-H{ali>m ibn Taimiyah al-, Kutub wa Rasa>il wa Fata>wa> Ibn Taimiyah fi> al-Tafsi>r, dalam Maktabah al-Tafsi>r wa-‘Ulu>m al-Qur’a>n, CD Program Versi 1.5, Urdun: al-Khat}i>b: 1999.

Hanafi, Hassan, “Global Ethics and Human Solidarity”, International Seminar on Islam and Humanism: Universal Crisis of Humanity and the Future of Religiosity, Semarang: IAIN Walisongo, 5-8 November 2000.

Husain, Syed Sajjad dan Syed Ali Ashraf, Krisis Pendidikan Islam, ed. & terj. Rahmani Astuti Bandung:  Risalah, 1986.

Iqbal, Muhammad, The Reconstruction of Religious Thought in Islam, Lahore: Asyraf Publication, 1971.

Khuri, Richard K.,  Freedom, Modernity, and Islam: Toward a Creative Synthesis, USA: Syracuse University Press, 1998.

Knight, George R., Issues and Alternatives in Educational Philosophy, Michigan: Andews University Press – Berrien Spring, 1982.

Kraemer, Joel L., Humanism in the Renaissance of Islam: The Cultural Revival during the Buyid Age, Leiden: E.J. Brill, 1986.

Machasin, “The Concept of Human Being in Islam”, International Seminar on Islam and Humanism: Universal Crisis of Humanity and the Future of Religiosity, IAIN Walisongo Seamrang, 5-8 November 2000.

Madjid, Nurcholish, “The Islamic Concept of Man and Its Implications for the Muslims’ Appreciation of the Civil and Political Right”, Seminar on Enriching the Universalities of Human Rights: Islamic Perspectives on the Universal Declaration of Human Right, Geneva, 9-10 November 1998.

Mas’ud, Abdurrahman, “Pengantar”, dalam Achmadi, Ideologi Pendidikan Islam: Paradigma Humanisme Teosentris, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005.

Mastuhu, Memperdayakan Sistem Pendidikan Islam, Jakarta: Logos, 1999.

McNeil, John D., Curriculum: A Comprehensive Introduction, London: Brown Higher Education.

Moussa, Muhammad Youseef, Islam and Humanity’s Need of It, Cairo: The Supreme Council for Islamic Affairs, 1379 H.

Nasr, Seyyed Hossein, The Heart of Islam: Enduring Values for Humanity, San Fransisco: Harper, 2002.

Russell, Bertrand, History of Western Philosphy, London: Unwin University Press, t.t.

Sartre, Jean Paul, Eksistensialisme dan Humanisme, terj. Yudhi Murtanto, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002.

Scruton, Roger Sejarah Singkat Filsafat Modern: dari Descartes sampai Wittgenstein, terj. Zainal Arifin Tandjung, Jakarta: Pantja Simpati, 1984.

Sharif, M.M.  (ed.), A History of Muslim Philosophy: With Short Accounts of Other Disciplines and the Modern Renaissnce in Muslims Lands, Germany: Otto Harraso witz-Wiesbaden, 1966.

Siba>’i>, Mus}t}afa al->, Isytira>kiyyah al-Isla>m, t.tp.: al-Na>syiru>n al-‘Arab, 1977.

Siddiqi, Abdul Hameed, Islam and the Remaking of Humanity, Lahore-Pakistan: Kazi Publications, 1978.

Syari’ati, Ali, Humanisme: antara Islam dan Mazhab Barat, terj. Afif Muhammad, cet. 2, Bandung: Pustaka Hidayah, 1996.

Syati, Aisyah bintu, Manusia dalam Perspektif al-Qur’an, terj. Ali Zawawi, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999.

T{abariy,  Muh}ammad ibn Jari>r ibn Yazi>d ibn Kha>lid al-, Ja>mi‘ al-Baya>n ‘an Ta’wi>l al-Qur’a>n, Juz 3, dalam Maktabah al-Tafsi>r wa-‘Ulu>m al-Qur’a>n, CD Program Versi 1.5, Urdun: al-Khat}i>b: 1999.

