TRANPERSONALISME DALAM PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM

18 Nov

Makalah ini telah dipublikasikan dalam Jurnal TASAMUH, Vol. I, Nomor 2, September 2010, ISSN 2088-0847, hlm. 240-255

 

TRANSPERSONALISME DALAM

PEMIKIRAN  PENDIDIKAN  ISLAM

 

Dr. Musthofa Rahman, M.Ag.

Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang

A.      Pendahuluan     

Transpersonalisme dalam pendidikan tidak terlepas dari disiplin psikologi. Transpersonal sebagai cabang psikologi tampak sekali melakukan “gugatan” terhadap psikologi modern yang terlalu lama dibelenggu oleh rasionalitas dan obyektifitas sehingga menafikan sisi ruhani manusia. Cabang baru psikologi ini memandang bahwa untuk mencapai kesadaran tingkat tinggi, emosi dan intuisi memegang peranan yang lebih penting daripada peran rasio. Dalam hal ini, psikologi transpersonal telah memperhitungkan agama sebagai salah satu alternatif sumber pengetahuan yang layak dan absah tentang manusia dan telah merekomendasikan sebuah cara baru dalam menelaah fenomena pengalaman batiniah.

Dalam konteks kependidikan, transpersonalisme merupakan gerakan yang sangat memperhatikan pribadi di luar dirinya. Melalui pendidikan ini, seseorang akan menjadi sadar akan perasaan, fantasi dan pengalaman sebagai bawaan manusia sehingga mampu memulai merasakan hubungan segala sesuatu. Perhatian pendidikan transpersonal adalah perasaan spiritual tetapi bukan sekte agama tersendiri.[1] Kajian pendidikan Islam yang tidak terbatas pada dimensi jasmani mengharuskan dimensi rohani sebagai wilayah perhatiannya, bahakan menjadi aspek yang eih penting. Islam sebagai agama suci yang diturunkan oleh Tuhan (Allah) mengajarkan spirituaitas.[2] Ajaran-ajarannya dipastikan terjaga otentisitasnya dan memiliki nilai penting sehingga perlu dikaji untuk pengembangannya. Aspek spiritual inilah yang akan dikaji dalam persepektif pendidikan transpersonal.

 

B.       Transpersonalisme dalam Islam

Secara etimologis, transpersonalime berarti faham/aliran di luar diri manusia. Faham ini mengacu kepada pemikiran yang berada di atas (kesadaran) manusia dan mengacu kepada dimensi transendensi kesadaran manusia yang melampaui dirinya.[3] Istilah transpersonal  sering digunakan untuk merujuk pada kategori psikologis yang melampaui fitur normal dari ego yang berfungsi biasa yang berupa kesadaran yang bergerak di luar nalar rasional dan mendahului mistis.[4] Takel menyatakan:

The Transpersonal Perspective, thus, is the endeavor to put the responses of the spiritual traditions and the philosophical/psychological schools together by means of a new creative synthesis and connect it to “human consciousness”- a term which now embodies spiritual, philosophical and psychological significance.[5]

Transpersonal merupakan kesadaran yang melampaui kemampuan nalar pribadi yang bersifat rasional. Makna transpersonal mecakup pribadi seseorang dan sesuatu di luar dirinya (both the personal and what is beyond it).[6] Pengalaman transpersonal membantu pergeseran paradigma besar dari ilmiah tradisional-naturalistik kepada dimensi yang lebih lebih holistik-spiritual. Dimensi spiritual menjadi aspek penting dari motivasi manusia. Mencari Tuhan (Allah), realita, kebenaran, atau apa pun, telah menjadi aspirasi utama dan kekuatan manusia. Dimensi transpersonal membawa kekuatan motivasi kepada pusat kesadaran.[7] Transpersonal tidak hanya mencakup pengalaman tertinggi manusia tetapi juga alam yang sangat pribadi dari kesadaran biasa.

Pada dasarnya, transpersonal merupakan suatu cabang psikologi yang dikembangkan dari psikologi humanistik. Maslow menjelaskan kata kunci untuk Psikologi Humanistik adalah “self-actualization” (aktualisasi diri),  yaitu pengembangan kapasitas seseorang sedangkan kata kunci untuk Psikologi Transpersonal adalah “self-transcendence” (transendensi-diri), yakni kebangkitan spiritual secara penuh atau pembebasan dari ego yang berupa gagasan pengalaman puncak.[8]

Psikologi transpersonal –seperti halnya psikologi humanistik– menaruh perhatian pada dimensi spiritual manusia yang ternyata mengandung potensi dan kemampuan luar biasa yang sejauh ini terabaikan dari telaah psikologi kontemporer. Perbedaannya dengan psikologi humanistik adalah bila psikologi humanistik menggali potensi manusia untuk peningkatan hubungan antar manusia, sedangkan transpersonal lebih tertarik untuk meneliti pengalaman subjektif-transendental, serta pengalaman luar biasa dari potensi spiritual ini.

Psikologi Transpersonal mengkaji tentang potensi tertinggi yang dimiliki manusia, melakukan penggalian, pemahaman, perwujudan dari kesatuan, spiritualitas, serta kesadaran transendensi. Hal ini dapat dilihat dari pandangan aliran psikologi ini yang menganggap bahwa inti kemanusiaan adalah bukan fisik jasmaninya, melainkan psikis-rohaniah. Manusia memiliki kesadaran spiritual yang bisa berubah dan meningkat melalui jalan-jalan tertentu diantaranya melalui latihan spiritual dengan teknik meditasi.[9]

Rumusan tersebut menunjukkan dua unsur penting yang menjadi telaah psikologi transpersonal yaitu potensi-potensi yang luhur (potensi tertinggi) dan fenomena kesadaran manusia. Kajian transpersonal ini menunjukkan bahwa aliran ini mencoba mengkaji secara ilmiah terhadap dimensi yang selama ini dianggap sebagai bidang mistis, kebatinan, yang dialami oleh kaum agamawan atau orang yang mengolah dunia batinnya.

Hasil dari beberapa penelitian tranpersonal menunjukkan bahwa bidang kebatinan bisa menjadi bidang ilmu dan dapat dikaji secara ilmiah sehingga hal tersebut penting untuk dikaji lebih dalam dan tidak dianggap bertentangn  dengan ajaran agama yang akhirnya membelenggu ilmuwan psikologi untuk mempelajari potensi tertinggi tersebut. Karena itu, secara eksplisit Psikologi Transpersonal mengakui dan memanfaatkan psikologi spiritual yang mendalam dari Tradisi Besar (Hindu, Buddha, Tao, Kristen mistik, Yudaisme dan Sufisme Islam), serta wawasan baru dan metode dalam potensi manusia dan kesadaran-memperluas gerakan.[10]

Ajaran agama diturunkan dengan membawa nilai-nilai spiritual, cinta kasih, kebenaran dan keadilan ke dalam diri manusia. Nilai-nilai tersebut dipahami dan dikembangkan manusia untuk mendapatkan kehidupan yang baik dalam diri dan masyarakatnya. Transpersonalime lebih menekankan manfaat spiritual dalam kehidupan manusia dan tidak membahas kesucian agama.[11] Kesucian agama dan ajarannya dibahas dalam agama itu sendiri.

Islam sebagai agama suci memiliki ajaran transendental, di antaranya:

  1. Sifat dasar manusia adalah rohani. Transpersonal memberikan keunggulan kepada sumber spiritual yang mendukung dan menjunjung tinggi struktur psikologis dan filosofis dari diri manusia. Islam mengajarkan supaya manusia mentauhidkan (menyembah dan mengabdi) hanya kepada Allah. Sebuah ayat dalam al-Qur’an disebutkan: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (Q.S. al-Ru>m/30: 30). Fitrah Allah adalah ciptaan Allah. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama, yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid itu karena pengaruh lingkungan. Fitrah ini juga dimaksudkan sebagai potensi manusia untuk menjadi baik, bukan orang yang jahat.
  2. Manusia memiliki keinginan kuat dalam pencarian spiritual sebagai keutuhan melalui pendalaman kesadaran individu, sosial, dan transenden. Visi transpersonal melihat konteks pencarian yang lebih besar untuk kesatuan spiritual. Dalam Islam diajarkan supaya manusia tentram hidupnya harus selalu mengingat  Allah. Dalam al-Qur’an disebutkan: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allahlah hati menjadi tenteram” (Q.S. al-Ra’d/13: 28). Orang yang beragama selalu menjadikan Tuhan sebagai sandaran akan semua usaha yang telah dilakukan. Dengan bersandar (tawakkal/pasrah) itu, manusia akan mendapatkan ketengan jiwa. Melakukan tawakkal menjadi proses pencarian spiritualitas yang dilakukan manusia beriman.
  3. Hidup dan perbuatan yang bermanfaat. Transpersonalime melihat kebutuhan manusia untuk menemukan makna yang lebih dalam dan terus mengakui kontribusi untuk membangun dan terus menafsirkan arti yang lebih dalam. Menemukan makna menjadi cara mengatasi masalah. Islam melalui sabda Nabi Muhammad dalam sebuah hadits: “Orang yang paling dicintai Allah adalah orang paling banyak memberikan manfaat kepada orang lain. Perbuatan yang paling dicintai Allah adalah perbuatan yang dapat menggembirakan hati Muslim lainnya (H.R. Baihaqiy dan T{abraniy).  Setiap muslim dituntut untuk memiliki keahlian sehingga bisa membantu keperluan orang lain. Hal ini selanjutnya akan mampu menjadikan dirinya mencapai kebermaknaan hidup. Transpersonalisme bertujuan membantu individu dalam mengakses kebijaksanaan menjadi lebih realistis.

Prinsip-prinsip tersebut menjadi pijakan setiap muslim untuk menjadi manusia terbaik. Jiwa spiritualnya dapat memunculkan perilaku mulia yang menjadi contoh bagi orang lain. Mereka bukan menjadi masyarakat modern yang bodoh karena mendewakan faham materialisme semata. Hal ini merupakan aktualisasi konsep ih}sa>n dalam Islam yang mengajarkan: an-ta’buda Allah ka-anna-ka tara>-hu fa-in-lam-takun tara>-hu fa-inna-hu> yara>-ka.[12] Hadits ini menyuruh umat manusia agar waspada dan selalu merasa dirinya dalam pengawasan Allah.

Ajaran tentang ih}sa>n ini akan menyadarkan manusia sehingga selalu berbuat baik dan menghindari dan menjauhi perbuatan jahat. Kesadaran yang dibangun seorang Muslim akan berpengaruh dalam pribadinya sehingga tidak terlena pada pemenuhan fisik jasmani semata tanpa didasari nilai spiritual. Hilangnya kesadaran spiritual sangat boleh jadi mengantarkan perbuatan jahat yang tentu bertentangan dengan nilai transendental dari Allah. Kesadaran di luar diri seorang muslim yang bersumber dari yang transenden (Allah) inilah  yang dimaksud dengan transpersonalisme Islam. Karena itu ide transpersonalisme menjadi alternatif pendekatan dalam kajian pendidikan Islam.

C. Islam sebagai Pendekatan Pendidikan Transpersonal

Kajian tentang pendidikan hakikatya adalah membahas manusia. Hakikat manusia adalah pribadinya. Kepribadian manusia dalam perspektif pendidikan menjadi penting dikaji. Tanpa pendidikan nilai kemanusiaannya bisa berkurang atau bahkan hilang. Untuk itu, manusia dinyatakan sebagai makhluk pedagogik (mampu dididik dan mendidik).[13] Dengan pendidikan, menurut Zakiah Daradjat, manusia mampu menjadi khalifah di bumi, pendukung dan pengembang kebudayaan.[14] Kemampuan manusia ini bersumber dari Allah yang dimksudkan untuk mewujudkan tujuan diciptakannya manusia sebagai khalifah di muka bumi. Tujuan ini tidak terlepas dari jiwa spiritual manusia untuk pengabdian kepada Allah (‘abd Alla>h).

Dalam pandangan Islam pendekatan spiritual untuk pendidikan merupakan aspek modifikasi perilaku yang didasarkan pada hubungan antara manusia dan Penciptanya (Allah). Hal ini memerlukan suatu paradigma operasional dengan menjadikan iman kepada Allah sebagai fokus pembahasan. Iman merupakan konstruk kognitif dan etis yang mengumpulkan semua data dan fakta dalam perspektif yang tepat untuk untuk pemahaman yang benar dari proses pendidikan. Kesadaran tentang keyakinan dan keberadaan Allah berfungsi sebagai dasar mendidik manusia. Allahlah yang mencipta manusia dan mendidiknya sehingga memiliki ilmu/pengetahuan (Q.S. al-‘Alaq/96: 5).

Implikasi dari ayat di atas adalah pengakuan terhadap Allah sebagai Pencipta. Memiliki iman kepada-Nya adalah masalah keyakinan. Agama dan iman kepada Allah menjadi dasar pendidikan Islam. Pengetahuan Allah dalam diri manusia mendorongnya untuk merealisasikan iman. Dari keyakinan ini maka muncullah kesadaran yang mengarah ke pemurnian tubuh dan jiwa. Kesadaran ini disalurkan melalui proes pendidikan bagi manusia.

Islam memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan fisik serta rohani manusia dengan mengajarkan perilaku dan nilai-nilai sosial serta memberi makna bagi keberadaannya. Ajaran agama suci ini membantu mengembangkan sikap adaptif bagi peristiwa kehidupan dengan menghargai nilai pribadinya dan mengajarkan keutamaan kehidupan atas dasat rasa persaudaraan. Basheer Ahmed mengatakan:

Our religion, Islam, plays a significant role in satisfying our physical as well as spiritual needs. Islam teaches us, a code of behaviour, conservation of social values and gives us a meaning for our existence. It helps in toleration and developing adaptive capacities for stressful events of life. It gives us a sense of self-respect and teaches us about the virtues of family life and a cohesive society with a sense of brotherhood.[15]

Islam mengajarkan nilai-nilai untuk eksistensi diri manusia dengan mengedepankan kebaikan di lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat atas dasar persaudaraan. Dengan demikian, pendidikan transpersonal menggabungkan studi pengalaman transpersonal dan kehidupan secara keseluruhan. “Transpersonal education thus includes a variety of modalities for contacting and integrating transpersonal experience into one’s overall studies and life as a whole.[16]

Untuk itu, pembelajaran dan pengembangan spiritual dilakukan melalui aspek kesadaran transendental. Model pendidikan ini sama dengan pendidikan transpersonal. Istilah spiritual dapat dihubungkan dengan ajaran religius atau spiritual. Hal ini tentu sangat problematik dalam kajian pendidikan. Pendidikan ini menurut Thomas W. Moore menekankan kesadaran dan kepekaan diri.[17]

Ajaran Islam tidak mengejar obyektivitas dan manfaat material seperti pendidikan Barat. Pendidikan Islam mencari sesuatu yang bermanfaat bagi makhluk untuk mengagungkan Tuhan.[18] Tujuan ini ada kesamaannya dengan pendidikan dalam idealisme untuk membentuk manusia sempurna, yaitu manusia yang dapat mengaktualsasikan kebenaran dan kebaikan.[19] Karena itu, semua aktivitas pendidikan harus didasarkan pada nilai spiritual  (Q.S. al-‘Alaq/95: 1-4).[20] Perintah membaca (iqra’) sebagai aktivitas pendidikan atau pengajaran (ta‘li>m) dalam Islam harus disertai bi-ismi rabbik (membaca berdasarkan nilai atau ajaran ketuhanan). Landasan spiritual yang sekaligus mengantarkan tujuan pendidikan itu yang dijelaskan Ali Yafie sebagai berikut:

Melalui kata iqra’ itu, al-Qur’an juga mengingatkan bahwa pemikiran dan perenungan, sehubungan dengan rahasia penciptaan dan makna kehidupan, teramat penting untuk diinsyafi sebelum memulai segala perbuatan. Tanpa itu, manusia tak dapat mengembangkan pengetahuan yang sangat asasi bagi terwujudnya manusia dan peningkatan martabatnya sebagai makhluk pilihan. Namun tentu saja, al-Qur’an mengingatkan bahwa pikir saja tidaklah cukup. Pikir harus dilengkapi dengan dzikir (mengingat Allah), sebab Dialah –melalui kasih sayangnya—tempat memancarnya sumber kehidupan dan pengetahuan.[21]

Dimensi zikir (mengingat Allah) menjadi syarat aktivitas pendidikan dalam menjamin nilai kemanusiaan manusia. Menurut Ibn Taimiyah, ilmu yang lepas dari nilai-nilai spiritual itu jauh dari kebenaran dan kebaikan.[22] Penguasaan ilmu harus menjaga potensi spiritualitas peserta didik agar tetap menjadi manusia muslim yang taat kepada Allah.[23] Pemikiran ini dijadikan dimensi penting dalam UUSPN No. 20 Tahun 2003 Pasal 1, yaitu:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Pendidikan Islam mengembangkan kepribadian manusia secara keseluruhan, yang meliputi intelektual, spiritual, emosi dan fisik sehingga seorang muslim akan menyiapkan diri dengan baik untuk melaksanakan tujuan kehadirannya di sisi Tuhan. Pendidikan harus mengantarkan peserta didik menjadi hamba Allah (‘abd Alla>h), bukannya hamba harta serta bukan hamba ilmu dan kemajuan teknologi yang lepas dari nilai-nilai ketuhanan. Aktivitas pendidikan yang menjangkau aspek di luar dan melampaui batas diri manusia itulah yang menjadi hakekat pendidikan transpersonal. Islam sebagai agama suci-samawi menjadikan nilai-nilai religius-spiritual-transendental sebagai pijakan dalam proses aktivitas hidup manusia.

Nilai-nilai itu harus diaktualisaskan dalam diri manusia. Pendidikan Islam berupaya mewujdudkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kesadaran akan eksistensi Allah yang berada di luar diri peserta didik mutlak diperlukan supaya hidupnya bisa mencapai kebahagiaan hakiki. Karena itu, penanaman nilai spiritual dalam diri peserta didik menjadi sangat penting.

D. Urgensi Pendidikan Transpersonal dalam Islam

Pendidikan transpersonal dalam Islam diharapkan mampu mengantarkan peserta didik memiliki jiwa spiritual yang tinggi sehingga sanggup dan mau menyemaikan ajaran agama dalam kehidupannya. Jiwa spiritual dalam diri manusia dapat memunculkan perilaku mulia yang menjadi contoh bagi orang lain. Mereka bukan menjadi masyarakat modern bodoh karena mendewakan faham materialisme semata. Saifuddin mengatakan:

… konteks masyarakat modern yang jahili, … mengandalkan budi daya manusia untuk merumuskan prinsip-prinsip kehidupan yang tidak bisa dipertahankan, karena paradigma dan epistemologi yang dipakai sesugguhnya kering sama sekali dari nilai-nilai spiritual. Jiwa-jiwa masyarakat modern tidak bisa bersemi untuk membuahkan perilaku yang harum, yakni uswatun hasanah.[24]

Begitu besar peran nilai spiritual dalam kehidupan manusia sehingga Majelis Kesehatan Dunia memberikan penekanan nilai penting masalah spiritual bagi kesehatan manusia. Dalam Eastern Mediterranean Health Journal melalui artikel  “Islam and Mental Health”, Baasher mengatakan:

When considering the Global Strategy for Health for All by the Year 2000, the World Health Assembly in 1984 rightly stressed the importance of the spiritual element in health. Importantly, it was also decided that this implies “a phenomenon that is not material in nature but belongs to the realm of ideas, beliefs, values and ethics that have arisen in the minds and conscience of human beings.[25]

Badan Kesehatan Dunia (WHO) juga sangat memperhatikan dimensi spiritual sehingga telah menghidupkan kembali minat utama dan memberi dorongan baru dengan peran unsur-unsur dasar manusia dalam pemahaman yang tepat dari fitur psikoreligius dan psikospiritual.[26] Nilai-nilai spiritual menjadi jiwa agama yang harus dipahamai secara seksama. Hussein Nasr menegaskan: “To uderstand Islam fully is to understand this universal massege from the heart and the manner in which the external elements of the tradition are related to this hidden centre.[27]

Untuk itu, sesungguhnya makna paling hakiki agama adalah kesadaran spiritual, yang di dalamnya ada satu kenyataan di luar kenyataan yang tampak ini, yaitu bahwa manusia selalu mengharap belas kasih-Nya, bimbingan tangan-Nya, serta belaian-Nya, yang secara ontologis tidak bisa diingkari, walaupun oleh manusia yang paling komunis sekalipun.[28] George Bernard Shaw menyatakan: “hanya agama Islamlah yang memliki kapasitas untuk berasimilasi terhadap perubahan eksistensi manusia sehingga memiliki daya tarik yang kuat dalam setiap abad. Islam adalah agama masa depan.”[29] Itulah mengapa nilai transpersonal yang bersumber dari spiritualisme menjadi penting untuk diaktualisasikan dalam sistem pendidikan Islam.

Adapun aktualisasi nilai-nilai spiritual dalam pendidikan transpersonal yang membentuk manusia (peserta didik) sebagai khali>fah Allah di muka bumi merupakan bekal dalam merealisasikan kelestarian dan daya guna alam semesta (Q.S. al-Baqarah/2: 30-31). Khali>fah adalah jabatan yang lebih bersifat kreatif daripada sekedar status. Eksistensinya terletak pada daya kreatif untuk memakmurkan bumi.[30] Manusia memegang mandat Tuhan untuk mewujudkan kemakmuran di muka bumi. Kekuasaan yang diberikan kepada manusia itu bersifat kreatif yang memungkinkan manusia mengolah serta mendayagunakan alam semesta untuk kepentingan hidupnya.[31] Untuk keperluan ini manusia disuruh berbuat baik dan mencegah perbuatan jahat (amar ma‘ru>f nahy munkar).[32]

Karena itu, pengembangan jiwa spiritual dalam pendidikan ini harus mengantarkan terwujudnya manusia yang sadar akan kehadiran zat di luar dirinya sebagai penggerak jiwa untuk memberikan kebaikan hidup manusia lain. Dengan bekal ilmu yang bersumber dan berjiwa spiritual (nilai-nilai ilahiyah), manusia hasil proses pendidikan ini mampu mengolah serta mendayagunakan bahan baku di bumi menjadi produk teknologi untuk kepentingan hidupnya dalam rangka pengabdian kepada Allah. Karena kemampuan lebih yang tidak dimiliki makhluk lain inilah, manusia diangkat sebagai khali>fah Allah di muka bumi. Akan tetapi, status khali>fah mengharuskan manusia selalu menyeru kepada kebaikan dan mencegah keburukan. Tugas sosial bagi setiap manusia adalah saling menasehati sesama supaya selamat hidupnya.

Tanggung jawab sosial dalam upaya memelihara nilai kemanusiaan sebagai tugas kekhila>fahan manusia menjadi tujuan pendidikan. Bangunan masyarakat yang terbentuk dari individu-individu hasil pendidikan ini juga merupakan sasaran dari cita-cita pemikiran transpersonalisme Islam. Pendidikan memiliki kontribusi dalam mewujudkan masyarakat spritual. Nilai-nilai akhlak harus menyatu dalam menjamin dan memberikan perlindungan nilai, harkat dan martabat manusia sebagai peserta didik. Mereka itulah yang layak diberi predikat manusia sempurna (insa>n ka>mil), manusia teladan, unggul dan luhur karena selalu mengaktalisaikan nilai-nilai ilahiyah dalam kehidupannya.

Pendidikan transpersonal berusaha membantu, menolong dan memberikan kesempatan peserta didik untuk mengaktualisasikan dirinya menjadi manusia rabba>ni>. Pendidikan ini akan mengembangkan potensi ilahiyahnya untuk tetap menjadi hamba Allah (‘abdulla>h) dan wakil Tuhan (khali>fatulla>h)yang berertugas membangun kemakmuran, keadilan, kedamaian, persamaan dan persaudaraan dalam masyarakatsecara luas sebagai pengabdian kepada-Nya sebagai wujud nilai-niai spiritualnya. Pendidikan transpersonal dalam Islam berupaya memahami kebenaran dan kebaikan universal yang bersumber dari ajaran Islam dalam kehidupan bersama.

Hasil pendidikan ini adalah manusia sempurna karena kemampuannya mengembangkan potensi positif dan menghilangkan potensi negatif sehingga mencapai hakikat kemanusiaan sesuai fitrahnya. Pendidikan transpersonal diorientasikan untuk meningkatkan ketenaangan jiwa, kesadaran diri, rasa kasihan, kemampuan kreatif dan pengetahuan yang mendalam.[33] Hal ini sejalan dengan tujuan utama dari agama adalah mengembelikan manusia supaya memiliki kesadaran akan jati diri dan nasib spiritualnya melalui ilmu pengetahuan yang benar dan tingkah laku yang baik.

Pemikiran ini menurut Daud sebenarnya tujuan hidup di dunia, yaitu kembali kepada Tuhan.  Jasad/badan manusia memiliki kontribusi yang besar terhadap perkembangan intelektual dan spiritual manusia. Hanya dengan melalui badan itu, jiwa spiriutalnya mampu memperoleh informasi dan data tentang dunia inderawi dan pengalaman.[34] Pendidikan transpersonal diharapkan mampu membentuk persepsi, keyakinan dan sikap hidup spiritual sehingga memberi pengaruh bagi keselamatan hidup dan kesehatan baik fisik maupun mental. Hal ini harus dimanfaatkan demi kepentingan manusia sebagai makhluk Tuhan. Manusia mampu megetahui perjanjian pertama (primordial covenant) antara manusia dengan Tuhan.

Dengan demikian, hakikat pada transpersonal yang lebih terfokus pada penyadaran rohani (spiritual) ini menurut al-Attas bersumber dari konsep ta’di>b.[35] Istilah ta’di>b ini tidak terbatas pada aspek kognitif tapi juga meliputi aspek spiritual, moral dan sosial.[36] Pendidikan bukanlah proses yang akan menghasilkan spesialisasi keilmuan akan tetapi sebagai proses menghasilkan individu yang baik, yang akan menguasai berbagai disiplin ilmu secara integral dan koheren yang mencerminkan pandangan hidup Islami.

Pendidikan transpersonal bertolak dari konsep fitrah sebagai cetakan atau pemberian dari Allah yang berisi potensi baik dan potensi buruk. Potensi ini akan berkembang dan teraktualisasi dalam kehidupan tergantung pada pendidikan dan budaya. Kalau manusia tepat mengembangkan potensi positif akan dekat dengan sifat Ilahiyah; sebaliknya manusia akan bisa lebih jahat daripada setan. Tugas pendidikan adalah mengurangi atau bahkan menghilangkan potensi jahat dan mengembangkan potensi baiknya. Berdasar fitrah yang dibawa manusia sejak lahir, pendidikan ini berusaha mengaplikasikan, mengembangakan dan menanamkan nilai-nilai universal dalam dirinya.

Islam dengan watak religius-tauhidnya mengintegrasikan aspek spiritual sebagai satu kesatuan orientasi pendidikan yang tidak bisa dipisahkan dari aspek sosial dan materialnya diharapkan bisa membentuk manusia kongkrit yang sempurna sebagai manusia beradab. Mereka itulah yang layak diberi predikat manusia sempurna (insa>n ka>mil), manusia teladan, unggul dan luhur. Inilah profil manusia spiritualis yang menjadi fokus kajian pendidikan transpersonal.

Konsep ini bertolak dari pemikiran Islam yang dibangun dari hubungan vertikal dan horisontal, teosentris dan antroposentris. Transpersonalisme menjadi bagian integral dari ajaran Islam. Transendensi dalam pemikiran pendidikan Islam ditujukan untuk menambahkan dimensi rohani (jiwa) dalam hidup manusia. Pola hidup hedonis, materialis dan budaya yang negatif harus dibersihkan dengan mengingat kembali dimensi spiritual yang menjadi fitrah manusia.[37] Pendidikan ini memandang manusia sebagai makhluk mulia dan bertanggung jawab atas pilihan dan tindakannya yang memiliki kebebasan mengembangkan diri sesuai dengan keinginannya sehingga terbebas dari belenggu pihak lain namun mereka tetap memiliki kerendahan hati dan ketundukan pada kekuasaan Tuhan.

Pendidikan Islam dengan pendekatan transpersonalisme ini sejak awal berusaha mewujudkan manusia sebagai makhluk yang mulia dengan menjadikan dimensi spiritual sebagai penggerak jiwa untuk berpikir, bersikap dan berbuat sehingga sesuai kebaikan universal. Perintah membaca (iqra’)dalam Q.S. al-‘Alaq/96: 1-5 menjadi dasar pendidikan untuk perbaikan, pembebasan dan pencerahan kemanusiaan atas dasar nilai ilahiyah yang menjadi inti transpersonalisme. Kesadaran yang muncul dari jiwa ini akan menghindarkan mereka dari kesombongan yang bertentangan dengan dengan ruh (spirit) pendidikan ini. Sebaliknya, dengan prinsip itu manusia hasil pendidikan ini memiliki kesediaan untuk mengabdi pada Tuhan dan kerendahan hati terhadap sesama manusia.

Untuk itu, pendidikan transpersonal dalam Islam berupaya membebaskan manusia dari kebutaan spiritual yang menjadi musuh agama. Kebutaan spiritual menjadikan manusia mudah terbelenggu keserakahan material. Pendidikan ini tidak cukup hanya diarahkan pada tugas membebaskan manusia dari belenggu kehidupan material dan intelektual tapi juga harus membebaskan manusia dari belenggu spiritual. Konsep inilah yang harus diaktualisasikan dalam aspek-aspek pendidikan transpersonal dalam Islam.

E. Penutup

Transpersonalime dalam Islam merupakan faham/ajaran yang  mengacu kepada kesadaran yang dibangun seorang Muslim yang bersumber dari yang transenden (Allah). Ajaran tentang ih}sa>n dalam agama suci ini akan menyadarkan manusia untuk waspada dan selalu merasa dirinya dalam pengawasan Allah. Kesadaran tentang keyakinan dan keberadaan Allah berfungsi sebagai dasar mendidik manusia.  Aktivitas pendidikan yang menjangkau aspek di luar dan melampaui batas diri manusia itulah yang menjadi hakekat pendidikan transpersonal. Pendidikan transpersonal diharapkan mampu membentuk persepsi, keyakinan dan sikap hidup spiritual sehingga memberi pengaruh bagi keselamatan hidup dan kesehatan baik fisik maupun mental. Islam dengan watak religius-tauhidnya mengintegrasikan aspek spiritual sebagai satu kesatuan orientasi pendidikan yang tidak bisa dipisahkan dari aspek sosial dan materialnya diharapkan bisa membentuk manusia kongkrit yang sempurna sebagai manusia beradab, manusia sempurna (insa>n ka>mil).

Pendidikan Islam dengan pendekatan transpersonalisme berusaha mewujudkan manusia sebagai makhluk yang mulia dengan menjadikan dimensi spiritual sebagai penggerak jiwa untuk berpikir, bersikap dan berbuat sehingga sesuai kebaikan universal. Perintah membaca (iqra’)dalam Q.S. al-‘Alaq/96: 1-5 menjadi dasar pendidikan untuk perbaikan, pembebasan dan pencerahan kemanusiaan atas dasar nilai ilahiyah. Kesadaran yang muncul dari jiwa ini akan menghindarkan mereka dari kesombongan yang bertentangan dengan dengan ruh (spirit) pendidikan ini. Sebaliknya, dengan prinsip itu manusia hasil pendidikan ini memiliki kesediaan untuk mengabdi pada Tuhan dan kerendahan hati terhadap sesama manusia. Pendidikan transpersonal dalam Islam berupaya membebaskan manusia dari kebutaan spiritual. Konsep inilah yang harus diaktualisasikan dalam aktivitas pendidikan Islam. Wa All>ah a’lam

 

 

DAFTR KEPUSTAKAAN

“Transpersonal”, http://en.wikipedia.org/wiki/Transpersonal.

Abdullah, M. Amin, “Religious Humanism versus Secular Humanism: towards a New Spiritual Humanism”, International Seminar on Islam and Humanism: Universal Crisis of Humanity and the Future of Religiosity, (Semarang: IAIN Walisongo, 5-8 November 2000).

Abraham Maslow, “Transpersonal Psychology, and self-Transcendence”, http://www.rare-leadership.org/Maslow_on_transpersonal_psychology.html

Ahmed, Basheer, “Islamic Values and Ethics in Prevention and Treatment of Emotional Disorders”, http://www.icsfp.com/en/contents. aspx?aid=6862

Baasher, T.A., “Islam and Mental Health” Eastern Mediterranean Health Journal (Volume 7, No. 3, May 2001).

Bukhariy, Abu ‘Abd Allah Muhammad bin Isma>i> bin Mughirah al-, S{ah}i>h} al-Bukhariy, (Kairo: Dra>r alSyub, 1987), Juz 1.

Daradjat, Zakiah, et.al., Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011).

Daud, Wan Mohd Nor Wan, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib al-Attas, terj. Hamid Fahmy, M. Arifin Ismail dan Iskandar Amel, (Bandung: Mizan, 2003).

Harahap, Syahrin, Islam Dinamis: Menegakkan Nilai-nilai al-Qur’an dalam Kehidupan Modern di Indonesia, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1997).

Ibn H{ajr al-‘Asqala>ni> al-Sya>fi‘i>, Ah}mad ibn ‘Ali>, Lisa>n al-Mi>za>n, dalam al-Maktabah al-Alfiyah, juz 4.

Ibn Taimiyah al-H{ira>niy, Ah}mad ibn ‘Abd al-H{ali>m, Kutub wa Rasa>il wa Fata>wa> Ibn Taimiyah fi> al-Tafsi>r, dalam Maktabah al-Tafsi>r wa-‘Ulu>m al-Qur’a>n, CD Program Versi 1.5, (Urdun: al-Khat}i>b: 1999), juz14.

Knight, George R., Issues and Alternatives in Educational Philosophy, (Michigan: Andews University Press–Berrien Spring, 1982).

Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi, ed. A.E. Priyono (Bandung: Mizan, 1998).

Moore, Thomas W., “Transpersonal Education: A Preview”, Journal of Education, (Vol. 157/4, Nov. 1975).

Muhadjir, Noeng, “Pendidikan dalam Perspektif al-Qur’an: Tinjauan Mikro”, dalam Yunahar Ilyas dan Muhammad Azhar (ed.), Pendidikan dalam Perspektif al-Qur’an (Yogykarta: Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam (LPPI) UMY, 1999).

Musa Asy‘ari, Manusia Pembentuk Kebudayaan dalam al-Qur’an (Yogykarta: Lembaga Studi Filsafat Islam-LESFI, 1992).

Nasr, Seyyed Hossein, The Heart of Islam: Enduring Values for humanity, (New York: HarpeCollins, 2002).

Neufeldt, Victoria (ed.), Webster’s New World Colllege Dictionary, (USA: Macmillan, 1996).

Ridla>, Muh}ammad Jawwa>d, al-Fikr al-Tarbawiy al-Isla>miy: Muqaddimah fi> Us}u>lihi al-Ijtima>iyyah wa al-‘Aqla>niyyah, (t.tp.: Da>r al-Fikr al-‘Arabiy, t.t.).

Saefuddin, A.M.  et.al, Desekularisasi Pemikiran: Landasan Islamisasi, (Bandung: Mizan, 1998).

Takei, Franklin S., “The Transpersonal Perspective”, http://www. vanrein.be/essays/frank.htm.

Totah, Khalil A., The Contribution of Arabs to Education, (New York: Teachers College Colubia University, 1921).

Yafie, Ali, “Al-Qur’an Memperkenalkan Diri”, Ulumul Qur’an: Jurnal Ilmu dan Kebudayaan (No. 1 Vo. I/1989).

_________________


[1] Thomas W. Moore, “Transpersonal Education: A Preview”, Journal of Education, (Vol. 157/4, Nov. 1975), hlm. 24.

[2] Seyyed Hossein Nasr, The Heart of Islam: Enduring Values for humanity, (New York: HarpeCollins, 2002), hlm. 5 dan 119.

[3] Kata “trans” berati above and beyond (di atas dan di luar/melibihi) dan kata “personal” berarti physical appearence (badan yang tampak). Lihat Victoria Neufeldt (ed.), Webster’s New World Colllege Dictionary, (USA: Macmillan, 1996), hlm. 1419 dan 1008. Bandingkan dengan    http://state.edsarath.com/faq.htm.

[4] Istilah ini sangat berhubungan dengan karya Abraham Maslow dan pemahamannya tentang ” pengalaman puncak “, dan pertama kali diadaptasi oleh gerakan potensi manusia pada tahun 1960. Lihat “transpersonal” dalam http://en.wikipedia.org/wiki/Transpersonal

[5] Franklin S. Takei., “The Transpersonal Perspective”, http://www. vanrein.be/essays/frank.htm.

[6] Takei, Ph.D., “The Transpersonal Perspective”.

[7] Spiritualitas adalah jiwa bebas yang mencari yang suci (Tuhan) yang sering tidak afiliasikan dengan agama tradisional.

[8] Abraham Maslow, “Transpersonal Psychology, and self-Transcendence”, http://www.rare-leadership.org/Maslow_on_transpersonal_psychology.html

[9] Aliran ini dikembangkan oleh tokoh dari Psikologi Humanistik antara lain: Abraham Maslow, Antony Sutich, dan Charles Tart.

[10] Maslow, “Transpersonal Psychology …”

[11] M. Amin Abdullah, “Religious Humanism versus Secular Humanism: towards a New Spiritual Humanism”, International Seminar on Islam and Humanism: Universal Crisis of Humanity and the Future of Religiosity, (Semarang: IAIN Walisongo, 5-8 November 2000), hlm. 10.

[12] Abu ‘Abd Allah Muhammad bin Isma>i> bin Mughirah al-Bukhariy, S{ah}i>h} al-Bukhariy, (Kairo: Dra>r alSyub, 1987), Juz 1, hlm. 20.

[13] Zakiah Daradjat, et.al., Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), hlm. 16.

[14] Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, hlm. 16.

[15] Basheer Ahmed, “Islamic Values and Ethics in Prevention and Treatment of Emotional Disorders”, http://www.icsfp.com/en/contents.aspx?aid=6862

[16]  Ahmed, “Islamic Values …”.

[17] Moore, “Transpersonal Education …”, hlm. 24.

[18]Bandingkan dengan Noeng Muhadjir, “Pendidikan dalam Perspektif al-Qur’an: Tinjauan Mikro”, dalam Yunahar Ilyas dan Muhammad Azhar (ed.), Pendidikan dalam Perspektif al-Qur’an (Yogykarta: Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam (LPPI) UMY, 1999), hlm. 91.

[19] Lihat George R. Knight, Issues and Alternatives in Educational Philosophy, (Michigan: Andews University Press – Berrien Spring, 1982), hlm. 43.

[20]Bandingkan dengan Q.S. al-Ma.idah/5: 4; al-Baqarah/2: 151 dan 251, 282, Yu>suf/12: 37. al-Rah}ma>n/55: 1-3; al-Baqarah/2: 239; dan al-Nisa>’/4: 113;

[21]Ali Yafie, “Al-Qur’an Memperkenalkan Diri”, Ulumul Qur’an: Jurnal Ilmu dan Kebudayaan (No. 1 Vo. I/1989), hlm. 3.

[22] Ah}mad ibn ‘Abd al-H{ali>m ibn Taimiyah al-H{ira>niy, Kutub wa Rasa>il wa Fata>wa> Ibn Taimiyah fi> al-Tafsi>r, dalam Maktabah al-Tafsi>r wa-‘Ulu>m al-Qur’a>n, CD Program Versi 1.5, (Urdun: al-Khat}i>b: 1999), juz14, hlm. 297.

[23] Bandingkan dengan Muh}ammad Jawwa>d Ridla>, al-Fikr al-Tarbawiy al-Isla>miy: Muqaddimah fi> Us}u>lihi al-Ijtima>iyyah wa al-‘Aqla>niyyah, (t.tp.: Da>r al-Fikr al-‘Arabiy, t.t.), hlm.7-8.

[24] A.M. Saefuddin et.al, Desekularisasi Pemikiran: Landasan Islamisasi, (Bandung: Mizan, 1998), hlm. 159.

[25] T.A. Baasher, “Islam and Mental Health” Eastern Mediterranean Health Journal (Volume 7, No. 3, May 2001), hlm. 372.

[26] Baasher, “Islam and Mental Health”, hlm. 373.

[27] Nasr, The Heart of Islam …, hlm. 314-5.

[28] Saefuddin, Desekularisasi Pemikiran …, hlm. 47.

[29] Pernyataan yang sama diungkapkan oleh Johan Wolfgang von Goethe. Seperti dikutip dalam Syahrin Harahap, Islam Dinamis: Menegakkan Nilai-nilai al-Qur’an dalam Kehidupan Modern di Indonesia, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1997), hlm.9.

[30] Saefuddin, Desekularisasi Pemikiran …, hlm. 87.

[31]Musa Asy‘ari, Manusia Pembentuk Kebudayaan dalam al-Qur’an (Yogykarta: Lembaga Studi Filsafat Islam-LESFI, 1992), hlm. 43.

[32]Hadis Nabi: “Orang yang menyuruh berbuat baik dan mencegah perbuatan jahat (amar ma‘ruf nahi munkar) adalah khali>fah Allah di buminya serta khali>fah kitab dan rasul-Nya”. Lihat Ah}mad ibn ‘Ali> ibn H{ajr al-‘Asqala>ni> al-Sya>fi‘i>, Lisa>n al-Mi>za>n, dalam al-Maktabah al-Alfiyah, juz 4, hlm. 480.

[34] Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib al-Attas, terj. Hamid Fahmy, M. Arifin Ismail dan Iskandar Amel, (Bandung: Mizan, 2003), hlm. 96-8.

[35] Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam…, hlm. 183.

[36] Khalil A. Totah, The Contribution of Arabs to Education, (New York: Teachers College Colubia University, 1921), hlm. 67-77.

[37] Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi, ed. A.E. Priyono (Bandung: Mizan, 1998), hlm. 289.

HUMANISASI SISTEM PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA

18 Nov

Makalah ini telah dipublikasikan dalam Jurnal NADWA, Vol. 3, Nomor 2, Oktober 2009, ISSN 1979-1739, hlm. 9-28

HUMANISASI SISTEM PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA

(Tinjauan Filosofis)

Oleh: Musthofa Rahman

 

 

Abstrak:   

 

Pendidikan berkaitan dengan upaya mengembangkan pandangan hidup, sikap hidup dan ketrampilan hidup. Makna pendidikan sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial politik dan geografisnya. Dalam konteks kebangsaan, pendidikan berperan untuk menyiapkan peserta didik untuk menghadapi masa depan dan menjadikannya bermartabat di antara bangsa-bangsa lain. Pendidikan perlu membiasakan anak-anak memahami eksistensi bangsa. Bagi bangsa Indonesia, nilai-nilai kemanusiaan yang telah disepakati itu dirumuskan ke dalam Pancasila. Pancasila sering disebut humanistik-universalistik. Pendidikan di Indonesia diarahkan untuk  mewujudkan manusia yang kreatif, mandiri dan bertanggung jawab yang menjadi orientasi utama pendidikan humanistik. Rumusan tujuan pendidikan nasional ini memiliki titik sinkron dengan konsep pendidikan humanistik sehingga arah pendidikannya sudah humanis. Pendidikan Islam sebagai sub sistem pendidikan nasional berupaya mewujudkan tujuan tersebut berdasarkan konsep ajaran Islam. Orientasi penyelenggaraan pendidikan di lembaga pendidikan Islam bertolak dari Filsafat Teosentrisme. Penekanan pada kebaikan akhlak, persatuan dan persaudaraan serta penanaman jiwa kemandirian dalam diri peserta didik sebagai pilar-pilar humanisme Islam merupakan tradisi di lembaga pendidikan Islam.

 

Kata Kunci:  humanisasi,filosofis, spiritual, religius.

A.   Pendahuluan

Pembahasan tentang filosofi pendidikan tidak bisa lepas dari kajian tentang manusia. Jati diri manusia berkaitan dengan posibitas dan aktualitas. Manusia selalu dalam proses menjadi, bukan hanya being tapi juga becoming. Manusia selalu dalam gerak, proses dan transisi yang tak pernah selesai menuju aktualitas potensi tingkat tertinggi yang mungkin bisa dicapainya. Karena itu, pemberian makna terhadap istilah pendidikan itu sangat beragam karena sifatnya yang dinamis. Semua ini bermuara pada terbentuknya manusia yang sesungguhnya. Atas dasar itulah,  pemabahruan pendidikan Islam, tidak terkecuali pendidikan Islam di Indonesia, dalam pandangan Maarif, haruslah terlebih dahulu memperjelas kerangka filosofisnya yang harus dikerjakan secara kolektif dan tidak beralasan mengejar waktu sehingga menimbulkan kesan terburu-buru dan seadanya.[1]

Pendidikan dalam arti luas menurut Zamroni adalah proses yang berkaitan dengan upaya mengembangkan diri seseorang pada tiga aspek kehidupan, yakni: pandangan hidup, sikap hidup dan ketrampilan hidup.[2] Pendidikan dimaksudkan sebagai proses penyiapan generasi muda untuk menjalankan kehidupan dan memenuhi tujuan hidupnya secara lebih efektif dan efesien. Pendidikan adalah membimbing manusia ke arah pembentukan diri yang mengarahkan manusia kepada masa depan yang gemilang. Karena itu, tujuan menempati posisi sentral dalam perubahan. Dalam pandangan Fullan, tujuan pendidikan menentukan arah inovasi sistem pendidikan.[3]

Untuk itu, perbedaan makna pendidikan secara prinsip juga disebabkan oleh tujuan pendidikan yang ingin dicapai sehingga berbeda-beda pada setiap masanya. Makna pendidikan juga sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial politik dan geografisnya. Dalam konteks kebangsaan, pendidikan berperan untuk menyiapkan peserta didik untuk menghadapi masa depan dan menjadikannya bermartabat di antara bangsa-bangsa lain. Dalam konteks globalisasi, pendidikan perlu membiasakan anak-anak memahami eksistensi bangsa. Pendidikan itu membentuk masa depan.

B.     Pancasila sebagai Pijakan Humanisasi Pendidikan Islam

Pendidikan Islam di Indonesia sebagai sub sistem pendidikan nasional bertolak dan bermuara pada pencapaian tujuan pembangunan nasional di bidang pendidikan. Semua jenis pendidikan di negeri ini harus didasarkan pada nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara. Untuk itu, pemikiran pendidikan humanistik juga berakar dari nilai-nilai tersebut. Bagi bangsa Indonesia, nilai-nilai kemanusiaan yang telah disepakati itu dirumuskan ke dalam Pancasila. Atas dasar itulah, Pancasila sering disebut humanistik-universalistik. Dikatakan humanistik karena dasar negara ini memuat nilai-nilai kemanusiaan; dan disebut universalistik karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya bersifat mendasar yang berlaku bagi setiap orang.

Pendidikan yang berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan Pancasila memiliki lima ciri, yaitu: (1) hormat terhadap keyakinan relijius setiap orang, (2) hormat terhadap martabat manusia dan hak asasinya, (3) berwawasan kebangsaan, (4) demokratis, serta (5) menjunjung dan menegakkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Nilai-nilai ini dijadikan dasar dalam merumuskan kebijakan sistem pendidikan nasional. Pancasila sebagai dasar negara Indonesia dengan sila pertama, Ketuhanan Yang Mahaesa berimplikasi kepada keharusan bangsa Indonesia untuk bersikap teosentris yang dalam ajaran Islam dimaknai sebagai konsep Tauhid. Untuk itu, pengembangan pendidikan Islam di Indonesia perlu didasarkan pada tipologi rekonstruksi sosial menuju antropomorfisme yang bertolak dari teosentrisme. Upaya pemanusiaan manusia dalam sistem pendidikan Islam di Indonesia harus didasarkan pada nilai-nilai Pancasila yang sesuai ajaran Islam.

Filosofi yang menjadi tujuan pendidikan nasional tersebut sesuai tujuan negara. Tujuan penyelenggraan negara yang dinyatakan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 sejalan dengan konsep tujuan pendidikan dalam Undang–undang tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU SPN) Nomor 2 Tahun 1989 Pasal 4 dinyatakan:

Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Mahaesa dan berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Konsep tujuan pendidikan di Era Reformasi (Otonomi Pendidikan) mengalami penyempurnaan melalui penggantian UU SPN No. 2 Tahun 1989 dengan UU Nomor 20 Tahun 2003. Penggantian UU ini merupakan tuntutan pembaharuan pendidikan yang diamanatkan oleh Amandemen Undang-undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai respon terhadap perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara dalam konteks kehidupan sosial dalam era global berteknologi informasi dan komunikasi. UU yang baru ini memberikan dasar hukum untuk membangun pendidikan nasional dengan menerapkan prinsip demokrasi, desentralisasi, otonomi, keadilan dan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Untuk itu, dalam Pasal 3 UU Nomor 20 Tahun 2003 tersebut dinyatakan:

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Mahaesa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

Rumusan tujuan pendidikan nasional ini memiliki titik sinkron dengan konsep pendidikan humanistik. UU No. 20 Tahun 2003 ini arahnya sudah humanis. Pengembangan potensi peserta didik supaya menjadi manusia yang kreatif, mandiri dan bertanggung jawab merupakan orientasi utama pendidikan humanistik. Sistem pendidikan di Indonesia tidak terlepas dari duplikasi pendidikan di negara-negara Barat. Sistem pendidikan di negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam ini secara teoritis banyak diwarnai oleh Filsafat Humanisme.

Namun orientasi ini harus menyatu dengan upaya membentuk manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang tidak kehilangan ciri kebangsaannya. Hal ini disebabkan oleh sistem pendidikan nasional itu berakar pada nilai-nilai agama dan kebudayaan nasional. Fullan mengatakan, “Changes in beliefs are even more difficult: they challenge the core values held by individuals regarding the purposes of education”.[4] Kepercayaan keagamaan berperan kuat dalam menentukan orientasi sistem pendidikan suatu bangsa.

Atas dasar itu, sistem pendidikan di Indonesia diharapkan mampu menghasilkan manusia yang memiliki kemampuan dan kreativitas berdasarkan nilai-nilai moral yang mulia untuk kebaikan hidup sesuai nilai-nilai kemanusiaan dalam rangka pengabdian dirinya kepada Tuhan. Karena itulah,  dalam UUSPN No. 20 Tahun 2003 Pasal 1 dinyatakan:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensinya dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Berdasarkan konsep dan tujuan tersebut, bila ditinjau dari konsep pendidikan humanistik akan tampak upaya mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan dalam sistem pendidikan nasional.

C.    Nilai-nilai Humanis dalam Filsafat Pendidikan Nasional

Filosofi sistem pendidikan di Indonesia didasarkan pada nilai-nilai Pancasila, yaitu: nilai ketuhanan, kemanusiaan, kebangsaan, kerakyatan dan keadilan. Nilai-nilai ini dijadikan dasar dalam merumuskan kebijakan sistem pendidikan nasional. Dari nilai-nilai tersebut dapat dikemukakan karakteristik pendidikan yang berasaskan nilai-nilai kemanusiaan Pancasila, yaitu:

1. Menghormati keyakinan relijius setiap orang

Pancasila sebagai dasar negara Indonesia dengan sila pertama, Ketuhanan Yang Mahaesa berimplikasi kepada keharusan bangsa Indonesia untuk bersikap teosentris yang dalam ajaran Islam dimaknai sebagai konsep Tauhid. Teosentrisme dalam pendidikan humanistik yang mengembangkan potensi anak itu bermuara pada pembentukan manusia seutuhnya. Orientasi ini dalam pandangan Barnadib berarti mencegah berkembangnya manusia yang monodimensional.[5] Upaya ini menuntut kesadaran akan pengembangan potensi yang tidak boleh lepas dari tujuan untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan dalam diri peserta didik.

Orientasi keagamaan ini harus menyatu dengan upaya membentuk manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang tidak kehilangan ciri kebangsaannya. Hal ini disebabkan oleh sistem pendidikan nasional itu berakar pada nilai-nilai agama dan kebudayaan nasional. Fullan mengatakan, “Changes in beliefs are even more difficult: they challenge the core values held by individuals regarding the purposes of education”.[6] Kepercayaan keagamaan berperan kuat dalam menentukan orientasi sistem pendidikan suatu bangsa. Husain dan Ashraf dalam bukunya Krisis Pendidikan Islam memandang bahwa pendidikan Islam sangat menekanan kesadaran itu supaya tumbuh keimanan dan kesalehan dalam diri seseorang yang dijadikan tujuan fundamental yang sekaligus menjadi ciri khusus pendidikan Islam. Desakan untuk mengkaji ajaran Islam dapat dijadikan pegangan untuk memperkuat kesadaran itu.[7]

Pendidikan sebagai upaya bimbingan terhadap manusia ke arah pembentukan diri menuju masa depan yang gemilang merupakan proses penyempurnaan diri (becoming atau istikma>l) bagi setiap individu. Hal ini mengindikasikan perlunya disiplin diri yang hanya bisa dicapai melalui pendidikan sebagai proses pembudayaan. Pendidikan yang semata-mata berpola transfer ilmu, bukan sebagai proses pembudayaan, pada hakekatnya adalah praktek indoktrinasi.[8] Terhadap tindakan ini Fazlur Rahman dalam Islam & Modernity: Tranformation of an Intellectual Tradition, mengatakan: “As for indoctrination in the sense of brainwashing, I have already pointed out that this technique of creating future generations of the faithful in fact ultimately backfire.[9]

Indoktrinasi dalam pendidikan dapat memunculkan generasi yang tertekan yang pada akhirnya bisa menjadi pemberontak. Pendidikan dengan cara ini justeru dinilai tidak berhasil dalam mengemban tugasnya. Pengembangan pendidikan Islam di Indonesia perlu didasarkan pada tipologi rekonstruksi sosial menuju antropomorfisme yang bertolak dari teosentrisme. Upaya pemanusiaan manusia dalam sistem pendidikan Islam di Indonesia harus didasarkan pada nilai-nilai Pancasila yang sesuai ajaran Islam.

Bertolak dari pemikiran ini, pendidikan humanistik tidak boleh mengembangkan humanisme ateis (anti Tuhan) atau humanisme yang melupakan tradisi budaya bangsa dan humanisme yang melupakan rakyat (masyarakat bawah). Praktek pendidikan yang paternalistik dan otoriter tidak sesuai dengan prinsip pemeliharaan kemerdekaan dan kemandirian kreativitas anak.

2. Menghormati martabat manusia dan hak asasinya

Sila kemanusiaan yang adil dan beradab mengantrakan proses pembelajaran sangat menekankan pengembangan potensi peserta didik. Pembelajaran dikonsepkan supaya peserta didik yang aktif belajar sendiri. Model pembelajaran ini menjadi wujud upaya menjamin hak asasi peserta didik sebagai manusia yang berkembang untuk mewujudkan kemampuan sesuai potensi yang dimilikinya. Subyek didik baik secara individual maupun kolektif perlu difahami secara benar agar proses pendidikan dapat berhasil.[10] Konsep pendidikan harus didasarkan pada asumsi dasar tentang manusia, terutama pada potensi atau fitrahnya. Pendidikan humanistik menekankan proses pembelajaran bukan sekedar hasil. Pendidikan yang menekankan hasil cenderung menciptakan proses belajar yang mekanistik, mematikan mental dan kreativitas anak.

Proses pendidikan harus didasarkan pada prinsip penghargaan hak, minat dan kemauan setiap peserta didik. Namun di sisi lain, peserta didik juga dikembangkan untuk menghormat guru. Dalam pendidikan Islam klasik, menghormati guru menjadi keharusan (syarat) bagi santri. Sisi negatif dari keharusan menghormati guru adalah munculnya sikap taqlid (mengikuti pendapat tanpa kritik) dan sikap pengkultusan terhadap guru. Padahal Islam melarang umatnya untuk  bersikap taqlid buta.[11] Justeru Islam mengajarkan kepada umatnya untuk berpikir rasional dan melarang mengikuti pendapat yang tidak dikatahui dasarnya. Banyak ayat yang bergaya retorik yang menyuruh umatnya untuk  berpikir.

Adapun penghormatan pada guru sebagai syarat peserta didik dalam belajar, seperti Konsep al-zarnuji,[12]tidak dimaksudkan untuk membunuh kreativitas peserta didik. Sikap hormat tidak boleh mengakibatkan sikap pengkultusan karena yang boleh dikultuskan hanyalah Tuhan yang harus disembah manusia. Persyaratan hormat kepada guru hanyalah untuk mendidik karakter peserta didik supaya memiliki jiwa hormat. Penghormatan kepada guru yang diperankan sebagai pengganti orang tua dalam mendidiknya diharapkan bisa memunculkan sikap hormat kepada orang lain lebih tua. Sikap ini juga menuntut sikap sayang kepada yang lebih muda.

Islam mengajarkan bahwa pendidikan sesungguhnya berperan penting untuk membawa bangkitnya kesadaran kritis masyarakat tentang perlunya menghormati hak asasi manusia. Pendidikan dalam konteks ini haruslah diberi makna sebagai proses pembebasan kemanusiaan. Pendidikan harus merupakan proses humanisasi, bukannya proses dehumanisasi.[13]  Pendidikan harus tidak hanya menjadikan manusia berbeda dari binatang tetapi juga harus merupakan proses humanisasi. Inti pendidikan adalah memiliki dan melaksanakan nilai-nilai kemanusiaan yang berlaku dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Nilai-nilai tersebut hidup dan berkembang serta dikembangkan dalam lingkungan yang berbudaya. Orientasi ini menjadi tuntutan kehidupan masa depan dalam kehiduapn global.[14] Harapan pendidikan adalah terwujudnya manusia Indonesia terdidik yang berkembang potensinya sebagai makhluk mulia yang memiliki kekuatan spritual keagamaan. Hasil pendidikan harus berupa manusia religius yang kreatif dan berakhlak mulia.

3. Berwawasan kebangsaan

Wawasan kebangsaan sebagai jiwa sila Persatuan Indonesia menuntut manusia sebagai pelaku aktif dalam pendidikan. Dalam proses pemberdayaan anak manusia diperlukan adanya kebebasan supaya potensinya bisa berkembang maksimal. Sumber belajar yang perlu diperkaya tidak hanya lingkungan tetapi juga manajemen dan para pelaksana proses pendidikan sesuai tuntutan kemerdekaan dan hak asasi peserta didik. Proses ini berorientasi pada pemberdayaan yang harus merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat sehingga lingkungan mengkondisikan terbentuknya sikap produktif dari peserta didik.

Paradigma pembebasan dalam pendidikan dimaksudkan sebagai proses pendidikan yang memberdayakan peserta didik, masyarakat dan negara yang memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi perkembangan pribadi yang bebas dan mengenal kata hati dan kemanusiaan serta bebas dari tekanan fisik dan psikis. Kebaikan esensial sifat manusia, tanggung jawab dan janjinya untuk mentaati nilai-nilai ajaran Islam itu dalam pandangan Husain dan Ashraf dapat membentuk pola pendidikan bagi peserta didik. Hasilnya adalah generasi yang membentuk masyarakat yang memiliki kedudukan dan strata yang berlainan namun bisa hidup selaras yang terikat dengan satu iman yang sama.[15]

Tujuan yang dirumuskan lembaga pendidikan seharusnya bukan harga mati. Tak seorang pun pernah secara sempurna menjadi “manusia terdidik”. Manusia selalu dalam suatu perjalanan tanpa henti. Menurut pendekatan ini, keterikatan guru dengan kurikulum bersifat relatif. Hal ini tidak berarti guru tidak penting dalam kelas. Guru sebagai sumber materi/ide dan memberikan fasilitas untuk menentukan tujuan belajar. Guru harus menerima pikiran dan perasaan siswa tanpa kritik personal. Pendidik juga harus menyatakan dirinya terbuka dan jujur menerima perasaan dirinya. Model ini tidak mudah karena menuntut sikap kemandirian dan  kreativitas tinggi.

Pendidikan Islam disamping sebagai aktivitas pembelajaran juga menjadi media dan aktivitas membangun kesadaran, kedewasaan dan kedirian peserta didik. Kesadaran, kedewasaan dan kedirian itulah yang menjadi tujuan pendidikan. Dalam Islam, pendidikan sebagai proses interaksi sosial yang melibatkan pengaruh pendidik dan peserta didik dalam rangka perubahan perilaku yang diinginkan sesungguhnya merupakan inti dari misi risalah Islamiyah. Interaksi sosial dalam sistem pendidikan ini berperan penting dalam menentukan nilai kebangsaan. Artinya, peserta didik yang memiliki rasa kesetiakawanan sosial akan membentuk masyarakat yang sadar akan arti penting kebersamaan dalam sistem sosial kemasyarakatan. Kalau kesadaran ini muncul dalam setiap diri peserta didik akan membentuk bangsa yang menjunjung jiwa persatuan dan kesatuan bangsa sehingga terhindar dari kerusauhan yang bertentangan dengan jiwa humanisme.

4. Menghargai kebebasan secara demokratis

Jiwa kerakyatan dalam sila keempat didasarkan pada kebijaksanaan, permusyawaratan dan perwakilan. Nilai-nilai ini muncul karena adanya kesadaran dan adanya kehendak bebas manusia. Prinsip kemanusiaan dalam humanisme Islam menurut Ali Syari’ati adalah bahwa: manusia itu merupakan makhluk mandiri yang mulia, berpikir, sadar akan dirinya sendiri, berkehendak bebas, cita-cita dan merindukan ideal dan bermoral.[16]

Tujuan utama pendidikan, menurut Bayraktar Bayrakli, adalah menjadikan peserta didik bisa menemukan dirinya sendiri (dimensi batin), memahami kapasitasnya dan mendisiplinkan dirinya. Tujuan ini membuat peserta didik sadar terhadap kesadarannya sehingga dapat meralisasikan dirinya sebagai manusia.[17] Orang menentukan tingkah lakunya sendiri. Kunci pengembangannya adalah kesadaran diri, pemahaman diri seperti adanya dan seperti harapannya.

Pendidikan Islam sebagai bimbingan dan pengembangan sesuai makna tarbiyah[18]berimplikasi pada pemberian peran guru sebagai fasilitator yang memberikan petunjuk jalan ke arah penggalian potensi peserta didik. Guru menjadi mitra belajar siswa dalam mengaktualisasikan potensi dirinya. Oleh karena itu, tujuan pendidikan Islam adalah mempersiapkan individu dalam menumbuhkan segenap potensi yang ada, baik jasmani maupun rohani untuk kesempurnaan hidupnya sehingga menjadi manusia yang berguna.

Nilai humanistik juga ditunjukkan oleh unsur demokrasi dalam pendidikan. Demokrasi pendidikan memberikan peluang terbaik yang dapat memberikan kesempatan yang sama dan adil, menghormati harkat dan martabat sesama manusia dan peluang kerjasama yang dapat memenangkan semua pihak.[19] Masyarakat demokratis adalah kehidupan bersama di mana setiap warganya baik laki-laki maupun perempuan memiliki martabat sebagai makhluk manusia yang bebas. Martabat sebagai manusia bebas ini menyebabkan manusia berhak memeiliki keyakinan dan pendirian yang yang tidak bisa dirubah secara paksa oleh siapa pun juga.[20]

Demokrasi sebagai pilar dalam pendidikan humanistik mengandung makna bahwa semua anak (warga negara) memiliki hak untuk  mendapatkan pendidikan. Pendidikan ini juga menuntut proses pembelajaran harus bersikap keterbukaan, kesejajaran, tidak otoriter dan tidak membeda-bedakan. Atas dasar inilah, peserta didik harus diberi kebebasan. Kebebasan adalah hak asasi manusia. Dengan kebebasan manusia memperoleh jalan untuk mengembangkan potensinya. Agar potensi itu dapat berkembang secara serasi dan maksimal, maka subyek didik perlu ditinjau dalam kedudukannya sebagai makhluk yang penuh sebagai individu (pribadi) dan dalam keterkaitannya dengan masyarakat. Pencapaian potensi maksimal sebagai pribadi yang aktif dan memiliki kepekaan sosial yang tinggi di tingkat lokal, nasional dan global, juga menjadi arah pendidikan multikultural.[21]

Kebebasan tidak bisa diartikan tanpa batas sebab ketiadaan batasan kebebasan akan mengganggu kebebasan orang lain. Hal ini setara dengan pengertian tentang hak dan kewajiban.[22] Kebebasan tanpa kendali justeru berakibat pada hilangnya nilai kemanusiaan manusia sendiri. Meski manusia bisa tumbuh dengan sendirinya namun pengalaman keberagamaan dan pendidikan belum berkembang sepenuhnya. Generasi muda yang tumbuh di masyarakat liberal-sekuler berkembang menjadi hewan. Rahman mengatakan:

 

For, if humans could grow by themselves, highly sophisticated religious and educational systems would not have developed in the first place. And what we are seeing develop in societies whose liberals think they are the first secular liberals in human history is that, instead of growing into humans, many of the new generation are in fact growing into animals.[23]

Bahaya ini dialami oleh dunia Barat yang memisahkan ilmu pengetahuan dari agama (paradigma formism).[24] Kesadaran yang diciptakan oleh pengetahuan itu tidak memiliki ruh dan mati sehingga tidak bisa membangkitkan emosi. Sedangkan  kesadaran karena keyakinan dan agama akan menyalakan seluruh eksistensi manusia.[25] Pendidikan Islam sangat menekanan kesadaran itu supaya tumbuh keimanan dan kesalehan dalam diri seseorang yang dijadikan tujuan fundamental yang sekaligus menjadi ciri khusus pendidikan Islam. Keimanan dan kesalehan itu menjadi dasar bersikap bijaksana yang merupakan jiwa sila keempat dari Pancasila. Dalam proses humanisasi, pendidikan harus memperlakukan peserta didik secara bijaksana sehingga tidak bertentangan dengan nilai humanisme.

5. Menjunjung dan menegakkan keadilan sosial antar peserta didik

Sebagai implikasi dari sikap bijaksana, penegakan keadilan sosial yang merupakan pengamalan sila kelima Pancasila dalam proses pendidikan mutlak diperlukan. Keadilan sosial merupakan cermin kesalehan sosial yang muncul dari kesadaran bangsa yang religius. Ajaran suci dalam Islam dapat dijadikan pegangan untuk memperkuat kesadaran keimanan dan saleh tersebut.[26] Kesadaran itu muncul bukan karena adanya tekanan yang memang berlawanan dengan konsep humanisme tapi karena adanya kebebasan dalam diri peserta didik untuk menilai segi positif dan negatif dari pebuatan yang dilakukan.

Kebebasan itu menempatkan manusia sebagai makhluk berakal untuk dapat memilih yang baik dan benar. Inilah yang menjadi keistimewaan manusia dalam pemikiran pendidikan humanistik-Islami. Nilai-nilai ke-Islaman itu harus menjiwai pendidikan Islam. Pendidikan Islam itu pendidikan yang humanis karena berdasar pada keimanan dan amal salih yang menciptakan kehidupan manusia dan masyarakat berkeadilan, damai dan sejahtera..

Selain itu, misi Islam adalah menegakkan masyarakat yang adil, sehat, harmonis, dan sejahtera secara material dan spiritual.[27] Proses pembelajaran dalam pendidikan Islam harus dikembangkan dari konsep spiritual-relijius supaya bisa mengahsilkan manusia yang bersikap rasional-kritis-empirik-obyektif-matematis, kreatif, mandiri, bebas, terbuka dan profesional dengan tetap memiliki komitmen terhadap nilai-nilai amanah individu, solider terhadap sesama manusia, tidak semena-mena terhadap makhluk lain dan alam sekitar serta mampu dan mau mempertanggungjawabkannya di hadapan Tuhan. Realitas  bangsa Indonesia yang pluralistik, baik dari segi agama, ras, etnis, tradisi, budaya, dan lainnya menuntut adanya manusia yang unggul dalam aspek intelektual, profesionalitas, moral maupun spiritual. Semua itu dimaksudkan untuk mengaktualisasikan hak dan kewajiban asasi manusia yang mendapatkan rida Tuhan.

Berdasarkan filosofi tersebut, paradigma pendidikan humanistik Islami di Indonesia berusaha mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan berdasarkan Pancasila. Dari sila Ketuhanan Yang Mahaesa dapat diketahui bahwa agama merupakan sumber etika dan moral bangsa Indonesia. Pendidikan humanistik berupaya mewujudkan manusia Indonesia yang mau menjalankan nilai-nilai agama yang dianutnya. Nilai-nilai agama dijadikan dasar dalam setiap kegiatan hidup manusia. Sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab mengandung nilai demokrasi dan hak asasi manusia. Pendidikan humanistik mengantarkan manusia supaya memiliki arti bagi kehidupan bersama manusia Indonesia lainnya untuk mewujudkan cita-cita yang diinginkan. Bangsa Indonesia adalah manusia dan masyarakat yang humanis yang mengakui hak asasi manusia. Sila ketiga, persatuan Indonesia merupakan alat kehidupan bersama bangsa Indonesia. Pendidikan humanistik harus mampu mengembangkan masyarakat bhinneka. Manusia humanis akan mengembangkan budaya untuk  mengangkat citra bangsa. Sila keempat, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan atau perwakilan sebagai dasar demokrsi dan pandangan populis. Pendidikan memperjuangkan nilai-nilai kerakyatan sehingga bisa hidup bersama antarmasyarakat. Kehidupan bersama adalah kepentingan rakyat, bukan kepetingan penguasa atau golongan. Dalam pendidikan, sila kelima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, merupakan dasar bagi penguasaan dan pemanfaatan ilmu untuk kesejahteraan bersama antar warga. Kesejahteraan sosial menjadi idealisme masyarakat humanis.

Manusia Pancasila adalah profil manusia Indonesia. Nilai-nilai dalam kelima sila Pancasila merupakan satu kesatuan yang utuh yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Nilai yang satu menunjang dan mendukung nilai yang lain. Tilaar memandang bahwa keutuhan nilai-nilai Pancasila menjiwai seluruh proses humanisasi manusia Indonesia. Dalam proses humanisasi itu ada nilai-nilai yang mendapat prioritas, yaitu nilai Ketuhanan Yang Mahaesa. Nilai-nilai perikemanusiaan tentu juga perlu mendapat perhatian agar citra buruk sebagai bangsa tidak berbudaya dapat dihilangkan. Budaya kekerasan dan tidak berperikemanusiaan bukanlah nilai luhur bangsa Indonesia.[28]

Karena itu, humanisasi pendidikan Islam di Indonesia tidak boleh melepaskan nilai-nilai Pancasila. Pancasila yang dirumuskan oleh para pendiri negara yang mayoritas Muslim memandang sila-sila tersebut sebagai penjabaran nilai-nilai humanisme Islam. Pendidikan Islam beerperan dalam membentuk manusia Indonesia yang mampu dan mau beramal yang membawa kebahagiaan hidup umat manusia seluruhnya ini menjadi orientasi pendidikan humanistik-Islami.

Orientasi humanistik dalam sistem pendidikan nasional juga bisa ditinjau dari sudut konsep dan tujuan pendidikan. Berdasarkan konsep dan tujuannya dapat diketahui bahwa penyelenggraan pendidikan tidak secara langsung ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat dan negara. Orientasi pendidikan adalah pengembangan potensi peserta didik menjadi manusia sesuai kemampuannya sendiri. Pendidikan ini berusaha menjadikan manusia sesuai sisi kemanusiaannya sendiri. Namun hal ini  tidak berarti pemenuhan kebutuhan masyarakat dan negara tidak penting dan tidak menjadi harapan dari pelaksanaan pendidikan di Indonesia.

Pemenuhan kebutuhan di luar diri peserta didik dalam sistem pendidikan nasional menjadi orientasi sampingan yang bersifat lanjutan dari pemenuhan kebutuhan dirinya sendiri. Setelah peserta didik berkembang dan memiliki kreativitas yang tinggi tentu saja dengan sendirinya akan bermanfaat bagi dunia di luar dirinya. Orientasi ini tidaklah bersifat egoistis namun hanya bersifat individual. Justru inilah orientasi pendidikan humanistik; dan inilah yang manusiawi, sesuai konsep humanisme. Dengan demikian, sistem pendidikan nasional di Indonesia mengarah kepada perwujudan model pendidikan humanistik.

Sebagai sebuah konsep tentu dalam pelaksanaannya perlu kebijakan yang kondusif untuk merealisasikan konsep yang sudah bersifat humanis supaya menjadi kenyataan. Kebijakan ini tentu menjadi tanggung jawab bersama bagi semua komponen bangsa; dari pemerintah sebagai pemegang kebijakan utama masalah pendidikan sampai pihak sekolah yang menyelenggarakan pendidikan serta orang tua dan masyarakat yang akan mendapatkan manfaat pendidikan. Semua itu bertanggung jawab atas terwujudnya pendidikan yang bersifat humanis.

D.    Penutup

Pendidikan di Indonesia diarahkan untuk  mewujudkan manusia yang kreatif, mandiri dan bertanggung jawab yang menjadi orientasi utama pendidikan humanistik. Rumusan tujuan pendidikan nasional ini memiliki titik sinkron dengan konsep pendidikan humanistik sebagaimana termaktub dalam UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003. Karena itu, arah pendidikannya sudah humanis. Pendidikan Islam sebagai sub sistem pendidikan nasional berupaya mewujudkan tujuan tersebut berdasarkan konsep ajaran Islam. Peran pendidikan Islam dalam membentuk manusia yang mampu dan mau beramal yang membawa kebahagiaan hidup umat manusia.

Prinsip menjunjung tinggi hak asasi manusia sebagai visi humanis pendidikan Islam memuat makna bahwa penyelenggaraan pendidikan tidak boleh mengabaikan keberadaan peserta didik berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan. Hal ini menjadi alasan pendidikan Islam harus humanis. Sistem nilai dalam humanisme Islam berperan juga dalam meluruskan kegagalan sistem pendidikan yang terjebak pada proses dehumanisasi. Hanya pendidikan yang dilaksanakan dengan memperhatikan nilai-nilai humanistik sajalah yang bisa disebut pendidikan. Konsep ini merupakan sebuah hasil interpretasi atau ijtihad para cendikiawan muslim ahli pendidikan tentang upaya mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi dasar humanisme Islam.

Orientasi penyelenggaraan pendidikan di lembaga pendidikan Islam bertolak dari Filsafat Teosentrisme, yaitu penekanan pada pentingnya kehidupan akhirat daripada dunia. Dalam proses pendidikan, peserta didik ditempa secara intensif untuk mendalami ajaran Islam lengkap dengan pengamalannya. Pengamalan ajaran Islam secara tegas merupakan aktualisasi humanisme Islam. Untuk itu, penekanan pada kebaikan akhlak, persatuan dan persaudaraan serta penanaman jiwa kemandirian dalam diri peserta didik sebagai pilar-pilar humanisme Islam merupakan tradisi di lembaga pendidikan Islam.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Mah}ju>b, ‘Abba>s, Us}u>l al-Fikr al-Tarbawi>y fi> al-Isla>m, (Beirut: Da>r al-Fikr, 1987).

Maarif, A. Syafii, “Pemikiran tentang Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia”, dalam Muslih Usa (ed.), Pendidikan Islam: antara Cita dan Fakta, (Yogykarta: Tiara Wacana, 1991).

Mulkhan, Abdul Munir, Nalar Spiritual Pendidikan: Solusi Problem Filosofis Pendidikan Islam, ed. Romiyatun, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002).

Syari’ati, Ali, Humanisme: antara Islam dan Mazhab Barat, terj. Afif Muhammad, cet. 2, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1996).

Al-Zarnuji, Ta’li>m al-Muta’allim: T}ari>qah al-Ta’allum, (Semarang: Toha Putra, t.t.).

Azra, Azyumardi, Pendidikan Islam: Tradisi dan Moderasi menuju Milenium Baru, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999).

Bayrakli, Bayraktar, Prinsip dan Metode Pendidikan Islam: Sebuah Paradigma Baru Pendidikan yang Memanusiakan Manusia, terj. & ed. Suharsono, (Jakarta: Inisiasi Press, 2004).

Rahman, Fazlur, Islam & Modernity: Tranformation of an Intellectual Tradition, (Chicago-London: The University of Chicago Press, 1982).

H.A.R. Tilaar, Paradigma Baru Pendidikan Nasional, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004).

Barnadib, Imam, Ke Arah Perspektif Baru Pendidikan, (Jakarta: Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1988).

Fakih, Mansour, Antonius M. Indrianto dan Eko Prasetyo, Meegakkan Keadilan dan Kemanusiaan: Pegangan untuk  Membangun Gerakan Hak Asasi Manusia, (Yogyakarta: Insist Press, 2003).

Mastuhu, Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional dalam Abad 21, (Yogyakarta: Safiria Insani Press-Magiter Studi Islam UII, 2003).

Budianta, Melina, “Multikulturalisme dan Pendidikan Multikultural: Sebuah Gambaran Umum”, dalam  Burhanuddin (ed.), Mencari Akar Kultural Civil Society di Indonesia, (Ciputat: Indonesian Insitute for Civil Sociey-INCIS, 2003).

Fullan, Michael, The New Meaning of Educational Change, (New York: Teachers College Press, 2001).

Mutahhari, Murtadha, Perspektif al-Qur’an tentang Manusia dan Agama, terj. Haidar Bagir (Bandung: Mizan, 1984).

Soenarjo, A. (ed.), al-Qur’an dan Terjemahnya (Medinah: Mujamma’ Kha>dim al-H{aramain al-Syari>fain al-Ma>lik Fahd li T{iba’ah al-Mus}h}af al-Syari>f, 1413 H).

Suyata, “Upaya Pembenahan Pendidikan Islam Lewat Peneataan Kembali Pemikiran dan Penerapannya”, dalam Yunahar Ilyas dan Muhammad Azhar (ed.), Pendidikan dalam Perspektif al-Qur’an, (Yogykarta: Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam (LPPI) UMY, 1999).

Husain, Syed Sajjad dan Syed Ali Ashraf, Krisis Pendidikan Islam, ed. & terj. Rahmani Astuti, (Bandung:  Risalah, 1986).

Zamroni, Pendidikan untuk Demokrasi: Tantangan menuju Civil Society, (Yogykarta: Bigraf, 2001).

_______________


[1]A. Syafii Maarif, “Pemikiran tentang Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia”, dalam Muslih Usa (ed.), Pendidikan Islam: antara Cita dan Fakta, (Yogykarta: Tiara Wacana, 1991), hlm. 155.

[2]Zamroni, Pendidikan untuk Demokrasi: Tantangan menuju Civil Society, (Yogykarta: Bigraf, 2001), hlm.24.

[3]Inovasi ini setidaknya melibatkan tiga program kebijakan: (1) perbaikan materi pengajaran (kurikulum atau teknologi); (2) pendekatan (strategi dan aktivitas) pengajaran; (3) perubahan kepercayaan (asumsi pedagogis dan teori kebijakan atau program baru). Lihat Michael Fullan, The New Meaning of Educational Change, (New York: Teachers College Press, 2001), hlm. 39.

[4]Fullan, The New Meaning …, hlm. 44.

[5]Imam Barnadib, Ke Arah Perspektif Baru Pendidikan, (Jakarta: Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1988), hlm. 104.

[6]Fullan, The New Meaning, hlm. 44.

[7]Syed Sajjad Husain dan Syed Ali Ashraf, Krisis Pendidikan Islam, ed. & terj. Rahmani Astuti, (Bandung:  Risalah, 1986), hlm. 55 dan 121.

[8]Abdul Munir Mulkhan, Nalar Spiritual Pendidikan: Solusi Problem Filosofis Pendidikan Islam, ed. Romiyatun, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002), hlm.274.

[9]Fazlur Rahman, Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition, (Chicago-London: The University of Chicago Press, 1982),  hlm. 159.

[10]Suyata, “Upaya Pembenahan Pendidikan Islam Lewat Peneataan Kembali Pemikiran dan Penerapannya”, dalam Yunahar Ilyas dan Muhammad Azhar (ed.), Pendidikan dalam Perspektif al-Qur’an, (Yogykarta: Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam (LPPI) UMY, 1999), hlm. 96

[11]Dalam al-Qur’an dinyatakan: Wala> taqfu ma laisa laka bihi> ‘ilm. (Q.S. al-Isra>/17: 36).

[12]Al-Zarnuji, Ta’li>m al-Muta’allim: T}ari>qah al-Ta’allum, (Semarang: Toha Putra, t.t.), hlm. 16.

[13]Mansour Fakih, Antonius M. Indrianto dan Eko Prasetyo, Meegakkan Keadilan dan Kemanusiaan: Pegangan untuk  Membangun Gerakan Hak Asasi Manusia, (Yogyakarta: Insist Press, 2003), hlm. 142.

[14]H.A.R. Tilaar, Paradigma Baru Pendidikan Nasional, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), hlm. 55.

[15]Husain dan Ashraf, Krisis Pendidikan, hlm. 54.

[16]Ali Syari’ati, Humanisme: antara Islam dan Mazhab Barat, terj. Afif Muhammad, cet. 2, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1996), hlm. 47-49.

[17]Bayraktar Bayrakli, Prinsip dan Metode Pendidikan Islam: Sebuah Paradigma Baru Pendidikan yang Memanusiakan Manusia, terj. & ed. Suharsono, (Jakarta: Inisiasi Press, 2004), hlm. 128.

[18]Tarbiyah sebagai pengembangan potensi. ‘Abba>s Mah}ju>b, Us}u>l al-Fikr al-Tarbawi>y fi> al-Isla>m, (Beirut: Da>r al-Fikr, 1987), hlm. 18.

[19]Mastuhu, Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional dalam Abad 21, (Yogyakarta: Safiria Insani Press-Magiter Studi Islam UII, 2003), hlm. 85.

[20]Zamroni, Pendidikan untuk Demokrasi, hlm. 28.

[21]Melina Budianta, “Multikulturalisme dan Pendidikan Multikultural: Sebuah Gambaran Umum”, dalam  Burhanuddin (ed.), Mencari Akar Kultural Civil Society di Indonesia, (Ciputat: Indonesian Insitute for Civil Sociey-INCIS, 2003), hlm.98.

[22]Barnadib, Ke Arah Perspektif Baru, hlm. 24.

[23]Fazlur Rahman, Islam & Modernity: Tranformation of an Intellectual Tradition, (Chicago-London: The University of Chicago Press, 1982), hlm. 159.

[24]HAR Tilaar, Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan dalam Perspektif Abad 21, (Magelang: Tera Indonesia, 1998), hlm. 211.

[25]Mutahhari, Perspektif al-Qur’an tentang Manusia, hlm. 154

[26]Husain dan Ashraf, Krisis Pendidikan, hlm. 55 dan 121.

[27]Azyumardi Azra, Pendidikan Islam: Tradisi dan Moderasi menuju Milenium Baru, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 55

[28]HAR Tilaar, Multikulturalisme: Tantangan-tantangan Global Masa Depan dalam Transformasi Pendidikan Nasional, (Jakarta: Grasindo, 2004), hlm. 313-314.

NILAI-NILAI HUMANISME ISLAM : IMPLIKASINYA DALAM KONSEP TUJUAN PENDIDIKAN

18 Nov

Artikel ini telah diterbitkan dalam Jurnal DIDAKTIKA ISLAMIKA, Vol. XI, Nomor 2, Desember 2011, ISSN 1411-5913, hlm. 240-255

 

NILAI-NILAI HUMANISME ISLAM DAN IMPLIKASINYA

DALAM KONSEP TUJUAN PENDIDIKAN

 

Musthofa*

 

Abstrak:  Humanisme Islam adalah humanisme-religius bersumber dari ajaran Islam. Pemikiran ini bersumber dari ikatan manusia terhadap suatu perjanjian primordial dengan Tuhan sebagai the Ultimate Reality. Orientasi ketuhanan dijadikan jiwa hidup manusia. Unsur teoantrosentrisme ini menjadikan manusia sebagai khali>fah Alla>h. Pemikiran humanisme ini bertolak dari ajaran tauhi>d yang yang berupa nilai: kebebasan (liberty), persudaraan (fraternity), dan persamaan (equality). Dalam perspektif ini, pendidikan Islam ditujukan untuk membantu peserta didik mengaktualisasikan potensinya supaya menjadi manusia kreatif yang sadar akan kehadiran Allah dalam dirinya. Pendidikan ini berupaya mengantarkan peserta didikmenjadi manusia Rabba>ni>.

 

Kata Kunci:  teoantropsentrisme, kebebasan, persudaraan, persamaan, manusia rabba>ni

 

A.    Pendahuluan

Humanisme sebagai sebuah aliran filsafat yang bertolak dari faham antropomorfisme[1] sering dipandang bertentangan dengan ajaran Islam yang bertolak dari keimanan dan kepercayaan adanya Allah. Kalangan humanis memandang manusia sebagai penguasa alam semesta sehingga menolak eksistensi Tuhan. Mereka bahkan “menuhankan” manusia.  Akan tetapi Islam sebagai ajaran suci sangat memperhatikan kearifan kemanusiaan sepanjang zaman.[2] Ajaran Islam memberikan perlindungan dan jaminan nilai-nilai kemanusiaan kepada semua umat. Upaya pemanusiawian manusia dikembangkan menjadi pendidikan dengan pendekatan humanistik.[3] Pendidikan ini berorientasi pada peserta didik sebagai manusia yang menjadi tema utama humanisme

 

B.     Teoantroposentrisme: Dasar Humanisme Islam

Pembahasan mengenai humanisme Islam tidak bisa dilepaskan dari pemikiran Barat yang memunculkan teori ini. Humanisme di dunia Barat muncul sebagai dasar gerakan Renaissance.[4] Gerakan ini mencari tafsir baru tentang manusia dalam kehidupan dunia. Pada awal kemunculannya, humanisme merupakan gerakan filsafat dan sastra di Italia pada paruh kedua abad ke-14 yang menyebar ke negara-negara lain di Eropa sebagai satu di antara faktor peradaban modern. Sikap humanis terhadap kehidupan ini berlangsung sampai sekarang.

Humanisme muncul karena adanya rasionalisme sehingga melahirkan Renaisans, yaitu gerakan kebangunan-kembali manusia dari keterkungkungan mitologi dan dogma.[5] Meski demikian, Rene Descartes (1598-1650) yang dikenal sebagai bapak pendiri filsafat modern memandang rasionalisme tidak boleh mengingkari eksistensi Tuhan sebagai ide tentang ‘ada’ yang paling sempurna.[6] Humanisme yang hanya didasarkan pada pemikiran akal tidak mampu mewujudkan jati diri manusia yang sesungguhnya. Seharusnya humanisme yang bertolak dari paham rasionalisme tidak menentang adanya Tuhan.

Humanisme religius (humanisme teosentris) merupakan upaya untuk menyatukan nilai-nilai agama dan kemanusiaan.[7]  Ajaran agama (keyakinan tentang Tuhan), menurut Boisard dalam L’Humanisme de l’Islam, mempengaruhi watak dan persepsi manusia yang selanjutnya menentukan kedudukan dirinya, prioritas kebutuhan dan pembentukan kaidah hubungan dengan manusia lainnya.[8] Agama bukan hanya sistem kepercayaan yang tidak berubah tapi juga nilai yang berorientasi kemanusiaan. Semua agama memiliki misi untuk memberikan petunjuk kepada manusia menuju kebahagiaan abadi. Humanisme agama adalah keyakinan dalam aksi.

Humanisme Islam[9] sebagai humanisme-religius bersumber dari ajaran Islam. Nurcholish Madjid mencatat 13 dasar humanisme Islam yang semuanya bertolak dari ikatan manusia terhadap suatu perjanjian primordial dengan Tuhan yang menurut Iqbal disebut sebagai puncak realitas (the Ultimate Reality).[10] Pengakuan Allah sebagai pusat orientasi hidup manusia dilakukan sejak awal kehidupannya. Manusia mengakui Allah sebagai Tuhannya (Q.S. al-A‘ra>f/7: 172). Karena perjanjian itu, setiap manusia terlahir dalam fitrah, kesucian asal (Q.S. al-Ru>m/30: 30). Orientasi ketuhanan itulah yang menurut Syariati harus dimasukkan dalam jiwa hidup manusia, baik dalam tradisi, adat-istiadat dan tata krama masyarakat untuk diaplikasikan dalam ideologi materialisme, sosialisme, dan ekonomisme. Inilah yang membedakan konsep humanisme Islam dengan Barat.

Konsep humanisme ini didasakan pada pandangan bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang mendapatkan Ru>h Ilahi>(jiwa Tuhan) (Q.S. al-Hijr/15: 29).  Ruh ilahi sebagai penyebab manusia memiliki akal yang membedakannya dari makhluk lain. Ruh Ilahiah yang menyatu dengan jasad atau fisik manusia membentuk kesatuan manusia dinyatakan sebagai puncak segala makhluk Allah yang diciptakan oleh-Nya dalam bentuk sebaik-baiknya ciptaan (Q.S. al-T{i>n/95: 4).

Realitas manusia tersebut menjadi dasar pemikiran humanisme Islam yang bersifat religius-transendental. Transendensi Tuhan dalam Islam tidak menjauhkan rahmat dan inayah-Nya dari manusia. Tuhan dalam konsepsi Islam itu tidak terisolir, tapi justru bisa dihubungi. Allah selalu berbuat memenuhi kebutuhan manusia (Q.S. al-Rahma>n/55: 29).[11] Fitrah manusia menjadi esensi humanisme Islam. Nurcholish Madjid mengatakan, “the true religion as none other than the primordial, pristine quality of humanity, express in the innate and the naturally unspoiled inclination of man to the sacred and the true, which is the essence of the universal humanism, the fitrah and the hanifiyah”.[12]

Nilai kemanusiaan manusia ditentukan jiwanya, yaitu penyucian diri sehingga tidak menuruti keinginan nafsu jahat (Q.S. al-Syams/91: 9-10). Menurut Machasin, badan manusia sebagai tempat melaksanakan maksud jiwanya dalam kehidupan. Jiwa manusia harus mampu membebaskan badannya untuk bisa kembali kepada Tuhan.[13] Hubungan kemanusiaan yang baik dapat terwujud manakala manusia mampu membebaskan dirinya dari tawanan orang lain dan bisa meniadakan perbudakan pada dirinya sendiri. Caranya adalah manusia disuruh berperilaku seperti akhlak yang dimiliki Allah, yaitu mengamalkan sifat-sifat-Nya yang terformulasi dalam al-asma>’ al-h}usna>  (nama-nama yang bagus).

Akhlak bukanlah sesuatu yang kita “pakaikan” pada diri kita. Akhlak adalah sifat Allah yang kita “serap” dan kemudian mengubah kita secara ontologis. Setiap kali kita menyerap asma (sifat) Allah, esensi kemanusiaan kita berubah sehingga mengalami tranformasi. Penyerapan sifat Allah akan mengantarkan manusia kepada kesucian jiwa sehingga memunculkan kebenaran dalam berpikir, keteguhan dalam bersikap,dan kebaikan dalam berperilaku (akhlak).

Unsur teosentrisme dalam humanisme Islam tersebut berupaya membentuk manusia sebagai makhluk pilihan Tuhan menjadi khali>fah Alla>h fi> al-ard}(agen Tuhan di bumi) sebagai bukti kemuliaan manusia (Q.S. al-Isra>’/17:70). Karena kemuliaan itu, Mutahhari menggambarkan manusia sebagai makhluk yang semi-samawi dan semi-duniawi.[14] Kemuliaan manusia dalam kajian Islam diwujudkan dengan nilai-nilai moral yang abadi dan asli tentang fitrah kebaikan yang suci dan asas manusia yang kreatif dan luhur. Menurut ‘Abd al-Gani> ‘Abu>d, dasar penciptaan manusia adalah kebaikan, bukan kejahatan.[15]

Dengan demikian, humanisme Islam memiliki dimensi vertikal dan dimensi horizontal. Humanisme ini bertolak dari faham teoantroposentrisme. Dimensi vertikal (h}ablun min Alla>h) berupa hubungan baik kepada Allah dengan cara mengabdi pada kekuasaan tertinggi  untuk  membangun hati yang baik guna mencegah kesombongan. Dimensi vertikal ini mengharuskan manusia mengabdi kepada Allah sedangkan dimensi horizontal (h}ablun min al-na>s) berupa hubungan baik kepada sesama manusia dan alam semesta sehingga muncul nilai keadilan, kasih sayang, dan nilai lain sebagai akhlak mulia. Itulah sebabnya akhlak menjadi inti ajaran humanisme Islam.

Humanisme Islam adalah jalan tengah, yaitu harmonisasi antara dimensi material dan dimensi spiritual, dimensi fisik dan psikis, dimensi dunia dan akhirat. Melupakan kehidupan duniawi itu tidak menonjolkan materi tetapi menghancurkan diri sehingga menjadi miskin dan bodoh. Hal ini merupakan tindakan dehumanis. Dimensi spiritual menjadi pengendali nafsu manusia untuk tidak berpikir, bersikap, dan berbuat yang menghancurkan harkat dan martabat manusia. Dari sinilah ditentukan nilai-nilai humanisme dalam Islam.

 

C.    Nilai-nilai Humanisme Islam

Nilai-nilai kemanusiaan dalam humanisme Islam memiliki kesamaan dengan humanisme Barat karena sumbernya memang sama. Akan tetapi menurut Moussa Humanisme Barat itu berutang budi terhadap prinsip kebebasan (liberty), persudaraan (fraternity), dan persamaan (equality) dalam Islam.[16] Lebih dari itu, Iqbal menyatakan ketiga prinsip tersebut merupakan inti ajaran Islam. Dalam bukunya, The Reconstruction of Religious Thought in Islam, dinyatakan bahwa intisari tauhid adalah persamaan, solidaritas, dan kebebasan.[17] Konsep tauhid berimplikasi kepada upaya mewujudkan persamaan. Adanya persamaan itu akan menumbuhkan solidaritas atau persaudaraan. Selanjutnya, solidaritas menuntut pemberian kebebasan kepada manusia dalam hidupnya. Kebebasan, persudaraan, dan persamaan inilah yang menjadi nilai humanisme Islam.

  1. Kebebasan

Kebebasan sebagai nilai humanisme Islam ditujukan untuk menjamin hak manusia. Nilai kebebasan ini bertolak dari asumsi bahwa manusia adalah makhluk mandiri yang mulia, berpikir, sadar akan dirinya sendiri, berkehendak bebas, bercita-cita dan merindukan ideal, bermoral. Kebebasan dalam Islam dibatasi oleh ketentuan moral.[18] Menurut Khuri dalam Freedom, Modernity, and Islam, tanpa pengakuan moral dan spiritualitas, kebebasan akan menyebabkan kehancuran.[19]

Ketentuan moral itu pada hakikatnya berperan sebagai pengikat kebebasan. Islam memandang nilai hidup seorang manusia tergantung pada adanya kebebasan. Kebebasan menurut al-Siba>`i> dalam Isytira>kiyyah al-Isla>m tidak akan terwujud bila tidak didasarkan perasaan yang mendalam dalam pribadi seseorang, kebutuhan masyarakat, ketaatan kepada Allah, dan nilai kemanusiaan.[20] Ketaatan merupakan ketentuan moral yang harus diikuti oleh semua manusia.

Islam memberikan ketentuan moral dengan memberikan kewajiban kepada manusia berupa takli>f (kewajiban keagamaan). Pada dasarnya, takli>f  adalah bimbingan Allah supaya manusia menuju jalan yang benar.[21] Takli>f atau ketentuan moral sebagai petunjuk bagi manusia tidak akan terlaksana bila manusia tidak memiliki kebebasan untuk mengikuti atau menolaknya. Petunjuk itu hanya akan berguna bila ada kemungkinan tersesat. Tanpa adanya kemungkinan tersesat, petunjuk akan kahilangan arti. Di sinilah letak kebebasan manusia yang dicita-citakan humanisme Islam untuk menjamin harkat dan martabat manusia sehingga relevan untuk segala tempat dan waktu. Islam memberikan legitimasi penuh tentang kebebasan. Pandangan tentang manusia sebagai makhluk yang memiliki kebebasan inilah yang membedakan dasar pemikiran humanisme di Barat dengan pemikiran humanisme di Timur. Ada perbedaan yang sangat mendasar antara kedua konsep humanisme tersebut.

Islam juga mengajarkan kebebasan berpikir dan bertindak atau berusaha.[22] Kebebasan berpikir dalam Islam dimaksudkan supaya manusia benar-benar mencapai kebebasan dan dapat menentukan pilihannya. Ajaran Islam itu rasional. Hanafi mengatakan, “Revelation in Islam is a dictum of Reason. It is not anti-rational, irrational or super-rational. Reason is the most common element shared by all human beings.[23] Jalan yang benar untuk mendapatkan kebebasan bukan dengan meninggalkan agama, tetapi dengan menanamkan semangat membangun dan memperbaiki kondisi masyarakat yang membenci ketidakadilan. Semangat inilah yang menjadi kebebasan muslim. Tidaklah logis apabila Islam menyerukan semangat berpikir, namun tidak memberikan kebebasan ilmiah agar akal dan ilmu pengetahuan menempati posisi yang seharusnya.

Kebebasan dalam humanisme Islam harus diikuti tanggung jawab sesuai hukum yang ditentukan oleh Allah. Dalam humanisme Islam tidak ada kebebasan tanpa tanggung jawab. Karena jaminan kebebasan itu juga Islam memberikan legalitas adanya pluralitas. Tanpa adanya sikap toleran, praktik atau kondisi plural akan selalu terjadi ketimpangan, kerusuhan, perpecahan, bahkan sampai peperangan. Pluralisme menjadi bagian dari kebebasan dalam humanisme Islam. Di sinilah manusia dituntut bertanggung jawab akan perbuatannya. Kebebasan dan tanggung jawab dalam Islam menjadi satu kesatuan karena dari tanggung jawab inilah muncul kebebasan.

 

2. Persamaan

Islam menegaskan bahwa kesamaan individu adalah dasar martabat manusia.[24] Persamaan manusia dalam ajaran Islam tidak mengenal suku, ras, dan warna kulit (Q.S. al-Hujura>t/49: 13). Ayat ini menegaskan bahwa nilai manusia hanya dibedakan oleh kualitas ketakwaannya kepada Allah. Kekuasaan mutlak dan transendensi Allah memberikan kemerdekaan kepada manusia dan membentuk konsep persamaan total kepada setiap orang. Persamaan ini menjadi sumbangan Islam bagi kebudayaan universal. Tak ada agama atau ideologi sebelum Islam yang menekankan dengan kuat tentang prinsip persamaan manusia sebagai dasar pola hubungan manusia.

Humanisme Islam membela manusia dalam seluruh sistem dan sejarahnya didasarkan pada prinsip keadilan, kehormatan, hidayah, tanggung jawab, nilai moral, dan hakikat manusia guna membentuk ciri khusus budayanya. Karena petunjuk agama ini menyebabkan jiwa manusia tidak akan pernah damai kecuali dengan melaksanakan pola hidup sesuai petunjuk ajaran Islam. Penilaian objektif diberikan seorang pemikir Barat non-muslim, seperti ditulis Marcel A Boisardberikut ini,

Peradaban Arab Islam telah memberikan iuran yang sangat besar kepada sistem yang menjamin penghormatan terhadap pribadi manusia dan mengatur hubungan antarbangsa. Pengingkaran Barat akan peran Islam dalam memperjuangkan nilai-nilai humaisme … disebabkan oleh kesombongan Barat yang sejak semula telah menyatukan bangsa-bangsa Eropa untuk melawan Islam.[25]

Pengakuan ini menunjukkan konsep humanisme Islam relevan dengan sisi kemanusiaan hakiki yang berlaku sepanajang zaman. Keharusan sifat universal itu menjadikan humanisme sering diasosiakan dengan individualisme, liberalisme, egalitarianisme, dan kosmopolitanisme. Universalitas konsep ini merupakan konsekuensi Islam sebagai ajaran suci terakhir sangat memperhatikan kearifan kemanusiaan sepanjang zaman. Agama ini menekankan kepribadian, perkembangan, dan kemerdekaan manusia dalam persamaan. Persamaan ini selanjutnya memunculkan persaudaraan.

 

3. Persaudaraan

Nilai persaudaraan dalam humanisme Islam didasarkan pada kebaikan (al-birr) dan kasih sayang (al-rah>mah). Rasul dan para pengikutnya itu sangat sayang kepada sesamanya, meskipun sangat keras terhadap orang kafir yang memusuhi Islam (Q.S. al-Fath}/48: 29). Semua muslim adalah saudara. Allah berfirman, bahwa “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” (Q.S. al-Hujura>t/49: 10).

Ajaran Islam tentang persaudaraan ini sangat luas cakupannya. Quraish Shihab mengidentifikasi jenis persaudaraan dalam Islam (ukhuwwah) menjadi tujuh macam, yaitu: saudara seketurunan, saudara ikatan keluarga, saudara sebangsa, saudara semasyarakat, saudara seagama, saudara sekemanusiaan, dan saudara semakhluk.[26] Setiap muslim harus berbuat baik kepada semua pihak. Persaudaraan tidak hanya terhadap sesama manusia, tapi juga persaudaraan terhadap sesama makhluk yang diciptakan oleh Allah. Berlaku baik terhadap benda sesuai kondisi yang seharusnya, seperti mengalirkan air yang tergenang dan menutup kran air merupakan nilai kebaikan. Karena itu, berbuat yang sebaliknya merupakan kejahatan atau keburukan. Hal ini bisa berlaku bagi semua jenis benda dalam lingkungan setiap manusia berada.

Perilaku yang humanis itu saling mencintai manusia. Etika kemanusiaan menjadi pedoman dalam kehidupan manusia supaya tidak sewenang-wenang terhadap orang lain. Rasa perikemanusiaan diharapkan akan tumbuh dari pemahaman tentang nilai-nilai etik tersebut. Etika kemanusiaanberfungsi untuk menciptakan pola hubungan antarindividu, sosial, dan kenegaraan. Standar inilah yang menentukan tanggung jawab, amanat, dan janji bagi yang berhak sehingga terjauh dari tindakan yang mengarah kepada lenyapnya nilai-nilai kemanusiaan. Islam mengajarkan kepedulian kepada masalah kemanusiaan sama pentingnya dengan ritual (ibadah) kepada Allah. Kepedulian dan kemauan membela sesama manusia menjadi tanda kesalehan seorang muslim. Karenanya, keberadaan standar nilai-nilai kemanusiaan merupakan kepentingan bagi kehidupan manusia berdasarkan persamaan antarmanusia. Nilai-nilai humanisme tersebut menjadi dasar perumusan tujuan pendidikan Islam.

 

D.    Aktualisasi Nilai Humanisme Islam dalam Konsep Tujuan Pendidikan

Pendidikan dalam Islam bertolak dari paham teosentrisme dan antroposentrisme sekaligus.[27] Nilai-nilai spiritual dan kebaikan moral menjadi dasar dalam merumuskan tujuannya. Menurut Fahmi, tujuan kejiwaan dan tujuan keagamaan menjadi ciri khas pendidikan Islam ini memberikan nilai ideal yang tidak terdapat dalam pendidikan modern[28] yang dikonsepkan Barat.

Tujuan pendidikan humanistik di Barat yang hanya didasarkan pada paham antropomorfisme terbatas pada aktualisasi potensi secara penuh dan penjaminan hak dan nilai hidup manusia, yaitu kebebasan dan kemerdekaan manusia dalam mengaktualisasikan dirinya.[29] McNeil mengatakan, “To humanists, the goals of education are dynamic personal processes related to the ideals of personal growth, integrity, and autonomy.[30] Pendidikan humanistik bertujuan membentuk pribadi yang dinamis sesuai dengan pertumbuhan pribadi yang ideal, integritas dan otonominya.

Tujuan ini ditandai dengan pengembangan kepribadian dan bakat individu secara menyeluruh. Aktualisasi diri hanya didasarkan pada tujuan material dan sosial yang bersifat sekuler ini terlepas dari upaya menghadirkan Tuhan dalam diri peserta didik. Lepasnya kesadaran ketuhanan akan memunculkan kesombongan intelektual, kezaliman, pengkhianatan, dan kejahatan lain yang ditentang oleh ajaran Islam sesuai nurani manusia. Semua itu disebut akhlak mulia yang bisa dicapai dengan mengembangkan kecerdasan emosional dan spiritual. Keduanya harus disinergikan. Kecerdasan emosional diperlukan untuk menjalin hubungan yang baik antarmanusia, sedangkan kecerdasan spiritual harus dimiliki untuk menjalin hubungan baik dengan Tuhan.

Dalam Islam, aktualisasi potensi sebagai tujuan proses pemanusiawian manusia dalam pendidikan humanistik meliputi dimensi material dan spiritualnya (Q.S. A<li ‘Imra>n/3: 79). Pendidikan ini akan mengantarkan peserta didik menjadi manusia rabba>ni> , yaitu orang yang memiliki kemampuan berbagai disiplin ilmu sehingga bisa berperan dalam kehidupan bermasyarakat untuk kebaikan hidup manusia, baik urusan keduniaan maupun urusan keagamaan. Mereka adalah orang ahli ilmu, ahli ibadah dan ahli takwa.[31] Profil manusia ini menjadi tujuan pendidikan. Kesatuan ilmu dan takwa sebagai kesempurnaan diri menjadikan manusia sebagai orang yang baik secara sosial dan spiritual membentuk manusia sebagai hamba Allah (‘abdulla>h) sedangkan kemampuannya menciptakan kebaikan hidup manusia di dunia menjadikan manusia sebagai khali>fah Alla>h.

Tujuan mengaktualisasikan potensi manusia (peserta didik) menjadi ‘abdulla>h merupakan tujuan pendidikan humanistik dalam Islam sesuai tujuan penciptaan manusia. Allah menciptakan manusia hanyalah untuk beribadah kepada-Nya (Q.S. al-Z|a>riya>t/56). Menurut Abu> al-‘Ainain, tugas manusia sebagai tujuan umum pendidikan Islam adalah mengabdi kepada Allah.[32] Pengembangan potensi yang disertai dengan penyucian jiwa dan pengajaran al-Qur’an akan menumbuhkan kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam diri manusia sebagai ciri religiusitasnya. Hal ini akan memunculkan kepekaan untuk berbuat baik kepada masyarakat sekitarnya. Menurut Husain dan Ashraf, penyadaran supaya tumbuh keimanan dan kesalehan dalam diri seseorang merupakan tujuan fundamental yang sekaligus menjadi ciri khusus pendidikan Islam.[33]

Tujuan ini menjadi bukti bahwa pendidikan dalam Islam tidak mengejar objektivitas dan manfaat material seperti teknologi Barat. Pendidikan Islam mencari sesuatu yang bermanfaat bagi makhluk untuk mengagungkan Tuhan. Karena itu, semua aktivitas harus didasarkan pada nilai spiritual  (Q.S. al-‘Alaq/95: 1-4).[34] Perintah membaca (iqra’) sebagai aktivitas pendidikan atau pengajaran (ta‘li>m) dalam Islam harus disertai bi-ismi rabbik (membaca berdasarkan nilai atau ajaran ketuhanan). Pembacaan itu menuntut adanya dimensi pikir dan zikir. Menurut Ibn Taimiyah, ilmu yang lepas dari nilai-nilai spiritual itu jauh dari kebenaran dan kebaikan.[35] Penguasaan ilmu harus menjaga potensi spiritualitas peserta didik agar tetap menjadi manusia muslim yang taat kepada Allah. Pendidikan harus mengantarkan peserta didik menjadi hamba Allah (‘abdulla>h), bukannya hamba harta serta bukan hamba ilmu dan kemajuan teknologi yang lepas dari nilai-nilai ketuhanan.

Adapun aktualisasi potensi dalam pendidikan humanistik-Islami yang membentuk manusia (peserta didik) sebagai khali>fah Alla>h di muka bumi merupakan bekal dalam merealisasikan kelestarian dan daya guna alam semesta (Q.S. al-Baqarah/2: 30-31). Khali>fah adalah jabatan yang lebih bersifat kreatif daripada sekadar status. Eksistensinya terletak pada daya kreatif untuk memakmurkan bumi. Karena itu, pengembangan potensi dalam pendidikan humanistik-Islami harus mengantarkan terwujudnya manusia kreatif yang dapat memberikan kebaikan hidup manusia lain. Dengan bekal ilmunya, mereka harus mampu mengolah serta mendayagunakan bahan baku di bumi menjadi produk teknologi untuk kepentingan hidupnya. Karena kemampuan lebih yang tidak dimiliki makhluk lain inilah manusia diangkat sebagai khali>fah Allah di muka bumi.

Tanggung jawab sosial dalam upaya memelihara nilai kemanusiaan sebagai tugas ke-khila>fah-an manusia menjadi tujuan pendidikan. Bangunan masyarakat yang terbentuk dari individu-individu hasil pendidikan ini juga merupakan sasaran dari cita-cita pemikiran humanisme Islam. Pendidikan memiliki kontribusi dalam mewujudkan masyarakat humanis. Nilai-nilai akhlak harus menyatu dalam menjamin dan memberikan perlindungan nilai, harkat, dan martabat manusia sebagai peserta didik. Predikat manusia sempurna (insa>n ka>mil), manusia teladan, unggul, dan luhur ditandai dengan kepemilikan akhlak mulia.

Uraian tersebut menunjukkan bahwa tujuan pendidikan humanistik dalam Islam adalah membantu, menolong, dan memberikan kesempatan peserta didik untuk mengaktualisasikan dirinya menjadi manusia rabba>ni>. Pendidikan ini akan mengembangkan potensinya menjadi hamba Allah (‘abdulla>h) dan wakil Tuhan (khali>fatulla>h)yang bertugas membangun kemakmuran, keadilan, kedamaian, persamaan, dan persaudaraan dalam masyarakatsecara luas sebagai pengabdian kepada-Nya. Hasil pendidikan ini adalah manusia sempurna karena kemampuannya mengembangkan potensi positif dan menghilangkan potensi negatif sehingga mencapai hakikat kemanusiaan sesuai fitrahnya. Pendidikan humanistik-Islami membangun masyarakat yang bertakwa kepada Allah atas dasar kasih sayang, keutamaan, cinta kebaikan, toleransi, rasa persaudaraan, kebebasan berpikir yang bertanggung jawab, dan demokratis. Tujuan dan nilai-nilai ini merupakan dasar dalam merumuskan materi pendidikan.

 

 

E.     Penutup

Humanisme Islam yang bertolak dari teoantroposentrisme akan mampu membangkitkan semangat dan berhasil meraih cita-cita dalam melindungi nilai-nilai hidup, harkat, dan martabat manusia sebagai kemenangannya. Pemikiran humanisme ini bertolak dari ajaran tauhi>d yang yang berupa nilai: kebebasan (liberty), persudaraan (fraternity), dan persamaan (equality). Ajaran Islam menumbuhkan kebebasan jati diri manusia yang mandiri dan luhur dalam wujudnya yang bersifat ilahiah dan ideal. Ajaran ini sesuai dengan kondisi riil dunia yang terformulasi dalam humanisme Islam karena mengedepankan akhlak dan kebaikan untuk semua (rah}mah li al-‘a>lami>n).

Pemikiran humanisme inilah yang harus dijadikan dasar dalam melaksanakan sistem pendidikan Islam. Sistem nilai dalam Islam berperan juga dalam meluruskan kegagalan sistem pendidikan yang terjebak pada proses dehumanisasi. Dalam kaitan inilah pendidikan berperan penting dalam proses humanisasi. Tujuanpendidikan humanistik-Islami adalah membantu peserta didik mengaktualisasikan potensinya supaya menjadi manusia kreatif yang sadar akan kehadiran Allah dalam dirinya. Pendidikan ini berupaya mengantarkan peserta didikmenjadi manusia Rabba>ni>. Dia adalah hamba Allah (‘abdulla>h) dan khali>fah Allah yang kreatif yang memakmurkan dunia untuk kebaikan manusia sepanjang masa.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

 

 

‘Abu>d, ‘Abd al-Gani>, al-Insa>n fi> al-Isla>m wa al-Insa>n al-Mu’a>s}ir, t.tp.: Da>r al-Fikr al-‘Arabi>, 1978.

Abbagnano, Nicola, “Humanism”, dalam Paul Edward, (eds), The Encyclopedia of Philosophy, jil. III, New York: Macmillan, 1972.

Abu> al-‘Ainain, ‘Ali> Khali>l, Falsafah al-Tarbiyah al-Isla>miyyah fi> al-Qur’a>n al-Kari>m, t.tp.: Da>r al-Fikr al-‘Arabi>, 1980.

Boisard, Marcel A., Humanisme dalam Islam, terj. M. Rasjidi, Jakarta:  Bulan Bintang, 1980.

Fahmi, Asma Hasan, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, terj. Ibrahim Husein, Jakarta: Bulan Bintang,  1979.

H{ira>niy, Ah}mad ibn ‘Abd al-H{ali>m ibn Taimiyah al-, Kutub wa Rasa>il wa Fata>wa> Ibn Taimiyah fi> al-Tafsi>r, dalam Maktabah al-Tafsi>r wa-‘Ulu>m al-Qur’a>n, CD Program Versi 1.5, Urdun: al-Khat}i>b: 1999.

Hanafi, Hassan, “Global Ethics and Human Solidarity”, International Seminar on Islam and Humanism: Universal Crisis of Humanity and the Future of Religiosity, Semarang: IAIN Walisongo, 5-8 November 2000.

Husain, Syed Sajjad dan Syed Ali Ashraf, Krisis Pendidikan Islam, ed. & terj. Rahmani Astuti Bandung:  Risalah, 1986.

Iqbal, Muhammad, The Reconstruction of Religious Thought in Islam, Lahore: Asyraf Publication, 1971.

Khuri, Richard K.,  Freedom, Modernity, and Islam: Toward a Creative Synthesis, USA: Syracuse University Press, 1998.

Knight, George R., Issues and Alternatives in Educational Philosophy, Michigan: Andews University Press – Berrien Spring, 1982.

Kraemer, Joel L., Humanism in the Renaissance of Islam: The Cultural Revival during the Buyid Age, Leiden: E.J. Brill, 1986.

Machasin, “The Concept of Human Being in Islam”, International Seminar on Islam and Humanism: Universal Crisis of Humanity and the Future of Religiosity, IAIN Walisongo Seamrang, 5-8 November 2000.

Madjid, Nurcholish, “The Islamic Concept of Man and Its Implications for the Muslims’ Appreciation of the Civil and Political Right”, Seminar on Enriching the Universalities of Human Rights: Islamic Perspectives on the Universal Declaration of Human Right, Geneva, 9-10 November 1998.

Mas’ud, Abdurrahman, “Pengantar”, dalam Achmadi, Ideologi Pendidikan Islam: Paradigma Humanisme Teosentris, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005.

Mastuhu, Memperdayakan Sistem Pendidikan Islam, Jakarta: Logos, 1999.

McNeil, John D., Curriculum: A Comprehensive Introduction, London: Brown Higher Education.

Moussa, Muhammad Youseef, Islam and Humanity’s Need of It, Cairo: The Supreme Council for Islamic Affairs, 1379 H.

Nasr, Seyyed Hossein, The Heart of Islam: Enduring Values for Humanity, San Fransisco: Harper, 2002.

Russell, Bertrand, History of Western Philosphy, London: Unwin University Press, t.t.

Sartre, Jean Paul, Eksistensialisme dan Humanisme, terj. Yudhi Murtanto, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002.

Scruton, Roger Sejarah Singkat Filsafat Modern: dari Descartes sampai Wittgenstein, terj. Zainal Arifin Tandjung, Jakarta: Pantja Simpati, 1984.

Sharif, M.M.  (ed.), A History of Muslim Philosophy: With Short Accounts of Other Disciplines and the Modern Renaissnce in Muslims Lands, Germany: Otto Harraso witz-Wiesbaden, 1966.

Siba>’i>, Mus}t}afa al->, Isytira>kiyyah al-Isla>m, t.tp.: al-Na>syiru>n al-‘Arab, 1977.

Siddiqi, Abdul Hameed, Islam and the Remaking of Humanity, Lahore-Pakistan: Kazi Publications, 1978.

Syari’ati, Ali, Humanisme: antara Islam dan Mazhab Barat, terj. Afif Muhammad, cet. 2, Bandung: Pustaka Hidayah, 1996.

Syati, Aisyah bintu, Manusia dalam Perspektif al-Qur’an, terj. Ali Zawawi, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999.

T{abariy,  Muh}ammad ibn Jari>r ibn Yazi>d ibn Kha>lid al-, Ja>mi‘ al-Baya>n ‘an Ta’wi>l al-Qur’a>n, Juz 3, dalam Maktabah al-Tafsi>r wa-‘Ulu>m al-Qur’a>n, CD Program Versi 1.5, Urdun: al-Khat}i>b: 1999.

 

 

 

 

__________________


*Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang

[1]Jean Paul Sartre, Eksistensialisme dan Humanisme, terj. Yudhi Murtanto, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), h. 103.

[2]Islam yang lahir pada abad ke-6 telah mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan. LihatMuhammad Youseef Moussa, Islam and Humanity’s Need of It (Cairo: The Supreme Council for Islamic Affairs, 1379 H), h. 60. Misi Nabi Muhammad, pembawa ajaran Islam, adalah memberikan kasih sayang (rah}mat) kepada seluruh alam (Q.S. al-Anbiya>’/21: 107).

[3]Makna dasar humanisme adalah pendidikan manusia seperti dikatakan Aulus Gellius yang dikutip Nicola Abbagnano, “Humanism”, dalam Paul Edward, (eds), The Encyclopedia of Philosophy, jil. III, (New York: Macmillan, 1972), h. 70.

[4]Lihat Bertrand Russell, History of Western Philosphy (London: Unwin University Press, t.t.), h. 488. Renaissance dimaksudkan untuk membela manusia karena terjadinya kegelapan yang mengerikan akibat pemerintahan Gereja Lihat Ali Syari’ati, Humanisme: antara Islam dan Mazhab Barat, terj. Afif Muhammad, cet. 2, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1996), h. 119-21.

[5] Syari’ati, Humanisme, h. 42.

[6]Roger Scruton, Sejarah Singkat Filsafat Modern: dari Descartes sampai Wittgenstein, terj. Zainal Arifin Tandjung (Jakarta: Pantja Simpati, 1984), h. 31 dan 37.

[7]Lihat Abdurrahman Mas’ud, “Pengantar”, dalam Achmadi, Ideologi Pendidikan Islam: Paradigma Humanisme Teosentris (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), h. x.  

[8]Marcel A. Boisard, Humanisme dalam Islam, terj. M. Rasjidi (Jakarta:  Bulan Bintang, 1980), h.  148.

[9]Al-Farabi, seorang filosof muslim, dalam karyanya Kita>b al-H{uru>f, membahas masalah humanisme (humanism)dengan menggunakan lafal insa>niyyah, yang berarti humanity (kemanusiaan) dalam arti kualitas manusia secara umum. Sebagaimana yang dikutip M. Mahdi dalam Joel L. Kraemer, Humanism in the Renaissance of Islam: The Cultural Revival during the Buyid Age (Leiden: E.J. Brill, 1986), h. 10f.

[10]Seperti dikutip M.M. Sharif (ed.), A History of Muslim Philosophy: With Short Accounts of Other Disciplines and the Modern Renaissnce in Muslims Lands, (Germany: Otto Harraso witz-Wiesbaden, 1966), jilid 2, h. 1625. Meski Islam didasarkan pada eksistensi Tuhan, tapi ajarannya juga ditujukan pada nilai kemanusiaan. Lihat Seyyed Hossein Nasr, The Heart of Islam: Enduring Values for Humanity (San Fransisco: Harper, 2002), h. 6.

[11]Boisard, Humanisme dalam Islam,h. 96 dan 148.

[12]Nurcholish Madjid, “The Islamic Concept of Man and Its Implications for the Muslims’ Appreciation of the Civil and Political Right”, Seminar on Enriching the Universalities of Human Rights: Islamic Perspectives on the Universal Declaration of Human Right, Geneva, 9-10 November 1998, h. 4.

[13]Machasin, “The Concept of Human Being in Islam”, International Seminar on Islam and Humanism: Universal Crisis of Humanity and the Future of Religiosity, IAIN Walisongo Seamrang, 5-8 November 2000, h. 3.

[14]Mutahhari, Perspektif al-Qur’an tentang Manusia,h. 121.

[15]‘Abd al-Gani> ‘Abu>d, al-Insa>n fi> al-Isla>m wa al-Insa>n al-Mu’a>s}ir (t.tp.: Da>r al-Fikr al-‘Arabi>, 1978), h. 123.

[16]Moussa, Islam and Humanity, h. 55.

[17]Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam (Lahore: Asyraf Publication, 1971), h. 154.

[18]Syari’ati, Humanisme, h. 47-49. Bandingkan dengan Moussa, Islam and Humanity’s, h. 52; Abdul Hameed Siddiqi, Islam and the Remaking of Humanity (Lahore-Pakistan: Kazi Publications, 1978), h. 233.

[19]Kebebasan (freedom)terikat dengan pembebasan (liberation). Lihat Richard K. Khuri, Freedom, Modernity, and Islam: Toward a Creative Synthesis (USA: Syracuse University Press, 1998), h. 338.

[20]Mus}t}afa> al-Siba>’i>, Isytira>kiyyah al-Isla>m (t.tp.: al-Na>syiru>n al-‘Arab, 1977), h. 71.

[21]Machasin, “The Concept of Human Being”, h. 10 & 12; ‘Ali> Khali>l Abu> al-‘Ainain, Falsafah al-Tarbiyah al-Isla>miyyah fi> al-Qur’a>n al-Kari>m, pengantar: ‘Abd al-Gani> ‘Abbu>d (t.tp.: Da>r al-Fikr al-‘Arabi>, 1980), h. 96.

[22]Aisyah bintu Syati, Manusia dalam Perspektif al-Qur’an, terj. Ali Zawawi (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999), h. 58-9.

[23]Hassan Hanafi, “Global Ethics and Human Solidarity”, International Seminar on Islam and Humanism: Universal Crisis of Humanity and the Future of Religiosity, (Semarang: IAIN Walisongo, 5-8 November 2000), h. 4.

[24]Machasin, “The Concept of Human Being”, h. 7.

[25]Pierre Dubois, jaksa agung dan pencetus proyek federasi Kristen awal abad ke-19, mengatakan, “Orang-orang Islam adalah musuh terhadap umat Kristen. Kita wajib memerangi mereka dan mengusir mereka sebagaimana suatu masyarakat yang teratur memerangi dan menghukum penjahat.”  Kutipan Graven ini disitir Boisard dalam Humanisme dalam Islam, h. 20.

[26]Shihab, Wawasan al-Quran, h. 487-9.

[27]Mastuhu, Memperdayakan Sistem Pendidikan Islam, peng. Hasan Lunggulung, (Jakarta: Logos, 1999), h.  15.

[28]Asma Hasan Fahmi, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, terj. Ibrahim Husein (Jakarta: Bulan Bintang,  1979), h. 105.

[29]George R. Knight, Issues and Alternatives in Educational Philosophy, (Michigan: Andews University Press – Berrien Spring, 1982), h. 87.

[30]John D. McNeil, Curriculum: A Comprehensive Introduction, (London: Brown Higher Education, 1972), h. 6.

[31]Muh}ammad ibn Jari>r ibn Yazi>d ibn Kha>lid al-T{abariy,  Ja>mi‘ al-Baya>n ‘an Ta’wi>l al-Qur’a>n, Juz 3, dalam Maktabah al-Tafsi>r wa-‘Ulu>m al-Qur’a>n, CD Program Versi 1.5, (Urdun: al-Khat}i>b: 1999),  h. 327.

[32]‘Ali> Khali>l Abu> al-‘Ainain, Falsafah al-Tarbiyah al-Isla>miyyah fi> al-Qur’a>n al-Kari>m (t.tp.: Da>r al-Fikr al-‘Arabi>, 1980), h. 153-7.

[33]Syed Sajjad Husain dan Syed Ali Ashraf, Krisis Pendidikan Islam, ed. & terj. Rahmani Astuti (Bandung:  Risalah, 1986), h. 55 dan 121.

[34]Bandingkan dengan Q.S. al-Ma.idah/5: 4; al-Baqarah/2: 151, 251, dan 282, Yu>suf/12: 37; al-Rah}ma>n/55: 1-3; al-Baqarah/2: 239; dan al-Nisa>’/4: 113;

[35]Ah}mad ibn ‘Abd al-H{ali>m ibn Taimiyah al-H{ira>niy, Kutub wa Rasa>il wa Fata>wa> Ibn Taimiyah fi> al-Tafsi>r, dalam Maktabah al-Tafsi>r wa-‘Ulu>m al-Qur’a>n, CD Program Versi 1.5, (Urdun: al-Khat}i>b: 1999), Juz14, h. 297.

PEMIKIRAN PENDIDIKAN HUMANISTIK DALAM ISLAM

18 Nov

Artikel ini sudah dimuat dalam Jurnal KAJIAN ISALAM, Vol. 3, Nomor 2, Agustus 2011, ISSN 2085-5710, hlm. 161-178

PEMIKIRAN PENDIDIKAN HUMANISTIK

DALAM ISLAM

 

Musthofa

Fakultas Tarbiyah IAIN Waliongo Semarang

Abstrak:

Pendidikan sebagai proses pemanusiawian manusia bersumber dari ajaran Islam dikenal dengan pendidikan humanistik-Islami. Hal ini sejalan dengan makna dasar humanisme sebagai pendidikan manusia. Sistem pendidikan dalam Islam yang dibangun atas dasar nilai-nilai humanistik sejak awal kemunculannya sesuai dengan esensinya sebagai agama kemanusiaan. Pendidikan humanistik-Islami adalah pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai humanisme Islam, yaitu liberasi, humanisasi, dan transendensi. Pemikiran ini menekankan pengembangan potensi manusia supaya mampu memerankan diri sebagai ‘abd Alla>h dan khali>fah Alla>h. Pendidikan ini ditujukan untuk membantu peserta didik dalam mengaktualisasikan potensinya supaya menjadi manusia mandiri dan kreatif yang sadar akan kehadiran Allah dalam dirinya.

 

Kata Kunci: transendensi,humanisasi, liberasi.

 

A.    Pendahuluan

Hakikat pendidikan sebagai proses pemanusiawian manusia (humanisasi) sering tidak terwujud karena terjebak pada penghancuran nilai kemanusiaan (dehumnisasi).[1] Hal ini merupakan akibat adanya perbedaan antara konsep dengan pelaksanaan dalam lembaga pendidikan. Kesenjangan ini mengakibatkan kegagalan pendidikan dalam mencapai misi sucinya untuk mengangkat harkat dan martabat manusia. Pendidikan belum berhasil memanusiawikan peserta didik.

Islam sebagai ajaran suci sangat memperhatikan kearifan kemanusiaan sepanjang zaman.[2] Ajaran Islam memberikan perlindungan dan jaminan nilai-nilai kemanusiaan kepada semua umat. Setiap muslim dituntut mengakui, memelihara, dan menetapkan kehormatan diri orang lain. Tuntutan ini merupakan cara mewujudkan sisi kemanusiaan manusia yang menjadi tugas pokok dalam membentuk dan melangsungkan hidup umat manusia.

Pendidikan sebagai proses pemanusiawian manusia (humanisasi) bersumber dari pemikiran humanisme. Hal ini sejalan dengan makna dasar humanisme sebagai pendidikan manusia.[3] Sistem pendidikan dalam Islam yang dibangun atas dasar nilai-nilai humanistik sejak awal kemunculannya sesuai dengan esensinya sebagai agama kemanusiaan. Islam menjadikan dimensi kemanusiaan sebagai orientasi pendidikannya. Sangatlah naif kalau dikatakan bahwa konsep pendidikan humanistik-Islami merupakan konsep pendidikan Barat yang diberi label Islam.

 

B.     Asal-usul Pendidikan Humanistik

Teori pendidikan humanistik yang muncul pada tahun 1970-an bertolak dari tiga toeri filsafat, yaitu: pragmatisme, progresivisme dan eksistensisalisme.[4] Ide utama pragmatisme dalam pendidikan adalah memelihara keberlangsungan pengetahuan dengan aktivitas yang dengan sengaja mengubah lingkungan.[5] Pendidikan (sekolah) merupakan kehidupan dan lingkungan belajar yang demokratis yang menjadikan semua orang berpartisipasi dalam proses pembuatan keputusan sesuai realitas masyarakat.

Pragmatisme memandang pendidikan (sekolah) seharusnya merupakan kehidupan dan lingkungan belajar yang demokratis yang menjadikan semua orang berpartisipasi dalam proses pembuatan keputusan sesuai realitas masyarakat. Pengaruh pemikiran ini sangat dirasakan dalam, bahkan menjadi faktor utama munculnya, teori/pemikiran humanisme dan progresivisme. Inti pragmatisme dalam pendidikan adalah bahwa: (1) Peserta didik (siswa) adalah subjek yang memiliki pengalaman. (2) Guru bukan orang yang tahu kebutuhan siswa untuk masa depannya. (3) Materi/kurikulum harus sesuai kebutuhan siswa yang menekankan proses daripada materi. (4) Metode pembelajaran harus memberikan kebebasan kepada siswa untuk mencari pengalaman belajar yang berguna. (5) Kebijakan pendidikan mengikuti arus perubahan sosial.[6]

Adapun ide progresivisme yang sangat dipengaruhi oleh pragmatisme itu sangat menekankan adanya kebebasan aktualisasi diri bagi peserta didik supaya kreatif. Faham ini menekankan terpenuhi kebutuhan dan kepentingan anak. Anak harus aktif membangun pengalaman kehidupan. Belajar tidak hanya dari buku dan guru, tetapi juga dari pengalaman kehidupan.[7] Dasar orientasi teori progresivisme adalah perhatiannya terhadap anak sebagai peserta didik dalam pendidikan.

Sebagai sebuah teori pendidikan, progresivisme menekankan kebebasan aktualisasi diri supaya kreatif sehingga menuntut lingkungan belajar yang demokratis dalam menentukan kebijakannya. Kalangan progresivis berjuang untuk mewujudkan pendidikan yang lebih bermakna bagi kelompok sosial. Progresivisme menekankan terpenuhi kebutuhan dan kepentingan anak. Anak harus aktif membangun pengalaman kehidupan. Belajar tidak hanya dari buku dan guru, tetapi juga dari pengalaman kehidupan.

Progresivisme pendidikan ini  menjadi teori dominan dalam pendidikan Amerika dari dekade 1920-an hingga 1950-an. Karena kekuatan pengaruhnya, Knight mencatat, di antara alasan hilangnya eksistensi teori ini adalah karena ide atau gagasan dan program pendidikan progresif telah diadopsi oleh teori lain yang mengembangkannya.[8] Ide progresivisme tersebut selanjutnya diperbarui dalam pendidikan humanistik.

Pengaruh terakhir munculnya pendidikan humanistik adalah eksistensialisme yang pilar utamanya adalah invidualisme. Teori eksistensialisme lebih menekankan keunikan anak secara individual daripada progresivisme yang cenderung memahami anak dalam unit sosial. Anak sebagai individu yang unik. Pandangan tentang keunikan individu ini mengantarkan kalangan humanis untuk menekankan pendidikan sebagai upaya pencarian makna personal dalam eksistensi manusia. Pendidikan berfungsi untuk membantu kedirian individu supaya menjadi manusia bebas dan bertanggung jawab dalam memilih. Kebebasan manusia merupakan tekanan para eksistensialis.[9] Dengan kebebasan tersebut peserta didik akan dapat mengaktualisasikan potensinya secara maksimal.

Kaum eksistensialis memandang sistem pendidikan yang ada itu dinilai membahayakan karena tidak mengembangkan individualitas dan kreativitas anak. Sistem pendidikan tersebut hanya mengantarkan mereka bersikap konsumeristik, menjadi penggerak mesin produksi, dan birokrat modern. Kondisi ini mematikan sifat-sifat kemanusiaan. Bagi kaum eksistensialis, perhatian utama pendidikan adalah membantu kedirian peserta didik untuk sampai pada realisasi yang lebih utuh sebagai individu yang memiliki kebebasan, bertanggung jawab, dan memiliki hak memilih. Aliran ini memberikan semangat dan sikap yang bisa diterapkan dalam kegiatan pendidikan.

Pemikiran pendidikan ini mengantarkan pandangan bahwa anak adalah individu yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi sehingga muncul keinginan belajar. Apabila lingkungan baik (kondusif untuk belajar), maka anak akan terdorong untuk belajar sendiri. Karena itu, pendidikan harus menciptakan iklim atau kondisi yang kondusif untuk belajar. Ketidakmauan anak untuk belajar disebabkan oleh kesalahan lingkungan yang kurang mendukung untuk dapat berperan aktif. Konsep menjadi penopang terbentuknya pemikiran pendidikan humanistik. Hal ini sesuai dengan pandangan bahwa eksistensialisme adalah suatu humanisme[10] sehingga konsep ini menjadi penopang terbentuknya pemikiran pendidikan humanistik.

 

C.    Humanisme sebagai Pendekatan Pendidikan Islam

Pemikiran filosofis dari eksistensialisme dan pragmatisme yang didukung dengan pengembangan dan pembaruan pemikiran teori progresivisme menghasilkan pemikiran baru berupa pendidikan humanistik. Ide kedua filsafat dan teori pendidikan tersebut berpusat pada nilai-nilai kemanusiaan. Nilai kemanusiaan dalam pragmatisme terletak pada otoritas masyarakat, sedangkan dalam eksistensialisme berada dalam peran individu.[11] Karena itu, filsafat pragmatisme dan eksistensialisme merupakan sumber inspirasi munculnya pendidikan humanistik.

Dalam istilah/nama pendidikan humanistik, kata “humanistik” pada hakikatnya adalah kata sifat yang merupakan sebuah pendekatan dalam pendidikan.[12] Pendidikan humanistik sebagai sebuah nama pemikiran/teori pendidikan dimaksudkan sebagai pendidikan yang menjadikan humanisme sebagai pendekatan. Pengembangan potensi peserta didik dan pemanfaatan kesempatan secara optimal menjadi pendekatan dalam pendidikan. Esensi semua teori/model pendidikan adalah sama, meskipun dengan nama yang beraneka ragam, seperti pendidikan partisipatif, pendidikan integralistik, pendidikan progresif, pendidikan pembebasan, dan lain-lain, yaitu pengembangan potensi manusia.

Penekanan atau pemusatan pendidikan pada anak secara individual ini dipertegas oleh para psikolog eksistensial atau humanistik, seperti Carl Rogers, Abraham Maslow, dan Arthur Combs. Mereka adalah tokoh yang memunculkan teori pendidikan humanistik. Knight menyimpulkan pemikirannya tentang pendidikan ini sebagai “helping the student become ‘humanized’ or ‘self-actualized’ –helping the individual student discover, become, and develop his real self and his full potential”.[13] Pendidikan dipandang sebagai bantuan kepada anak supaya menjadi manusiawi. Mereka dapat mengaktualisasikan diri dengan cara menemukan dan mengembangkan jati diri dan potensinya secara optimal sehingga menjadi manusia yang sesungguhnya.

Konsep utama dari pemikiran pendidikan humanistik menurut Mangunwijaya adalah menghormati harkat dan martabat manusia.[14] Konsep ini secara lebih rinci dinyatakan Knight, “Central to the humanistic movement in education has been a desire to create learning environment where children would be free from intense competition, harsh discipline, and the fear of filure.[15] Hal mendasar dalam pendidikan humanistik adalah keinginan untuk mewujudkan lingkungan belajar yang menjadikan peserta didik terbebas dari kompetisi yang hebat, kedisiplinan yang tinggi, dan ketakutan gagal. Freire mengatakan; “Tidak ada dimensi humanistik dalam penindasan, juga tidak ada proses humanisasi dalam liberalisme yang kaku.”[16]

Konsep ini senada dengan pandangan Mazhab Kritis:

Pendidikan dimaknai lebih dari sekedar persoalan penguasaan teknik-teknik dasar yang diperlukan dalam masyarakat industri tetapi juga dioerientasikan untuk lebih menaruh perhatian pada isu-isu fundamental dan esensial, seperti meningkatkan harkat dan martabat kemanusiaan, menyiapkan manusia untuk hidup di dan bersama dunia, dan mengubah sistem sosial dengan berpihak kepada kaum marjinal.[17]

Hakikat pendidikan menurut Mastuhu adalah mengembangkan harkat dan martabat manusia (human dignity) atau memperlakukan manusia sebagai humanizing human sehingga menjadi manusia yang sesungguhnya.[18] Karena itu, pola hubungan perlawanan antara pendidik dengan peserta didik yang sering muncul dalam pendidikan harus diubah. Pendidikan harus menumbuhkan kepercayaan dan rasa aman. Dengan cara tersebut, peserta didik terhidar dari ketakutan sehingga menumbuhkan kreativitas.

Pendidikan humanistik menekankan pencarian makna personal dalam eksistensi anak.[19] Peserta didik bebas menentukan tujuan pendidikan sesuai kebutuhan dan minatnya. Pencapaian tujuan ini menuntut adanya keterbukaan dan penggunaan imajinasi dan eksperimentasi. Karena itu, pendidik dianjurkan mengemas proses pendidikan sebagai bentuk kerja sama antarindividu dan kelompok kecil. Pendidik bukanlah sebagai pemberi ujian. Tujuan tersebut menjadi acuan dalam merumuskan sistem pendidikan sehingga dapat mewujudkan cita-cita pendidikan yang mampu mengantarkan peserta didik menjadi manusia teraktulasasikan potensinya dengan optimal.

Dengan demikian, konsep pendidikan humanistik di Barat menuntut adanya kebebasan supaya harkat dan martabat manusia (peserta didik) terjamin. Kebebasan tidak akan terjadi manakala seorang peserta didik terisolasi oleh hal-hal di luar dirinya. Kebebasan dalam pendidikan humanistik di Barat tidak dibatasi oleh aturan atau nilai apa pun termasuk nilai-nilai dari ajaran agama. Kebebasan yang lepas dari kontrol ajaran agama (sekuler) memungkinkan terjadinya perbuatan yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan atas nama kebebasan. Prinsip kebebasan dalam pendidikan inilah yang membedakannya dari konsep ajaran agama. Dalam humanisme religius, pendidikan diarahkan untuk menjadikan pendekatan kepada Tuhan melalui pengalaman manusia. Meski ada kesamaan dengan pendidikan sekuler, akan tetapi pendidikan keagamaan memiliki nilai tambah.[20] Nilai tambah ini merupakan kelebihannya, yaitu sandaran pada nilai-nilai spiritual guna mewujudkan manusia yang sebenarnya seperti arah pendidikan humanistik dalam Islam.

 

D.    Konsep Pendidikan Humanistik dalam Islam

Dalam Islam, pemikiran pendidikan humanistik bersumber dari misi utama kerasulan Muhammad, yaitu memberikan rahmat dan kebaikan kepada seluruh umat manusia dan alam semesta (Q.S. Saba>’/34: 28 dan al-Anbiya>’/21: 107). Spirit ayat inilah yang mengilhami pemikiran pendidikan yang dikembangkan menjadi pendidikan humanistik yang juga disebut pendidikan humanistik-Islami.

Istilah “pendidikan humanistik-Islami” mencakup dua konsep pendidikan yang ingin diintegrasikan, yakni pendidikan humanistik dan pendidikan Islam. Dalam pengintegrasian dua konsep pendidikan ini dimaksudkan juga untuk mengurangi kelemahannya. Pendidikan humanistik yang menekankan kemerdekaan individu diintegrasikan dengan pendidikan religius (Islam) agar dapat membangun kehidupan sosial yang menjamin kemerdekaan dengan tidak meninggalkan nilai ajaran agama. Kemerdekaan individu dalam pendidikan humanistik-Islami dibatasi oleh nilai ajaran Islam. Nilai-nilai agama diharapkan menjadi pendorong perwujudan nilai-nilai kemanusiaan. Pemisahan antara kedua konsep tersebut akan menyebabkan tidak terwujudnya nilai-nilai humanisme Islam dalam sistem pendidikan.

Kata “Islam” dalam istilah tersebut tidak dimaksudkan untuk mendikotomikannya dari jenis pendidikan lain, meskipun dengan sendirinya memasuki wilayah perbedaan antara keduanya. Lafal “Islam” hanya untuk menegaskan bahwa kajiannya didasarkan pada nilai-nilai atau ajaran Islam. Karena itu, “pendidikan humanistik-Islami” hanyalah merupakan suatu model pendidikan yang bersumber dari nilai-nilai ajaran Islam yang pelaksanaannya menggunakan humanisme sebagai pendekatan. Pendidikan ini menjadikan humanisme Islam sebagai pijakan dalam pelaksanaannya.

Pendidikan dalam arti luas, menurut Zamroni, merupakan proses yang berkaitan dengan upaya mengembangkan diri seseorang pada tiga aspek kehidupan, yakni pandangan hidup, sikap hidup, dan ketrampilan hidup.[21] Pendidikan berperan menyiapkan generasi muda untuk menjalankan kehidupan dan memenuhi tujuan hidupnya secara lebih efektif dan efisien. Pendidikan membimbing dan membentuk diri manusia menuju masa depan yang gemilang.

Sistem pendidikan di Indonesia diharapkan mampu menghasilkan manusia yang memiliki kemampuan dan kreativitas berdasarkan nilai-nilai moral yang mulia untuk kebaikan hidup sesuai nilai-nilai kemanusiaan dalam rangka pengabdian dirinya kepada Tuhan. Karena itulah,  dalam UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 Pasal 1 dinyatakan:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Konsep pendidikan dalam undang-undang tersebut telah diupayakan menjamin nilai, harkat, dan martabat peserta didik sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan. Sistem pendidikannya diarahkan menuju terwujudnya pendidikan yang humanistik. Humanisme sebagai sebuah pendekatan dalam pendidikan membentuk teori yang disebut pendidikan humanistik.

Pendidikan humanistik dalam The Encyclopedia of Education, didefinisikan Olafson sebagai berikut:

… a humanistic education –that is, an education shaped by these guiding assumptions of humanism– will be a nonspecialist or general education, an education in humanity rather than in the knowledge peculiar to a distinct profession. Accordingly, each interpretation of the distinctively human powers could in principle generate a corresponding form a nonspecialist education entitled to be called humanistic.[22]

Pendidikan humanistik (humanistic education)adalah pendidikan yang bersumber dari asumsi ajaran humanisme. Model pendidikan ini lebih merupakan pendidikan kemanusiaan daripada pendidikan tentang pengetahuan-pengetahuan yang khusus untuk profesi tertentu. Pendidikan humanistik adalah pendidikan umum sehingga bukan pendidikan spesialis. Penafsiran terhadap kekuatan manusia yang unik pada dasarnya dapat menghasilkan bentuk yang sama dengan pendidikan non-spesialis yang disebut dengan humanistik.

Karena itu, kecenderungan/harapan yang berada di luar diri (tidak dikehandaki) peserta didik tidak menjadi perhatian model pendidikan ini. Pendidikan humanistik tidak boleh memaksakan kehendak kepada anak. Sejalan dengan batasan tersebut, Knight memberikan ciri utama pendidikan humanistik dengan pernyataan, “Educational humanism has placed even more stress on the uniqueness of individual child ….[23] Pendidikan humanistik lebih menekankan keunikan individu. Orientasi yang tidak sesuai potensi/keunikan anak tidak menjadi sasaran pendidikan humanistik.

Pengembangan potensi ditujukan pada ciri utama manusia, berupa kemampuan diberi motivasi guna mencapai tujuan pendidikan. Pendidikan ini dalam pandangan Maslow memberikan tekanan lebih besar pada pengembangan potensi seseorang, terutama potensinya untuk menjadi manusiawi, memahami diri dan orang lain serta berhubungan dengan mereka, mencapai pemuasan atas kebutuhan-kebutuhan dasar manusia, tumbuh ke arah aktualisasi diri. Pendidikan ini akan membantu orang menjadi pribadi yang sebaik-baiknya sesuai kemampuannya.[24] Dengan teraktualisasinya potensi itu, manusia akan menjadi manusia yang sesungguhnya.

Dengan demikian, hubungan humanisme dengan pendidikan berkisar pada asumsi etis yang diasosiasikan dengan konsep yang ditawarkan kalangan humanis tentang kemampuan manusia. Manusia diasumsikan sebagai sumber kesempurnaan dan kebaikan. Sifat baik itu dimiliki setiap orang yang memiliki kesempatan dan kemampuan intelektual untuk menerima pendidikan. Untuk itu, teori pendidikan harus didasarkan pada identifikasi yang sebenarnya tentang manusia dan merancang pembelajaran yang akan menyempurnakan kemampuannya berdasar atas nilai kemanusiaan tersebut.

Dalam Islam, pemikiran pendidikan humanistik bersumber dari misi utama kerasulan Muhammad, yaitu memberikan rahmat dan kebaikan kepada seluruh umat manusia dan alam semesta (Q.S. Saba>’/34: 28 dan al-Anbiya>’/21: 107). Spirit ayat inilah yang mengilhami pemikiran pendidikan yang dikembangkan menjadi pendidikan humanistik. Pendidikan Islam yang dibangun atas dasar sifat dan karakteristik dan nilai-nilai humanisme disebut pendidikan humanistik-Islami. Pemikiran ini merupakan sebuah hasil interpretasi atau ijtihad para cendekiawan muslim ahli pendidikan tentang upaya mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi dasar humanisme Islam. Hal ini menunjukkan titik sinkron antara konsep pendidikan Islam dan makna dasar humanisme (humanitas) yang berarti pendidikan bagi manusia.

Pendidikan humanistik dalam Islam didefinisikan oleh Rahman sebagai “proses pendidikan yang lebih memperhatikan aspek potensi manusia sebagai makhluk sosial dan makhluk religius, ‘abdullah dan khalifatullah, serta sebagai individu yang diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mengembangkan potensi-potensinya”.[25] Pendidikan humanistik-Islami akan merealisasikan tujuan humanisme Islam, yaitu keselamatan dan kesempurnaan manusia karena kemuliaannya.[26] Sistem pendidikan ini akan membentuk peserta didik menjadi ‘abd Alla>h dan khalifah Alla>h sebagai manusia mulia. Pemikiran pendidikan ini Pendidikan humanistik memandang manusia sebagai manusia, yakni makhluk ciptaan Allah dengan fitrah-fitrah tertentu. Hal ini ditandai dengan kepemilikan hak hidup dan hak asasi manusia.

Pengembangan potensi ini hanya mungkin terwujud bila pelaksanaan pendidikan didasarkan pada prinsip humanisme, yaitu terlindunginya nilai-nilai hidup, harkat, dan martabat manusia. Perlindungan ini berfungsi untuk menjamin potensi anak didik supaya bisa teraktulisasi secara maksimal. Pendidikan humanistik dalam Islam berupaya memahami kebenaran, kebaikan universal, dan aktualisasi diri lebih jauh ke kehidupan spiritual (dimensi vertikal), di samping memahami realitas dan permasalahan kehidupan manusia (dimensi horizontal) dalam kehidupan bersama.

Dimensi vertikal ini sejalan dengan pemikiran perenialisme yang menekankan pendidikan sisi rasio (akal) manusia.[27] Pengembangan akal berfungsi untuk mengontrol nafsu yang mengajak kepada perbuatan jahat. Pandangan ini membawa kepada perbaikan akhlak dan perubahan karakter, di samping perolehan ilmu pengetahuan. Dalam pendidikan Islam, akhlak lebih dipentingkan daripada ilmu. Pandangan inilah yang menjadi jiwa humanisme Islam. Akan tetapi, dalam membangun kebaikan akhlak itu sering menyebabkan otoritas guru yang berlebihan sehingga mengakibatkan anak terkekang dan tidak bisa kreatif. Pendidikan keagamaan klasik cenderung memiliki tujuan untuk membangun karakter atau akhlak mulia sebagai misi utama diutusnya rasul.

Pengembangan potensi pada hakikatnya merupakan makna dasar dari lafal tarbiyah yang menjadi istilah kunci dalam kajian tentang konsep pendidikan dalam Islam. Ibn Manz}u>r memaknai tarbiyah dengan menumbuhkan, menambah, mengembangkan, menyiapkan, menyempurnakan, dan menjadikan bagus. Aktivitas pengembangan dalam pendidikan adalah menjadikan baik.[28]  Sayyid Qut}b memandang konsep tarbiyah memiliki maksud yang lebih dalam dan komprehensif (seperti dalam Q.S. al-Isra>’/17: 24). Tarbiyah berarti pemeliharaan jasmani/badan manusia dan membantu menumbuhkan kematangan sikap mental sebagai pancaran akhlak mulia pada dirinya.[29] ‘Abba>s Mah}ju>b dalam Us}u>l al-Fikr al-Tarbawi>y fi> al-Isla>m memaknai tarbiyah sebagai pengembangan potensi.[30] Pendidikan sebagai upaya pengembangan potensi manusia sesuai dengan misi gerakan humanisme menekankan diri dan kemampuan individu untuk merealisasikan potensinya.

Konsep tarbiyah secara substansial dinilai al-Bani sebagai upaya menumbuhkembangkan potensi peserta didik dengan berbagai sarana pendukungnya menuju kesempurnaan yang optimal yang dilaksanakan secara bertahap sesuai irama perkembangan dirinya.[31] Upaya ini sesuai dengan makna pendidikan sebagai pemberdayaan.[32]

Pendidikan berperan sebagai pemberdayaan. Pengembangan potensi peserta didik merupakan upaya memberdayakan manusia supaya tumbuh kemandirian dan kepribadian sesuai keunikan yang dimiliki. Tugas pendidikan Islam adalah mengembangkan potensi dan membantu pertumbuhan kematangan sikap mental mulia dengan penuh kasih sayang sehingga menjadi manusia baik. Konsep ini menjadi dasar upaya menghindari proses dehumanisasi dalam pendidikan Islam.

Meski demikian, al-Attas menilai makna tarbiyah sebagai pengembangan potensi lebih mencerminkan pengaruh konsep Barat dalam istilah education, yakni pendidikan sebagai pengembangan individu dalam aspek fisik yang bersifat material sehingga tidak cocok untuk pendidikan Islam.[33] John Dewey, seorang filsuf Barat kenamaan, mengatakan, “Etymologically, the word education means just a process of leading or bringing up.[34]Penilaian al-Attas ini relevan dengan pandangan Bigge dalam Learning Theories for Teachers, bahwa tujuan pendidikan Barat adalah membantu perkembangan daya dorong anak untuk memanfaatkan potensi yang dimiliki dan kemampuannya mengatasi problem yang dihadapi.[35]

Atas dasar itulah, al-Attas mengusulkan agar konsep tarbiyah diganti dengan ta’di>b (penanaman adab). Menurutnya, istilah ta’di>b sudah mencakup unsur ‘ilm (ilmu), ta’li>m (pengembangan ilmu, pembelajaran), dan tarbiyah (pengasuhan atau pembinaan yang baik).[36] Istilah ta’di>b menurut Ibn Manz\u>rberarti mendidik manusia berperilaku terpuji dan mencegahnya berbuat tercela. Ta’di>b juga berarti ta‘li>m (mengajar).[37]

Al-Attas mendasarkan konsep ta’di>b pada sebuah Hadis Nabi: Addaba-ni> Rabbi> fa-ah}sana ta’di>bi>.[38] Kandungan ta’di>b adalah akhlak. Ta’di>b dimaksudkan dengan mendidik yang lebih tertuju kepadapembinaan dan penyempurnaan akhlak. Konsep ini sesuai dengan tema sentral humanisme Islam, yaitu kebaikan akhlak. Hal ini berbeda dengan humanisme Barat yang pendidikannya ditujukan hanya untuk pengembangan diri yang matang (self actualization).[39] Akhlak mulia tidak sama dengan moralitas di Barat. Itulah hakekat pengembangan potensi dalam paradigma pendidikan Islam.

Pengembangan potensi ini hanya mungkin terwujud bila pelaksanaan pendidikan didasarkan pada prinsip humanisme, yaitu terlindunginya nilai-nilai hidup, harkat, dan martabat manusia. Perlindungan ini berfungsi untuk menjamin potensi anak didik supaya bisa teraktulisasi secara maksimal. Pendidikan humanistik dalam Islam berupaya memahami kebenaran, kebaikan universal, dan aktualisasi diri lebih jauh ke kehidupan spiritual (dimensi vertikal), di samping memahami realitas dan permasalahan kehidupan manusia (dimensi horizontal) dalam kehidupan bersama. Dengan demikian, pendidikan humanistik-Islami adalah pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai humanisme Islam, yaitu liberasi, humanisasi, dan transendensi. Berdasarkan itulah prinsip-prinsip pendidikan humanistik Islami dapat dirumuskan, yaitu:

 

1. Proses sebagai Proses Humanisasi

Menurut Kuntowijoyo, humanisasi ditujukan untuk memanusiawikan manusia. Ilmu dan teknologi telah membantu kecenderungan pandangan manusia secara parsial. Ekses dari kemajuan iptek mengantarkan manusia tertindas olehnya. Terjadinya dehumanisasi disebabkan oleh karena masyarakat industrial yang mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan.

Dalam Islam, pendidikan humanistik dimaksudkan sebagai proses pendidikan yang menekankan pengembangan potensi peserta didik supaya terktualisasi secara optimal sehingga menjadi manusia rabba>ni>yang mampu berperan sebagai ‘abdulla>h (hamba Allah) sekaligus sebagai khali>fah Alla>h (wakil Tuhan) di muka bumi. Sebagai khali>fah, manusia memiliki keinginan bebas untuk diwujudkan, memiliki kemampuan berfikir dan memahami, imajinasi, kreasi, dan bertindak untuk mengembangkan kehidupannya di dunia. Adapun status ‘abdulla>h menunjukkan manusia memiliki kesediaan untuk mengabdi kepada Tuhan dan kerendahan hati terhadap sesama manusia.

Atas dasar itulah, humanisme menjadi bagian integral dari ajaran Islam. Hakikat pendidikan Islam adalah pendidikan humanis. Di sinilah nampak upaya pendidikan Islam sebagai institusi agama yang menghargai dan menjunjung tinggi nilai, harkat, dan martabat manusia. Semua itu membawa kedamaian, persamaan, persaudaraan, keadilan, dan pembebasan manusia sehingga terbentuk masyarakat global yang menebarkan rahmat bagi kehidupan (rah}mah li al-‘a>lami>n). Pendidikan humanistik-Islami membawa misi ajaran tersebut.

Pendidikan humanistik menjadi pengembangan fitrah manusia. Islam memandang fitrah bukan tabula rasa (manusia tanpa bakat, bekal, atau kemampuan). Fitrah merupakan pemberian dari Allah yang berisi potensi baik dan potensi buruk. Potensi ini akan berkembang dan teraktualisasi dalam kehidupan tergantung pada pendidikan dan budaya. Kalau manusia tepat mengembangkan potensi positif akan dekat dengan sifat ilahiah. Sebaliknya bila yang berkembang itu potensi jahatya, manusia akan bisa lebih jahat daripada setan. Tugas pendidikan adalah mengurangi atau bahkan menghilangkan potensi jahat dan mengembangkan potensi baiknya. Pendidikan humanistik bertolak dari fitrah manusia dalam mengaplikasikan, mengembangakan, dan menanamkan nilai-nilai universal dalam diri manusia sehingga menjadi manusia yang sesungguhnya.

 

2. Pendidikan sebagai Proses Liberasi

Tujuan liberasi adalah pembebasan manusia dari kekejaman kemiskinan dan keangkuhan teknologi. Tujuan ini akan menjadikan satu rasa dengan si miskin yang ditindas oleh kekuatan ekonomi raksasa. Pendidikan humanistik-Islami memandang manusia sebagai makhluk mulia dan bertanggung jawab atas pilihan dan tindakannya yang memiliki kebebasan mengembangkan diri sesuai dengan keinginannya sehingga terbebas dari belenggu pihak lain, namun mereka tetap memiliki kerendahan hati dan ketundukan pada kekuasaan Tuhan. Pendidikan yang menjamin harkat dan martabat manusia  ini sebenarnya telah dikonsepkan sejak awal kelahiran Islam sesuai dengan ayat tentang kejadian manusia sebagai makhluk mulia.

Pendidikan humanistik-Islami berupaya membebaskan manusia dari kemiskinan, kebodohan, dan kebutaan spiritual yang menjadi musuh humanisme. Kemiskinan tidak hanya mendorong pengingkaran pemenuhan hidup manusia yang kesejahteraan material, tetapi juga menghambat pemenuhan kebutuhan intelektual dan spiritual. Adapun kebodohan mendorong manusia tidak bisa berpikir kreatif dan kritis dalam memecahkan masalah hidupnya. Sikap fatalistik, menyerah terhadap penderitaan sebagai nasib yang harus diterima, merupakan bentuk kebodohan.

Dengan demikian, konsep pendidikan humanistik di Barat menuntut adanya kebebasan supaya harkat dan martabat manusia (peserta didik) terjamin. Freire mengatakan; “Tidak ada dimensi humanistik dalam penindasan, juga tidak ada proses humanisasi dalam liberalisme yang kaku.”[40] Kebebasan tidak akan terjadi manakala seorang peserta didik terisolasi oleh hal-hal di luar dirinya. Kebebasan dalam pendidikan humanistik di Barat tidak dibatasi oleh aturan atau nilai apa pun termasuk nilai-nilai dari ajaran agama. Kebebasan yang lepas dari kontrol ajaran agama (sekuler) memungkinkan terjadinya perbuatan yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan atas nama kebebasan. Prinsip kebebasan dalam pendidikan inilah yang membedakannya dari konsep ajaran agama. Dalam humanisme religius, pendidikan diarahkan untuk mendekatkan kepada Tuhan melalui pengalaman manusia. Meski ada kesamaan dengan pendidikan sekuler, akan tetapi pendidikan keagamaan memiliki nilai tambah.[41] Nilai tambah ini merupakan kelebihannya, yaitu sandaran pada nilai-nilai spiritual guna mewujudkan manusia yang sebenarnya seperti arah pendidikan humanistik dalam Islam.

Pendidikan humanistik yang menekankan kemerdekaan individu diintegrasikan dengan pendidikan religius (Islam) agar dapat membangun kehidupan sosial yang menjamin kemerdekaan dengan tidak meninggalkan nilai ajaran agama.[42] Kemerdekaan individu dalam pendidikan humanistik-Islami dibatasi oleh nilai ajaran Islam. Nilai-nilai agama diharapkan menjadi pendorong perwujudan nilai-nilai kemanusiaan. Pemisahan antara kedua konsep tersebut akan menyebabkan tidak terwujudnya nilai-nilai humanisme Islam dalam sistem pendidikan.

 

3. Pendidikan sebagai Proses Transendensi

Adapun transendensi ditujukan untuk menambahkan dimensi transendental dalam hidup manusia. Pola hidup hedonis, materialis, dan budaya yang negatif harus dibersihkan dengan mengingat kembali dimensi spiritual yang menjadi fitrah manusia.[43] Pemikiran pendidikan humanistik dalam Islam bertolak dari nilai-nilai spiritual. Pemenuhan kebutuhan manusia seperti aktualisasi diri, harga diri, sosial, keamanan, dan material diletakkan pada nilai-nilai keimanan dan ketakwaan kepada Allah.

Keseimbangan kedua dimensi tersebut menjadi prinsip pendidikan humanistik-Islami. Orientasi sistem pendidikan itu sejalan dengan konsep pendidikan Islam yang inheren dalam konotasi istilah tarbiyah, ta’li>m, dan ta’di>b. Konsep pendidikan yang didasarkan pada ketiga terma itu mengandung makna yang amat dalam berkenaan dengan manusia, masyarakat dan lingkungan dalam rangka pengabdian kepada Allah.[44] Pemikiran tentang humanisasi sistem pendidikan Islam selayaknya mengacu pada ketiga konsep pendidikan itu. Hal ini sesuai dengan tuntutan peradaban pascamodern yang berusaha menemukan kembali keunikan dan akar spiritual kemanusiaan.

Adapun kebutaan spiritual menjadikan manusia mudah terbelenggu keserakahan material. Pendidikan humanistik-Islami tidak cukup hanya diarahkan pada tugas membebaskan manusia dari belenggu kehidupan material dan intelektual, tapi juga harus membebaskan manusia dari belenggu spiritual. Konsep inilah yang harus diaktualisasikan dalam aspek-aspek pendidikan humanistik dalam Islam.

Islam dengan watak religius-tauhidnya mengintegrasikan aspek spiritual sebagai satu kesatuan orientasi pendidikan yang tidak bisa dipisahkan dari aspek sosial dan materialnya diharapkan bisa membentuk manusia kongkret yang sempurna sebagai manusia beradab. Mereka itulah yang layak diberi predikat manusia sempurna (insa>n ka>mil), manusia teladan, unggul, dan luhur. Inilah profil manusia humanis. Konsep ini bertolak dari pemikiran Islam yang dibangun dari hubungan vertikal dan horizontal, teosentris dan antroposentris.

Perintah membaca (iqra’)dalam Q.S. al-‘Alaq/96: 1-5 menjadi dasar pendidikan untuk perbaikan, pembebasan, dan pencerahan kemanusiaan. Ilmu pengetahuan yang diajarkan Allah menjadikan manusia lebih tinggi daripada malaikat dan jin. Manusia harus  tunduk kepada Tuhan, tidak sombong dan tidak menindas makhluk lain.

 

E.     Penutup

Pendidikan humanistik-Islami adalah pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai humanisme Islam, yaitu liberasi, humanisasi, dan transendensi. Liberasi dimaksudkan sebagai pembebasan manusia dari belenggu pihak lain sehingga mampu mengembangkan diri secara optimal. Humanisasi merupakan upaya melindungi nilai-nilai kemanusiaan dengan mengembangkan seluruh potensi peserta didik sehingga menjadi manusia yang mulia dan bertanggung jawab. Transendensi adalah menyandarkan aktivitas hidup manusia berdasar dimensi spiritual sehingga tidak merugikan pihak lain. Pemikiran ini menekankan pengembangan potensi manusia supaya mampu memerankan diri sebagai ‘abd Alla>h dan khali>fah Alla>h. Pendidikan ini ditujukan untuk membantu peserta didik dalam mengaktualisasikan potensinya supaya menjadi manusia mandiri dan kreatif yang sadar akan kehadiran Allah dalam dirinya.

 

DAFTAR  KEPUSTAKAAN

Abbagnano, Nicola, “Humanism”, terj. Nino Langiulli, dalam Paul Edward (ed.), The Encyclopedia of Philosophy, Jilid III (New York: MacMillan, 1972).

Alattas, Seyyed Naquib Aims Objectives of Islamic Education (Jeddah: King Abdul Aziz University, 1977).

al-Attas, Syed Muhammad al-Naquib, The Concept of Education in Islam: A Framework for an Islamic Philosophy of Education (Kuala Lumpur: ISTAC-International Institute  of Islamic Thought and Civilization, 1991).

al-H{anafiy,Mus}t}afa> ibn ‘Abdullah al-Qust}anti>niy al-Rumiy, Kasyf al-Z{unu>n, dalam al-Maktabah al-Alfiyah li al-Sunnah al-Nabawiyyah, CD Program Versi 1.5 (Urdun: al-Khat}i>b: 1999), Juz 2.

al-Nah}lawi, ’Abd al-Rah}ma>n, Us}ul al-Tarbiyah al-Isla>miyyah wa Asa>libuha> fi> al-Bait wa al-Marasah wa al-Mujtama’ (Damsyiq: Da>r al-Fikr, 1996).

Azra, Azyumardi, Pendidikan Islam: Tradisi dan Moderasi menuju Milenium Baru (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999).

Bigge,  Morris L., Learning Theories for Teachers (New York: Harper & Row, 1982).

Brubacher, John S., Modern Philosophy of Education, New York: McGraws-Hill, 1981.

Daud, Wan Mohd Nor Wan, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib al-Attas, terj. Hamid Fahmy, M. Arifin Ismail, dan Iskandar Amel, ed. Abd. Syukur Dj. (Bandung: Mizan, 2003).

Dewey, John, Democracy and Education (New York: The Free Press, 1966).

Freire, Paulo, Pedagogy of the Oppressed, terj. Myra Bergman Ramos (New York: Penguin Books, 1972).

Freire,Paulo, Politik Pendidikan: Kebudayaan, Kekuasaan, dan Pembebasan, terj. Agung Prihantoro dan Fuad Arif Fudiyartanto, Yogyakarta: Pustaka Pelajar & READ, 2002.

Goble, Frank G., Mazhab Ketiga: Psikologi Humanistik Abraham Maslow, terj. A. Supratinya (Yogyakarta: Kanisius, 1997).

Ibn Manz}u>r, Ibn  Jama>l al-Di>n Muh}ammad ibn Mukram, Lisa>n al-‘Arab, Juz 1, dalam CD Maktabah al-Tafsi>r wa ‘Ulu>m al-Qur’a>n, Versi 1.5 (Urdun: al-Khat}i>b, 1999).

John D. McNeil, Curriculum: A Comprehensive Introduction (London: Scott, Forseman-Little, Brown Higher Education, 1972).

Knight, George R., Issues and Alternatives in Educational Philosophy (Michigan: Andews University Press, 1982).

Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi, ed. A.E. Priyono (Bandung: Mizan, 1998).

Levine, Nietzche dan Krisis Manusia Modern, terj. Ahmad Sahidah,  (Yogyakarta: Ircisod, 2002).

Mah}ju>b, ‘Abba>s, Us}u>l al-Fikr al-Tarbawi>y fi> al-Isla>m (Beirut: Da>r al-Fikr, 1987).

Mas’ud, Abdurrahman, Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik: Humanisme Religius sebagai Paradigma Pendidikan Islam (Yogyakarta: Gama Media, 2002).

Mastuhu, Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional dalam Abad 21 (Yogyakarta: Safiria Insani Press-Magiter Studi Islam UII, 2003).

Moussa, Muhammad Youseef, Islam and Humanity’s Need of It (Cairo: The Supreme Council for Islamic Affairs, 1379 H).

Mulkhan, Abdul Munir, Nalar Spiritual Pendidikan: Solusi Problem Filosofis Pendidikan Islam, ed. Romiyatun (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002).

Noddings, Nel, Philosophy of Education (Oxford: Westview, 1998).

Nuryatno, M. Agus, Mazhab Pendidikan Kritis: Menyingkap Relasi Pengetahuan Politik dan Kekuasaan (Yogyakart: Resist Book, 2008).

Olafson, Frederick A., “Humanism and Education”, dalam Lee C. Deighton (ed. in chief), The Encyclopedia of Education, Vol. 4 (USA: The MacMillan Company & The Fee Press, 1986), hlm. 519.

Qut}b, Sayyid, Tafsi>r fi> Z{ila>l al-Qur’a>n, Juz 15 (Beirut: Da>r al-Ih}ya>’, t.t.).

Russell,  Bertrand, History of Western Philosphy (London: Unwin University Press, t.t.)

Scruton, Roger, Sejarah Singkat Filsafat Modern: dari Descartes sampai Wittgenstein, terj. Zainal Arifin Tandjung, Jakarta: Pantja Simpati, 1984.

Syari’ati, Ali, Humanisme: antara Islam dan Mazhab Barat, terj. Afif Muhammad (Bandung: Pustaka Hidayah, 1996).

Y.B. Mangunwijaya, “Mencari Visi Dasar Pendidikan”, Sindhunata (ed.), Pendidikan: Kegelisahan Sepanjang Zaman (Yogyakarta: Kanisius, 2001).

Yelon, Stephen L. dan Grace W. Weinstein, A Teacher’s World: Psychology in the Classroom (London: McGraw-Hill International Book Company, 1977).

Zamroni, Pendidikan untuk Demokrasi: Tantangan menuju Civil Society (Yogyakarta: Bigraf, 2001), hlm.24.


[1]Humanisasi dan dehumanisasi adalah dua entitas yang bertentangan namun menjadi kemungkinan riil. Lihat Paulo Freire, Pedagogy of the Oppressed, terj. Myra Bergman Ramos (New York: Penguin Books, 1972), hlm. 20. Istilah “pemanusiawian” dipandang berbeda dengan “pemanusiaan”. Istilah pertama dimaksudkan sebagai upaya untuk lebih memberikan nilai kemanusiaan, sedangkan yang kedua berarti merubah status dari yang bukan manusia menjadi manusia. Terma pemanusiawian dipilih untuk proses humanisasi karena yang berubah hanyalah nilai kemanusiaannya. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa manusia tetap manusia yang tidak bisa berubah dari kenyataan sebagai manusia. Ide pemanusiawian manusia di Dunia Barat muncul pada abad ke-13 sebagai sebuah aliran dengan nama Humanisme. Humanisme adalah filsafat kemanusiaan yang mengakui nilai dan harkat manusia dan menjadikannya sebagai dasar atau ukuran penilaian segala sesuatu. Lihat Nicola Abbagnano, “Humanism”, terj. Nino Langiulli, dalam Paul Edward (ed.), The Encyclopedia of Philosophy, Jilid III (New York: MacMillan, 1972), hlm. 69-70.

[2]Islam yang lahir pada abad ke-6 telah mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan. Moussa mengatakan, “Islam is the last of all the divine messages …. The nature of this messages must be of a kind that makes it fit for all humanity in every age, generation and time. LihatMuhammad Youseef Moussa, Islam and Humanity’s Need of It (Cairo: The Supreme Council for Islamic Affairs, 1379 H), hlm. 60. Misi Nabi Muhammad, pembawa ajaran Islam, adalah memberikan kasih sayang (rah}mat) kepada seluruh alam (Q.S. al-Anbiya>’/21: 107).

[3]Quoted from Aulus Gellius by Nicola Abbagnano, “Humanism”, terj. Nino Langiulli, dalam Paul Edward (ed.), The Encyclopedia of Philosophy, Jilid III (New York: Macmillan, 1972), hlm. 70.

[4]George R. Knight, Issues and Alternatives in Educational Philosophy (Michigan: Andews University Press, 1982), hlm. 82.

[5]John Dewey, Democracy and Education (New York: The Free Press, 1966), hlm. 344; Tokoh-tokohnya adalah Charles S. Peirce (1839-1914), William James (1842-1910) dan John Dewey (1859-1952). Lihat Knight, Issues and Alternatives, hlm. 60-1; Bertrand Russell,  History of Western Philosphy (London: Unwin University Press, t.t.), hlm. 770-1.

[6]Pragmatisme juga mempengaruhi rekonstruksionisme dan futurisme. Lihat Knight, Issues and Alternatives, hlm. 61, 66-68, 80.

[7]Knight, Issues and Alternatives, hlm. 82.

[8]Knight, Issues and Alternatives, hlm. 82.

[9]Nel Noddings, Philosophy of Education (Oxford: Westview, 1998), hlm. 59 dan 61; Knight, Issues and Alternatives, hlm. 73 dan 87. Perhatian eksistensialisme yang sangat tinggi terhadap emosi manusia inilah yang membedakannya dari perenialisme yang serius menekankan intelek (rasio).

[10]Roger Scruton, Sejarah Singkat Filsafat Modern: dari Descartes sampai Wittgenstein, terj. Zainal Arifin Tandjung, Jakarta: Pantja Simpati, 1984, hlm.   321.

[11]Sebenarnya pemikiran pendidikan yang memfokuskan peserta didik juga dikemukakan oleh teori perenialisme dan esensialisme yang muncul pada tahun 1930-an. Akan tetapi, baik teori perenialisme maupun esensialisme ini berbeda dengan teori humanisme. Pengikut perenialisme memunculkan teori pendidikan liberal yang berusaha mengantarkan peserta didik supaya bebas dan menjadi manusia sejati yang mampu melakukan tugas berpikir. Manusia membutuhkan pendidikan yang mengembangkan kemampuan rasional kemanusiaannya. Di sisi lain, penganut esensialisme memandang pendidikan itu menyesuaian hidup dan berpusat pada pencapaian kebenaran. Tugas utama pendidikan adalah mengajarkan ilmu dasar. Kurikulum harus dirancang untuk menanamkan ketrampilan kepada anak. Perbedaan antara perenialisme dan esensialisme seperti disarikan oleh George F. Kneller, adalah: bila dibandingkan perenialisme, esensialisme bersikap: (1) kurang memperhatikan intelektual dan kebenaran abadi serta lebih memperhatikan kebutuhan peserta didik, (2) lebih banyak menyerap metode pendidikan progresif, (3) kurang menghargai karya kalsik sebagai gagasan universal. Perenialisme ditujukan untuk perguruan tinggi, sedangkan esensialisme untuk sekolah dasar dan menengah. Penekanan kerja akal dalam perenialisme dan penekanan transfer ilmu dalam esensialisme inilah yang membedakan dari teori progresivisme. Perenialisme dan esensialisme merupakan pembaruan yang lebih spesifik atas teori pendidikan klasik dan tradisional sebagai bentuk reaksi terhadap teori progresivisme. Pendidikan tradisional, menurut Allan Ornstein, setidaknya ditandai dengan: (1) guru yang otoriter, (2) terlalu bertumpu pada buku teks, (3) belajar pasif dengan menghafal informasi, (4) terisolasai dari realitas sosial, (5) adanya hukuman untuk kedisiplinan. Lihat Knight, Issues and Alternatives, hlm. 77-78, 81-82, 91, 97, dan 98-101.

[12]“… istilah ‘pendidikan humanistik’ atau ‘pendidikan kemanusiaan’ sering dipakai secara bergantian dengan istilah ‘pendidikan afektif’. Namun demikian, istilah-istilah ini dan lainnya sering kali tidak memiliki makna yang komprehensif atau menyeluruh dan utuh, melainkan lebih mengarah pada makna atau pengertian pendekatan pembelajaran tertentu.” Lihat Abdul Munir Mulkhan, Nalar Spiritual Pendidikan: Solusi Problem Filosofis Pendidikan Islam, ed. Romiyatun (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002), hlm. 95. Istilah “humanis” berasal dari lafal populer Italia abad ke-15 yang berarti seorang guru besar dari studia humanitatis. Peter Levine, Nietzche dan Krisis Manusia Modern, terj. Ahmad Sahidah,  (Yogyakarta: Ircisod, 2002), hlm. 25.

[13]Knight, Issues and Alternatives, hlm. 87; John D. McNeil, Curriculum: A Comprehensive Introduction (London: Scott, Forseman-Little, Brown Higher Education, 1972),  hlm. 6.

[14]Y.B. Mangunwijaya, “Mencari Visi Dasar Pendidikan”, Sindhunata (ed.), Pendidikan: Kegelisahan Sepanjang Zaman (Yogyakarta: Kanisius, 2001), hlm. 160.

[15]Knight, Issues and Alternatives, hlm. 88.

[16]Paulo Freire, Politik Pendidikan: Kebudayaan, Kekuasaan, dan Pembebasan, terj. Agung Prihantoro dan Fuad Arif Fudiyartanto, Yogyakarta: Pustaka Pelajar & READ, 2002.  hlm. 190.  Konsep ini dilatarbelakangi oleh kenyataan masyarakat yang tertindas, penindasan bertentangan nilai-nilai kemanusiaan. Pendidikan harus meniadakan penindasan. Dalam kaitan ini, Paulo Freire menulis buku Pedagogy of the Oppressed, terj. Myra Bergman Ramos (New York: Penguin Books, 1972).

[17]M. Agus Nuryatno, Mazhab Pendidikan Kritis: Menyingkap Relasi Pengetahuan Politik dan Kekuasaan (Yogyakart: Resist Book, 2008), hlm. 6.

[18]Mastuhu, Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional dalam Abad 21 (Yogyakarta: Safiria Insani Press-Magiter Studi Islam UII, 2003), hlm. 136.

[19]Knight, Issues and Alternatives, hlm. 87.

[20]John S. Brubacher, Modern Philosophy of Education, New York: McGraws-Hill, 1981, hlm. 190-1.

[21]Zamroni, Pendidikan untuk Demokrasi: Tantangan menuju Civil Society (Yogyakarta: Bigraf, 2001), hlm.24.

[22]Frederick A. Olafson, “Humanism and Education”, dalam Lee C. Deighton (ed. in chief), The Encyclopedia of Education, Vol. 4 (USA: The MacMillan Company & The Fee Press, 1986), hlm. 519.

[23]Knight, Issues and Alternatives, hlm. 87.  Penekanan pada keunikan peserta didik menjadi pembeda dari pendidikan progresif yang cenderung berpikir tentang peserta didik sebagai bagian sosial.

[24]Pendapat Maslow ini disitir oleh Frank G. Goble, Mazhab Ketiga: Psikologi Humanistik Abraham Maslow, terj. A. Supratinya (Yogyakarta: Kanisius, 1997), hlm. 118-9. Bandingkan dengan Paulo Freire, Pendidikan sebagai Praktek Pembebasan, terj. Alois A. Nugroho (Jakarta:  Gramedia, 1984), hlm. 34.

[25]Abdurrahman Mas’ud, Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik: Humanisme Religius sebagai Paradigma Pendidikan Islam (Yogyakarta: Gama Media, 2002), hlm. 135.

[26]Bandingkan dengan Ali Syari’ati, Humanisme: antara Islam dan Mazhab Barat, terj. Afif Muhammad (Bandung: Pustaka Hidayah, 1996), hlm. 39.

[27]Knight, Issues and Alternatives, hlm. 93.

[28]Ibn  Jama>l al-Di>n Muh}ammad ibn Mukram Ibn Manz}u>r, Lisa>n al-‘Arab, Juz 1, dalam CD Maktabah al-Tafsi>r wa ‘Ulu>m al-Qur’a>n, Versi 1.5 (Urdun: al-Khat}i>b, 1999), hlm. 401 dan 405. Bandingkan dengan Ahmad Warson Munawir, al-Munawwir: Kamus Arab-Indonesia (Yogyakarta: Unit Pengadaan Buku-buku Ilmiah Keagamaan Pondok Pesantren al-Munawwir, 1994), hlm. 504, 636, 631, dan 1565.

[29]Sayyid Qut}b, Tafsi>r fi> Z{ila>l al-Qur’a>n, Juz 15 (Beirut: Da>r al-Ih}ya>’, t.t.), hlm. 15. Bandingkan dengan Q.S. al-Syu‘ara>’/26: 18.

[30]‘Abba>s Mah}ju>b, Us}u>l al-Fikr al-Tarbawi>y fi> al-Isla>m (Beirut: Da>r al-Fikr, 1987), hlm.  18. Al-Baidlawi> (791 H.), seorang ahli tafsir, menyatakan bahwa al-Qur’an memperkenalkan konsep pendidikan dengan istilah “tarbiyah”. Lihat Abdurrahman Umdirah, Metode al-Qur’an dalam Pendidikan, terj. Abdul Hadi Basulthanah (Surabaya: Mutiara Ilmu, t.t.), hlm. 13-14.

[31]Sebagaimana dikutip ’Abd al-Rah}ma>n al-Nah}lawi, Us}ul al-Tarbiyah al-Isla>miyyah wa Asa>libuha> fi> al-Bait wa al-Marasah wa al-Mujtama’ (Damsyiq: Da>r al-Fikr, 1996), hlm. 13-14. 

[32]Machasin, “Pendidikan sebagai Strategi Memberdayakan Umat”, dalam Pendidikan Islam dalam Peradaban Industrial (Yogyakarta: Aditya Media, 1997), hlm. 56-7.

[33]Syed Muhammad al-Naquib al-Attas, The Concept of Education in Islam: A Framework for an Islamic Philosophy of Education (Kuala Lumpur: ISTAC-International Institute  of Islamic Thought and Civilization, 1991), hlm. 28. Seyyed Naquib Alattas, Aims Objectives of Islamic Education (Jeddah: King Abdul Aziz University, 1977).

[34]Dewey, Democracy and Education, hlm. 10.

[35]Morris L. Bigge,  Learning Theories for Teachers (New York: Harper & Row, 1982), hlm. 239; Stephen L. Yelon  dan Grace W. Weinstein, A Teacher’s World: Psychology in the Classroom (London: McGraw-Hill International Book Company, 1977), hlm. 132-3.

[36]Konsep itu ditawarkan dalam konferensi dunia pertama mengenai pendidikan Islam di Makkah tahun 1971. Karena perubahan yang sangat mendasar, maka komite yang membahas cita-cita dan tujuan pendidikan dalam konferensi menerima tersebut secara kompromistis, yaitu “arti pendidikan secara keseluruhan terdapat dalam konotasi istilah tarbiyah, ta‘li>m dan ta’di>b yang dipakai secara bersamaan.” Al-Attas, The Concept of Education,  hlm. 34; Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib al-Attas, terj. Hamid Fahmy, M. Arifin Ismail, dan Iskandar Amel, ed. Abd. Syukur Dj. (Bandung: Mizan, 2003), hlm. 175. Al-Attas diakui Fazlur Rahman sebagai seorang pemikir ‘jenius’ yang dimiliki dunia Islam.

[37]Ta’di>b adalah pola mas{dar dari addaba-yuaddibu. Lihat Ibn Manz}u>r, Lisa>n al-‘Arab, Juz 1, hlm. 206

[38]Mus}t}afa> ibn ‘Abdullah al-Qust}anti>niy al-Rumiy al-H{anafiy, Kasyf al-Z{unu>n, dalam al-Maktabah al-Alfiyah li al-Sunnah al-Nabawiyyah, CD Program Versi 1.5 (Urdun: al-Khat}i>b: 1999), Juz 2, hlm. 1203. Hadis ini diterjemahkan al-Attas dengan: “Tuhan telah mendidikku dan menjadikan pendidikanku sebaik-baik pendidikan”. Al-Attas adalah orang pertama yang memahami dan mengartikan lafal “addabani>“ dengan “mendidikku”. Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan, hlm. 176. Nabi Muhammad dijadikan Allah sebagai pendidik yang terbaik didukung oleh al-Qur’an yang menyatakan kedudukan Rasulullah yang mulia dan teladan paling baik (Q.S. al-Ah}za>b/33: 21 dan al-Qalam/68: 4). Nabi menyatakan misi utama kerasulannya adalah penyempurnaan akhlak (H.R. Malik), dan memberikan rahmat (H.R. Muslim).

[39]Seperti dikutip Frank G. Goble, Mazhab Ketiga, hlm. 119.

[40]Freire, Politik Pendidikan, hlm. 190.  Konsep ini dilatarbelakangi oleh kenyataan masyarakat yang tertindas, penindasan bertentangan nilai-nilai kemanusiaan. Pendidikan harus meniadakan penindasan. Dalam kaitan ini, Paulo Freire menulis buku Pedagogy of the Oppressed, terj. Myra Bergman Ramos (New York: Penguin Books, 1972).

[41]Brubacher, Modern Philosophy, 190-1.

[42]Bandingkan dengan Kuntoro, “Sketsa Pendidikan Humanis Religius”, hlm. 5.

[43]Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi, ed. A.E. Priyono (Bandung: Mizan, 1998), hlm. 289.

[44]Azyumardi Azra, Pendidikan Islam: Tradisi dan Moderasi menuju Milenium Baru (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 4-5.

____________________

Hello world!

18 Nov

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.