 

 

 

 

__________________


*Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang

[1]Jean Paul Sartre, Eksistensialisme dan Humanisme, terj. Yudhi Murtanto, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), h. 103.

[2]Islam yang lahir pada abad ke-6 telah mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan. LihatMuhammad Youseef Moussa, Islam and Humanity’s Need of It (Cairo: The Supreme Council for Islamic Affairs, 1379 H), h. 60. Misi Nabi Muhammad, pembawa ajaran Islam, adalah memberikan kasih sayang (rah}mat) kepada seluruh alam (Q.S. al-Anbiya>’/21: 107).

[3]Makna dasar humanisme adalah pendidikan manusia seperti dikatakan Aulus Gellius yang dikutip Nicola Abbagnano, “Humanism”, dalam Paul Edward, (eds), The Encyclopedia of Philosophy, jil. III, (New York: Macmillan, 1972), h. 70.

[4]Lihat Bertrand Russell, History of Western Philosphy (London: Unwin University Press, t.t.), h. 488. Renaissance dimaksudkan untuk membela manusia karena terjadinya kegelapan yang mengerikan akibat pemerintahan Gereja Lihat Ali Syari’ati, Humanisme: antara Islam dan Mazhab Barat, terj. Afif Muhammad, cet. 2, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1996), h. 119-21.

[5] Syari’ati, Humanisme, h. 42.

[6]Roger Scruton, Sejarah Singkat Filsafat Modern: dari Descartes sampai Wittgenstein, terj. Zainal Arifin Tandjung (Jakarta: Pantja Simpati, 1984), h. 31 dan 37.

[7]Lihat Abdurrahman Mas’ud, “Pengantar”, dalam Achmadi, Ideologi Pendidikan Islam: Paradigma Humanisme Teosentris (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), h. x.  

[8]Marcel A. Boisard, Humanisme dalam Islam, terj. M. Rasjidi (Jakarta:  Bulan Bintang, 1980), h.  148.

[9]Al-Farabi, seorang filosof muslim, dalam karyanya Kita>b al-H{uru>f, membahas masalah humanisme (humanism)dengan menggunakan lafal insa>niyyah, yang berarti humanity (kemanusiaan) dalam arti kualitas manusia secara umum. Sebagaimana yang dikutip M. Mahdi dalam Joel L. Kraemer, Humanism in the Renaissance of Islam: The Cultural Revival during the Buyid Age (Leiden: E.J. Brill, 1986), h. 10f.

[10]Seperti dikutip M.M. Sharif (ed.), A History of Muslim Philosophy: With Short Accounts of Other Disciplines and the Modern Renaissnce in Muslims Lands, (Germany: Otto Harraso witz-Wiesbaden, 1966), jilid 2, h. 1625. Meski Islam didasarkan pada eksistensi Tuhan, tapi ajarannya juga ditujukan pada nilai kemanusiaan. Lihat Seyyed Hossein Nasr, The Heart of Islam: Enduring Values for Humanity (San Fransisco: Harper, 2002), h. 6.

[11]Boisard, Humanisme dalam Islam,h. 96 dan 148.

[12]Nurcholish Madjid, “The Islamic Concept of Man and Its Implications for the Muslims’ Appreciation of the Civil and Political Right”, Seminar on Enriching the Universalities of Human Rights: Islamic Perspectives on the Universal Declaration of Human Right, Geneva, 9-10 November 1998, h. 4.

[13]Machasin, “The Concept of Human Being in Islam”, International Seminar on Islam and Humanism: Universal Crisis of Humanity and the Future of Religiosity, IAIN Walisongo Seamrang, 5-8 November 2000, h. 3.

[14]Mutahhari, Perspektif al-Qur’an tentang Manusia,h. 121.

[15]‘Abd al-Gani> ‘Abu>d, al-Insa>n fi> al-Isla>m wa al-Insa>n al-Mu’a>s}ir (t.tp.: Da>r al-Fikr al-‘Arabi>, 1978), h. 123.

[16]Moussa, Islam and Humanity, h. 55.

[17]Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam (Lahore: Asyraf Publication, 1971), h. 154.

[18]Syari’ati, Humanisme, h. 47-49. Bandingkan dengan Moussa, Islam and Humanity’s, h. 52; Abdul Hameed Siddiqi, Islam and the Remaking of Humanity (Lahore-Pakistan: Kazi Publications, 1978), h. 233.

[19]Kebebasan (freedom)terikat dengan pembebasan (liberation). Lihat Richard K. Khuri, Freedom, Modernity, and Islam: Toward a Creative Synthesis (USA: Syracuse University Press, 1998), h. 338.

[20]Mus}t}afa> al-Siba>’i>, Isytira>kiyyah al-Isla>m (t.tp.: al-Na>syiru>n al-‘Arab, 1977), h. 71.

[21]Machasin, “The Concept of Human Being”, h. 10 & 12; ‘Ali> Khali>l Abu> al-‘Ainain, Falsafah al-Tarbiyah al-Isla>miyyah fi> al-Qur’a>n al-Kari>m, pengantar: ‘Abd al-Gani> ‘Abbu>d (t.tp.: Da>r al-Fikr al-‘Arabi>, 1980), h. 96.

[22]Aisyah bintu Syati, Manusia dalam Perspektif al-Qur’an, terj. Ali Zawawi (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999), h. 58-9.

[23]Hassan Hanafi, “Global Ethics and Human Solidarity”, International Seminar on Islam and Humanism: Universal Crisis of Humanity and the Future of Religiosity, (Semarang: IAIN Walisongo, 5-8 November 2000), h. 4.

[24]Machasin, “The Concept of Human Being”, h. 7.

[25]Pierre Dubois, jaksa agung dan pencetus proyek federasi Kristen awal abad ke-19, mengatakan, “Orang-orang Islam adalah musuh terhadap umat Kristen. Kita wajib memerangi mereka dan mengusir mereka sebagaimana suatu masyarakat yang teratur memerangi dan menghukum penjahat.”  Kutipan Graven ini disitir Boisard dalam Humanisme dalam Islam, h. 20.

[26]Shihab, Wawasan al-Quran, h. 487-9.

[27]Mastuhu, Memperdayakan Sistem Pendidikan Islam, peng. Hasan Lunggulung, (Jakarta: Logos, 1999), h.  15.

[28]Asma Hasan Fahmi, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, terj. Ibrahim Husein (Jakarta: Bulan Bintang,  1979), h. 105.

[29]George R. Knight, Issues and Alternatives in Educational Philosophy, (Michigan: Andews University Press – Berrien Spring, 1982), h. 87.

[30]John D. McNeil, Curriculum: A Comprehensive Introduction, (London: Brown Higher Education, 1972), h. 6.

[31]Muh}ammad ibn Jari>r ibn Yazi>d ibn Kha>lid al-T{abariy,  Ja>mi‘ al-Baya>n ‘an Ta’wi>l al-Qur’a>n, Juz 3, dalam Maktabah al-Tafsi>r wa-‘Ulu>m al-Qur’a>n, CD Program Versi 1.5, (Urdun: al-Khat}i>b: 1999),  h. 327.

[32]‘Ali> Khali>l Abu> al-‘Ainain, Falsafah al-Tarbiyah al-Isla>miyyah fi> al-Qur’a>n al-Kari>m (t.tp.: Da>r al-Fikr al-‘Arabi>, 1980), h. 153-7.

[33]Syed Sajjad Husain dan Syed Ali Ashraf, Krisis Pendidikan Islam, ed. & terj. Rahmani Astuti (Bandung:  Risalah, 1986), h. 55 dan 121.

[34]Bandingkan dengan Q.S. al-Ma.idah/5: 4; al-Baqarah/2: 151, 251, dan 282, Yu>suf/12: 37; al-Rah}ma>n/55: 1-3; al-Baqarah/2: 239; dan al-Nisa>’/4: 113;

[35]Ah}mad ibn ‘Abd al-H{ali>m ibn Taimiyah al-H{ira>niy, Kutub wa Rasa>il wa Fata>wa> Ibn Taimiyah fi> al-Tafsi>r, dalam Maktabah al-Tafsi>r wa-‘Ulu>m al-Qur’a>n, CD Program Versi 1.5, (Urdun: al-Khat}i>b: 1999), Juz14, h. 297.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: